Indonesia dikenal sebagai negara yang sopan dan santun. Bahkan, untuk melakukan hal-hal kecil saja, kita sering merasa perlu meminta izin lebih dulu.
Sejak kecil, saya sering mendengar orang tua bilang bahwa bangsa kita itu berbeda. Orang Indonesia katanya ramah, lembut, dan penuh tata krama. Kita bangga disebut bangsa yang sopan. Tapi jujur, kadang saya sendiri bingung, apa benar kita sopan karena tulus, atau karena takut dibilang tidak sopan?
Pertanyaan itu terus muncul sampai suatu hari di kantin kampus. Saya lagi beli ayam geprek, dan sambil nunggu, saya dengar beberapa teman ngobrol di belakang saya.
“Mohon izin ya, aku baru nimbrung sekarang.” “Siap, gapapa.” “Eh, aku izin dulu ya, mau beli makan.”
Saya tersenyum, tetapi dalam hati bertanya, sejak kapan kita harus izin untuk hal-hal normal seperti ini? Bukankah ngobrol atau nimbrung di percakapan teman itu hal wajar? Rasanya kayak kita seolah hidup di dunia yang semuanya harus pakai aturan dan persetujuan. Ketika ibu penjual ayam menyerahkan uan, beliau memberi kembalian sambil berkata, “izin berikut kembaliannya ya,” disitu saya makin yakin, ada yang berubah dari cara kita berbicara.
Kata-kata seperti izin, siap, dan mohon izin sekarang muncul di mana-mana. Di warung, di grup WhatsApp, bahkan di antara teman sebaya. Dulu kata-kata ini cuma dipakai di kantor atau dunia militer. Sekarang, mereka sudah jadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Awalnya saya pikir ini hal baik, itu tanda sopan santun. Tapi makin sering saya dengar, makin terasa ada jarak yang terbentuk. Sesuatu di balik kata-kata itu bikin saya merasa... masyarakat kita sedang berubah tanpa sadar.
Realitas Masyarakat Kita
Menurut saya, kebiasaan ini menarik karena menggambarkan cara berpikir kita. Banyak yang menganggap ucapan “mohon izin” itu bentuk kesopanan. Tapi coba bayangkan: kalau seseorang bilang “mohon izin, saya tampar kamu”, apakah kalimat itu tetap sopan? Tentu tidak. Jadi jelas, kesopanan itu bukan soal kata-kata, tapi niat di baliknya.
Kalau dipikir lebih dalam, mungkin ini karena kita masih hidup dalam budaya yang takut salah. Takut dibilang kasar. Takut terlihat tak tahu aturan. Bahasa yang seharusnya membuat kita bebas justru malah membatasi diri kita sendiri.
Saya pernah membaca tulisan seorang mahasiswa linguistik, Bowo Laksono tentang fenomena “mohon izin” ini. Ia bilang, frasa ini bisa dilihat dari tiga sisi: kesopanan, gaya bahasa, dan pengaruh militer.
Dari sisi kesopanan, “mohon izin” memang menunjukkan rasa hormat. Dari sisi gaya bahasa, ia membuat kalimat lebih halus. Tapi dari sisi budaya militer, kata-kata ini mencerminkan cara bicara yang penuh izin dan kepatuhan, bahkan di kehidupan sipil. Dan di sinilah saya mulai merasa, barangkali tanpa sadar, kita sedang memindahkan nilai-nilai dari ruang formal ke ruang sehari-hari.
Militerisasi Budaya Sipil
Dari sini saya mulai paham, “mohon izin” bukan hal yang salah. Ia tumbuh dari budaya sopan santun yang kuat. Tapi kalau dilihat dari perjalanan sosial, gaya bicara ini juga terbentuk karena pengaruh militer yang makin sering muncul di ruang publik.
Beberapa tahun terakhir, bahasa dengan nuansa “siap” dan “mohon izin” makin sering kita dengar. Bukan cuma di acara resmi, tapi juga di dunia kampus, media, bahkan percakapan ringan. Mungkin ini karena kita terbiasa melihat gaya komunikasi seperti itu dari tokoh-tokoh publik yang berlatar militer, atau dari tayangan yang menunjukkan cara bicara yang serba disiplin.
Padahal, kalau ditelusuri, pengaruh ini sudah ada sejak lama. Buku Tradisi TNI AL (2020) mencatat bahwa istilah “mohon izin” sudah lama diterima sebagai bentuk komunikasi sopan. Lama-lama, kebiasaan itu melebur dalam bahasa masyarakat umum dan dianggap wajar.
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan kata “mohon izin”. Tapi saya jadi bertanya-tanya, apakah kita benar-benar sopan, atau hanya mengikuti kebiasaan di masyarakat tanpa berpikir maknanya? Karena kadang, saat kita terlalu sering memakai bahasa yang “berjarak”, kita malah ikut melanggengkan cara pandang yang hierarkis, bahwa ada yang lebih tinggi, dan ada yang harus patuh.
Sopan itu penting. Tapi menurut saya, sopan yang sebenarnya itu bukan soal kata izin atau kata yang lembut. Sopan itu saat kita bisa jujur tanpa menyakiti, dan menghormati tanpa harus merendahkan diri. Dan mungkin, di situlah letak tantangan terbesar bagi kita yang tumbuh di budaya “mohon izin” ini, berani bicara dengan hormat, tapi juga dengan percaya diri.
(Foto: Specna Arms/Pexels)
previous post
Ketika Diam Lebih Jujur daripada Banyak Kata