Mustahil, tak ada jeda. Dari matahari terbit hingga malam menutup tirai, seakan setiap detik adalah perayaan. Lekuk tubuh yang menggemulai 24 jam bak harmoni semesta, menyilaukan mata dengan penuh rasa, seakan mengukir jati diri bangsa melalui seni ngibing secara nyata.
Kisah ini datang dari Kabupaten Banyumas, di mana selain terkenal dengan keunikan bahasa dan makanan khasnya, daerah ini juga populer dengan keragaman seni masyarakatnya. Seolah menolak surut digulung candu musik dan koreografi “impor”, Banyumas menegaskan kembali identitas daerahnya melalui sebuah pergelaran seni tari bertajuk “Banyumas Ngibing 24 Jam Menari”. Pergelaran yang berlangsung pada Jumat-Sabtu, 2-3 Mei 2025 di daerah Kota Lama, Kabupaten Banyumas ini, bukan sekadar panggung pertunjukan, melainkan selama 24 jam tanpa henti menjadi arena kesenian yang berdenyut bak nadi.
Di antara semilir angin pagi, saya menebus rasa penasaran berkeliling di sekitar Kota Lama Banyumas menyaksikan rangkaian event Banyumas Ngibing 24 Jam Menari. Di setiap sudut, tampak keramaian bak lautan manusia yang terhanyut dalam penampilan ngibing (dalam bahasa Jawa berarti menari) secara bergiliran. Tentu saja, Banyumas Ngibing 24 Jam Menari mempersembahkan pertunjukan seni dan budaya yang ditampilkan secara bergiliran di setiap titiknya. Disertai antusiasme masyarakat yang tinggi, event spektakuler ini terselenggara di beberapa titik, yaitu Alun-alun Kecamatan Banyumas, Jalan Pungkuran, Jalan Mruyung, Taman Sari, dan Pendopo Bale Adipati Mrapat. Event ini menjadi wadah kolaborasi seni baik tradisional, modern, maupun kontemporer. Keragaman seni budaya dalam acara ini bertujuan untuk mempererat hubungan, mengembangkan potensi dari berbagai komunitas seni di Indonesia.
Acara Banyumas Ngibing 24 Jam Menari melibatkan berbagai seniman untuk turut berpartisipasi. Tak ketinggalan seribu penari dari berbagai daerah juga unjuk gigi menampilkan berbagai tarian. Salah satu yang spesial dalam acara ini adalah terdapat empat penari yang mementaskan tarian selama 24 jam tanpa henti. Mereka ialah Fetri Utami asal Banyumas, ditemani rekannya yang berasal dari Cilacap bernama Dani S. Budiman dan Sulaiman, serta Irfan Nur Mahmudi asal Surabaya. Di sela-sela performanya, seorang narator menceritakan bahwa empat penari tersebut melambangkan Kiblat Papat Limo Pancer. Sebuah filosofi Jawa yang mengajarkan keselarasan dan keseimbangan antara papat (empat) penjuru mata angin, limo (lima) pusat segala aktivitas, dan pancer menjaga keseimbangan diri dalam kehidupan.
Saat malam mulai datang bagai selimut dingin yang menenangkan, iringan musik angklung bergemuruh di Jalan Pungkuran serasa menggelegar menembus angkasa. Semua mata tertuju pada dua sosok pria yang sedang menari ebeg. Tubuh mereka menggeliat mengikuti irama musik angklung yang bergemuruh seakan membangkitkan jiwa. Sementara itu, di sudut yang berbeda pandangan saya terpalingkan pada tiga penari lain di kejauhan. Mereka tampak mengayunkan tarian kontemporer dengan mimik wajah tenang dan lemparan gending yang mencekam, seakan menuangkan makna yang dalam.
Hiruk-pikuk penonton terus saya telusuri, hingga langkah ini terhenti pada sekelompok penari dari Sanggar Seni Sekar Santi. Dalam gemuruh musik, mereka bercerita tentang bagaimana mereka menampilkan tarian “Sradan Suci” dengan persiapan kurang lebih satu bulan.
“Tadi kita tampil membawakan tarian Sradan Suci, tarian yang melambangkan penyucian diri serta permohonan berkah melalui tradisi lokal. Persiapan kita dengan jumlah 76 penari lain untuk mengikuti acara ini, kurang lebih satu bulan. Pasti ada kesulitannya, apalagi latihan dengan waktu yang singkat,” ucap Gendis, salah satu penari dengan aksen ngapaknya yang khas.
Di antara deru iringan musik yang membelah keheningan, saya melangkahkan jejak ke Pendopo Bale Adipati Mrapat. Di tengah perjalanan, derap langkah para pemuda terlihat berlalu lalang mengenakan pakaian seragam, seolah berbicara menyatukan mereka dalam satu tujuan. Ya, mereka ialah volunteer dalam acara ini, saling gotong royong bersinergi mengondisikan pertunjukan agar para penonton terhanyut dalam penampilan. Salah satu relawan yang merupakan penggagas acara bernama Rianto, tampak berjalan di belakang panggung. Bertindak sebagai pemantik acara, Rianto membuktikan kiprahnya sebagai penyandang gelar “Maestro Lengger”. Rianto adalah seorang pegiat Seni Tari Lengger asal Banyumas. Ia mencintai dan berlatih tari sejak usia tujuh tahun, hingga ia berhasil membawa tariannya ke kancah internasional. Tak heran jika ia meracik acara ini dengan penuh rasa agar dapat mengenalkan kepada generasi muda akar budaya mereka sendiri. Selain itu, ia juga tetap membawa nilai pendidikan dalam acara ini.
“Saya ingin menumbuhkan kecintaan di hati generasi muda terhadap eksistensi budaya lokal. Kita bersama-sama memperingati Hari Tari Sedunia yang jatuh pada tanggal 29 April dan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei. Kita satukan dua peringatan ini supaya generasi muda meningkatkan rasa cinta pada budaya serta tidak melupakan nilai-nilai pendidikan yang ada di dalamnya. Semoga dengan hal ini, Banyumas akan menjadi kabupaten yang lebih maju,” ujar Rianto.
Penampilan bergilir terus ditampilkan dalam acara ini. Meski terhanyut dalam pertunjukan, para penonton tak memalingkan pandangan dari sambutan yang dibawakan oleh Ketua DPRD Banyumas.
“Saya merasa bahagia anak muda kita punya kegemaran mengapresiasi seni. Saya berharap kita semua bisa bersinergi, mengembangkan budaya kita supaya menjadi jati diri yang sebenarnya-benarnya. Inilah jati diri Banyumas, dengan seni dan kreativitasnya,” ucap Bapak Subagyo selaku Ketua DPRD Banyumas, salah satu tokoh yang turut berperan menyukseskan acara ngibing.
Semua kalangan tak hanya menikmati rangkaian acara ngibing, tetapi juga berkontribusi, berpartisipasi, dan bersinergi nyata dalam acara ini. Rangkaian event ini menjadi bukti bahwa kesenian dan kebudayaan lokal menjelma menjadi ruang untuk membangun kebersamaan, merangkul perbedaan, dan menumbuhkan rasa cinta terhadap jati diri daerah. Serpihan demi serpihan potensi terpancar cerah pada generasi muda. Sikap gotong royong, berkebinekaan global, kreatif, dan berkreasi, secara tak sadar sudah mencerminkan karakter Profil Pelajar Pancasila.
Ternyata, rangkaian pergelaran ini bukan sekadar perayaan simbolik, melainkan mencerminkan citra generasi emas sebagai penerus bangsa kelak dengan karakter kreatif, inovatif, inklusif, dan adaptif yang terbangun pada acara ini. Kesenian dan kebudayaan menjadi penopang kokohnya kehidupan bangsa, menjelma menjadi lentera, menerangi jalan generasi bangsa menuju masa depan untuk mencapai Indonesia emas.
Sekali lagi, generasi yang mencintai kesenian dan kebudayaan lokal adalah harapan bangsa untuk mengenalkan dan menciptakan jati diri negeri. Jika bukan generasi emas, penerus bangsa kelak. Lantas, siapa lagi?
previous post
Banyumas Ngibing 24 Jam Menari Menghidupkan Jati Diri