Al-Jahiz: Pionir Ilmu Komunikasi Dalam Islam Yang Dilupakan

Ilmu komunikasi hari ini dikenal sebagai disiplin ilmu yang mapan, luas, dan dipelajari hampir di seluruh belahan dunia. Dalam perkembangannya, ilmu ini banyak dipengaruhi oleh pemikiran para akademisi Barat, terutama sejak awal kemunculannya sebagai ilmu publisistik. Mazhab Frankfurt, dengan tokoh-tokohnya seperti Max Horkheimer, menaruh perhatian besar pada pengaruh media massa dan propaganda terhadap masyarakat. Pendekatan ini menempatkan masyarakat sebagai sistem kolektif, bukan sekadar kumpulan individu, dan sangat dipengaruhi oleh pemikiran Marxisme Karl Marx.

Seiring waktu, terutama pasca Perang Dunia II, kajian ilmu komunikasi berkembang semakin pesat. Dinamika politik global, seperti Revolusi Bolshevik dan fenomena First Red Scare, mendorong Amerika Serikat mengembangkan kajian komunikasi yang berupaya menjauh dari pengaruh Marxisme. Dari sinilah aliran Chicago School muncul, dengan fokus pada pembangunan sosial dan pengelolaan problem urbanisasi. Pendekatan ini kemudian menjadi fondasi banyak teori komunikasi yang hingga kini diajarkan di perguruan tinggi Indonesia.

Namun, dominasi teori Barat dalam studi komunikasi sering kali membuat kontribusi tradisi keilmuan non-Barat terpinggirkan. Padahal, peradaban Islam memiliki khazanah pemikiran yang kaya dan relevan dalam memahami komunikasi, bahasa, dan interaksi sosial. Salah satu tokoh penting dalam tradisi ini adalah Al-Jahiz.

Dalam pemetaan pemikiran Islam, Dr. Harun Nasution membagi sejarah intelektual Islam ke dalam tiga periode besar: klasik, pertengahan, dan modern. Pembagian ini membantu memahami bagaimana gagasan tentang komunikasi berkembang dalam kerangka pemikiran Islam. Pada setiap periode tersebut, banyak cendekiawan Muslim yang membahas bahasa, retorika, dan interaksi sosial sebagai bagian dari kehidupan bermasyarakat.

Al-Jahiz, seorang ilmuwan dan sastrawan Muslim yang hidup pada abad ke-9 di Basra, merupakan salah satu tokoh penting dari periode klasik-semi pertengahan. Karyanya yang terkenal, Al-Bayan wa at-Tabyin, menjadi landasan awal kajian retorika, linguistik, dan komunikasi yang berakar pada nilai-nilai Islam. Karya ini tidak hanya relevan pada masanya, tetapi juga memiliki resonansi kuat dengan kajian ilmu komunikasi modern.

Dalam Al-Bayan wa at-Tabyin, Al-Jahiz membahas seni berbicara, teknik pidato, syair, debat, serta gaya bahasa sebagai elemen penting dalam komunikasi yang efektif. Ia melihat bahwa kemampuan merangkai bahasa secara retoris dan estetis tidak hanya memengaruhi kekuatan pesan, tetapi juga berperan dalam membentuk logika berpikir dan meneguhkan posisi sosial seseorang. Bahasa, bagi Al-Jahiz, bukan sekadar alat pasif, melainkan kekuatan aktif yang mampu membentuk struktur sosial.

Al-Jahiz menekankan pentingnya kejelasan (bayan) dan ketepatan (tabyin) dalam penyampaian pesan. Menurutnya, komunikasi yang baik menuntut kemampuan menyesuaikan gaya bahasa dengan konteks sosial dan karakter pendengar. Retorika tidak berdiri sendiri sebagai keindahan kata-kata, melainkan sebagai strategi agar pesan dapat dipahami secara efektif dan meyakinkan.

Pendekatan yang digunakan Al-Jahiz bersifat empiris dan kontekstual. Ia menyadari bahwa bahasa mencerminkan diri seseorang sekaligus memperkuat relasi kuasa dalam masyarakat. Dalam pandangannya, komunikasi selalu berkaitan dengan kekuasaan. Kemampuan berbicara dengan baik dan tanpa gangguan (noise) dapat meneguhkan wibawa dan legitimasi seseorang, sebagaimana raja karismatik yang mampu memengaruhi rakyatnya melalui tutur kata yang tertata.

Pemikiran ini memiliki keselarasan dengan teori-teori komunikasi modern. Gagasan Al-Jahiz tentang retorika dan struktur bahasa dapat disejajarkan dengan diskursus analisis wacana kritis yang berkembang saat ini. Bahkan, pemahamannya tentang gangguan dalam proses komunikasi memiliki kemiripan dengan model komunikasi Shannon-Weaver, yang menyoroti tantangan transmisi pesan akibat faktor internal maupun eksternal.

Selain dimensi teknis bahasa, Al-Jahiz juga menaruh perhatian pada aspek etis komunikasi. Ia menyatakan bahwa kebenaran dalam komunikasi tidak selalu bersifat tunggal, melainkan dipengaruhi oleh konteks sosial dan budaya. Menurutnya, tidak ada pemahaman antarindividu tanpa komunikasi, karena makna baru lahir ketika pesan disampaikan, diterima, dan dipahami. Dengan demikian, komunikasi berfungsi sebagai jembatan antar-pikiran, memungkinkan dialog, perdebatan, dan musyawarah dalam masyarakat.

Pemikiran Al-Jahiz menunjukkan bahwa peradaban Islam telah lebih dahulu merumuskan konsep komunikasi sosial yang menganalisis interaksi linguistik dan proses penyampaian makna. Karyanya menjadi bukti bahwa tradisi keilmuan Islam memiliki kontribusi historis yang signifikan terhadap perkembangan teori komunikasi modern.

Dari pemikiran Al-Jahiz, umat Islam masa kini dapat memetik pelajaran penting. Ia mengajarkan keterbukaan intelektual, kejernihan berpikir, dan etika dalam menyampaikan pesan. Komunikasi bukan hanya soal kefasihan, tetapi juga tentang tanggung jawab sosial dan pemahaman konteks. Dalam era arus informasi yang cepat dan narasi yang saling bertabrakan, gagasan Al-Jahiz menjadi semakin relevan.

Pada akhirnya, Al-Bayan wa at-Tabyin bukan hanya warisan intelektual masa lalu, tetapi juga sumber refleksi bagi studi komunikasi hari ini. Karya ini membuka ruang dialog antara teori komunikasi Barat dan tradisi keilmuan Islam, sekaligus mengingatkan bahwa komunikasi selalu berkaitan dengan kebenaran, kebijaksanaan, dan relasi manusia dalam masyarakat.

Foto: Ebahir/Pexels

Naskah: Muhammad Zaki Tasnim Mubarak

  8 Views    Likes  

Peneliti MIT: ChatGPT Bisa Bikin Otak Tak Aktif, Apa Solusinya?

previous post

Banyumas Ngibing 24 Jam Menari Menghidupkan Jati Diri
Peneliti MIT: ChatGPT Bisa Bikin Otak Tak Aktif, Apa Solusinya?

next post

Peneliti MIT: ChatGPT Bisa Bikin Otak Tak Aktif, Apa Solusinya?

related posts