banner

CERITA PENDEK "PEDANG DAN KASIH SAYANG"

Trriiiiing!!!! Seketika aku terhempas ke realita hidup oleh bunyi alarm yang memekakan telinga, yang telah menyadarkanku untuk bersegera berbenah diri, mempersiapkan raga ini untuk menghadapi poros kesibukan duniawi. Bagiku yang masih mahasiswa  kuliahlah kesibukan itu, menata diri serta membangunkan semangat guna berangkat menuju kampus dengan tujuan mulia memperdalam ilmu, serta menyongsong masa depan yang gemilang adalah tanggungjawabku. Aku menyusun schedule kuliah berdasarkan pertimbangan yang matang, di mana 4 hari  untuk membabat 24 sks mata kuliah dan sisanya untuk fokus berorganisasi. Ya….selain sebagai mahasiswa, tepatnya mahasiswa hukum  semester 5 aku juga seorang aktivis, aktivis yang menginginkan keadilan dan penghormatan bagi semua rakyat tanpa memandang pangkat dan kedudukan. Untuk itulah aku selalu menyempatkan diri untuk selalu berkunjung ke perpustakaan untuk menambah wawasan.

Pada hari ini, kuliah selesai lebih cepat dari biasanya, sebab para dosen sedang mengadakan rapat. Akupun memanfaatkan waktu untuk bergegas menuju perpustakaan mencari buku favoritku tentang keadilan, setelah menemukannya aku langsung membacanya. Namun ketika aku sedang asyik membaca buku tersebut, tiba-tiba aku dikagetkan dengan bunyi hentakan kaki di lantai, yang membuyarkan konsentrasiku, akupun langsung menoleh ke belakang dan ternyata itu ulah temanku sendiri, Airin namanya.

Dengan suaranya yang serak dia bertanya “Sedang baca buku apa ? fokus banget ” dengan masih menutup mulutnya yang menahan tawa. “You Knowlah buku Favoritku…..” dengan senyum tersimpul di pipi aku menjawab pertanyaannya.  Selanjutnya akupun menimpalinya dengan sebuah  pertanyaan “Ngapain kamu di sini? Gak biasanya…” dia langsung memotong perkataanku “Eiiitss..gue kan sering kesini.. gimana sih loe? ngajakin berantem?” dengan nada yang agak ditinggikan dan dahi yang dikerinyitkan. “Wkwkwkwkwkwk” Akupun tertawa.

Airin menyahut “Iihhh.. Malah ketawa”

Sebenarnya aku paham  jika dia memang sering ke perpustakaan, tapi aku hanya ingin menggodanya karena melihat ekspresinya yang marah malah membuat diriku tertawa, aku bisa membayangkan wajahnya ibu sinchan. 

“Iya-iya…Aku cuma bercanda kok.. Ngapain tadi ngagetin aku?..Udah tau lagi baca, hmm bikes” Celetukku.

“Enggak ngapa-ngapain sih..Cuma mau godain calon presiden, wuakakakakaka” Jawabnya

“Walah…Sip Aamiin, makasih doanya rakyatkuhh” sahutku. Diapun langsung duduk di sampingku dan mengeluarkan buku tulis, pulpen dan buku bewarna biru dari tasnya. Akupun bertanya “Buku apaan itu? sepertinya bagus?”, “Ini buku tentang lingkungan hidup…kontennya tentang kerusakan lingkungan, dampaknya, upaya penanggulangan serta penyebabnya” jawabnya sambil membuka buku itu. “Itu membahas Indonesia juga gak?” tanyaku lagi. Diapun menjelaskan lebih lanjut “Iya..Buku ini sample penelitiannya di Indonesia, kayak Kepulauan Seribu, Slum Area di Jakarta, Hutan Sumatra dan Kalimantan”. “Oalah Oke” jawabku. Akupun melanjutkan membaca buku setelah terhenti tadi, sedangkan Airin membaca bukunya dan sesekali mencatat poin-poin yang ada di bukunya.

“Bumi…Indonesia…Manusia….Pelaku Usaha… Lingkungan….Pembangunan Berkelanjutan …. Kemusnahan generasi mendatang …. “ beberapa kata yang sering terucap dari bibir Airin yang sedang  membaca.

“Apa hakikat dari keberadaan Manusia ?,  mengapa kita yang dibekali akal pikiran masih melakukan perbuatan yang merusak lingkungan ? padahal kita tau masih ada kehidupan di masa mendatang ?.... Jawab pertanyaanku dengan serius” Pinta Airin dengan muka serius.

Akupun melipat halaman terakhir buku yang ku baca, sambil menghela napas aku menengok kearahnya dan akupun mulai mengeluarkan pandanganku sebagai seorang insan “Manusia… Manusia itu aku artikan sebagai makhluk yang indah... makhluk yang cerdas... berakal... naïf… licik… dan terkadang sembrono bahkan adakalanya merasakan  takut dan sedih.. bersikap penuh kasih dan menyimpulkan benci di tindakannya.. memendam dendam dan cintanya pada seseorang… ya manusia itu seperti itu di mataku”

 “Bagus…lanjutkan” Puji Airin pada ku

Akupun melanjutkan “Manusia itu layaknya anak panah, aku menganalogikannya seperti itu dengan berbagai alasan.. dan alasan inipun sebenarnya juga menjadi titik balik bagi kita untuk menjawab pertanyaan tentang hakikat keberadaan manusia di muka bumi, dan untuk hal itu mari kita memikirkan ulang bagaimana anak panah bisa tertancap pada titik bidiknya….?”

“Anak panah bisa sampai pada titik bidik karena ada dorongan dari tali busur” Jawaban Airin yang memotong perkataanku.

“Benar tapi masih belum sempurna.. masih ada beberapa faktor lagi yang membuat anak panah bisa menghujam bidikannya”

“Apa saja ?” Tanya Airin

“Angin dan Busur itu sendiri…” Jawabku

“Hah…Angin?” Ucap Airin dengan penuh keheranan

“Iya Angin…. Tanpa angin, anak panah tidak mungkin bisa sampai pada titik bidiknya … tanpanya pula pergerakan anak panah bisa tak terkendali.. dan untuk mengendalikannya maka anginlah yang bertanggungjawab, hal itu sama halnya dengan manusia, manusia akan bertindak sembrono dan merugikan jika tidak ada akal yang mengontrol hawa nafsunya… selain itu, tanpa hati manusia akan hilang kesadaran akal sehatnya.. 2 hal ini yang membuat manusia bisa bertindak sesuai kodratnya  yaitu sebagai Khalifah Bumi “

“Lantas apa tugas manusia sebagai khalifah? dan jika kita mengkorelasikannya dengan manusia Indonesia seperti apa ?” Tanya Airin yang mulai penasaran

“Memakmurkan… menyejahterakan dan memeliharanya.. itu tugas manusia sebagai seorang khalifah, dan jika kita mengkorelasikannya dengan manusia di Indonesia tentunya manusia atau rakyat Indonesia bertanggung jawab pula untuk melindungi kekayaan alamnya… menyejahterakan setiap komponen alam yang ada, dan memakmurkan rakyat secara berkeseimbangan, memikirkan pemenuhan kebutuhan harian yang memerhatikan keberlangsungan alam” jawabku. Akupun melanjutkan “ Kamu tau mengapa alam indonesia bisa rusak ?”

 “Alam rusak karena sebagian manusia di Indonesia tamak, mengutamakan kekayaan pribadi atau mungkin menjunjung tinggi kapitalisme, dan mengesampingkan penerapan ideologi Pancasila… Terkhususkan pelaku usaha yang nakal, yang hanya memikirkan keutungannya semata… mengesampingkan aspek pembangunan berkelanjutan dan hidup generasi mendatang” Jawabnya

“Benar... tapi ada satu kesamaan ?”  Jawabku dengan senyum tersimpul di wajahku yang agak berkeringat karena AC yang tiba-tiba mati di perpustakaan.

“Apa itu ?”  Tanyanya lagi. “Baik aku akan menjawab….tapi mula-mula kita harus ke luar dulu sini panas banget… lumer deh “ Ucapku dengan mengusap teringat yang deras mengalir di dahi

“Hmmmm… baik deh “ Jawabnya

Kami pun membereskan barang bawaan yang sempat kami keluarkan dari dalam tas dan bergegas keluar dari perpustakaan. Lantas aku menengok ke arah jam tanganku yang sudah menunjukkan pukul 12.15 yang artinya kami harus menunaikan ibadah sholat dzuhur terlebih dahulu. Setelah keluar, kamipun menuju mushola yang terdapat di samping perpustakaan dan melaksanakan sholat berjamaah. Setelah selesai kamipun menuju kantin kampus yang menjadi tempat favorit ketigaku setelah kampus dan perpustakaan. Kantin langgananku itu nampak sepi, hanya ada 3 mahasiswa yang sedang makan siang.

“ Lapar nih pesan bakso sama jus mangga yuk” Ajakan ku

“Oke..” Airinpun memanggil Pak bone pengurus kantin sekaligus pelayan, pak bone pun menghampiri kami sambil membawa kertas dan pulpen untuk mencatat pesanan. “Pak bon.. pesan bakso 2, jus mangga 1 sama jus alpukat 1 yakh” ucap Airin. “Siap ndan…” Ucap Pak bone

“Pak bon, kok sepi sih kantinnya…. Biasanya rame” Tanyaku

 “Kata mahasiswa yang ke sini, banyak yang langsung pada pulang duluan.. soalnya para dosen rapat katanya sih” Jawab Pak bone

“Oalah.. iya pak..dosen pada rapat buat Akreditasi Universitas” Jawabku

“ Oke deh.. semoga lancar rapatnya.. dapat akreditasi A lagi nih Univ” Jawab Pak bone sambil bergegas membuatkan pesanan

“Aamiin” Aku dan Airin mengamininya secara bersamaan

Sambil menunggu pesanan datang, Airinpun memintaku untuk melanjutkan pandangan “Gimana yang tadi? lanjutkan”. “Oke aku lanjutin… ada satu kesamaan dari jawabanmu tadi yaitu dorongan… iya dorongan, mungkin kamu masih ingat ucapanku tadi yang menganalogikan  manusia seperti anak panah, ada satu hal lagi yang belum sempat aku jelaskan tadi....yaitu Busur”

“Lantas apa hubungannya busur dengan analogi manusia tadi??” Tanya Airin dengan agak ngegas

“Sabar…Sabar..mohon tenang.. ada Ujian” Candaku

“ayolah udah penasaran nih…” Pinta Airin

“Hmmm…Oke aku bakalan jawab, tapi setelah pesanan tadi aku habisin tak bersisa…”  ucapku. Setelah itu Pak bonepun datang membawakan 2 mangkuk pesan, yang mana masing-masing  berisi 2 tahu putih, bihun, 4 bakso kecil dan 1 bakso ukuran besar dilengkapi dengan irisan daun bawang, seledri serta bertabur bawang goreng yang melimpah di atasnya, menggugah selera bagi siapapun yang melihatnya.

“Ini pesanannya two bowl meatballs, one mango juice and one avoccado juice….ready to eat” ucap pak bone yang membuat kami berdua tertawa terpingkal-pingkal

“Ahahahahaha… Pak bon ikut kursus di mana.. kapan-kapan ajakin kita dongs” Godaku

“Hahahaha… iya pak bon ajakin kami dong” Tambah Airin

“Idiihh… nyindir nih…ahahahahaha” Pak bone

“Enggak pak, ini serius kok… “ Ucapku

“Otodidak aja kok.. baca dari kamus…” Jawab Pak bon

“Wihh mantap nih patut di tiru… semangatnya pak bon ini bakalan bermanfaat apalagi sekarang ini banyak mahasiswa asing yang kuliah di sini jadinya pak bon bisa deh promosiin dagangannya ke mereka… tapi harganya pakai rupiah loh pak.. kasian kalo mereka harus bayar pakek dolar bisa-bisa bangkrut” ucap Airin

“ya pastilah.. bapak milih jujur daripada kaya tapi hasil dari meras keringat orang lain.. oh ya pak bon tak pergi ke belakang dulu.. mau nyuci piring sama gelas tadi” jawab pak bon dengan senyum tersimpul di mukanya yang nampak letih bekerja. “Oke pak…semangat 45 yakh..” Dukungan dariku kepada pak bon.

Setelah itu kamipun langsung menyantap hidangan yang pak bone sajikan, rasa baksonya begitu enak, kuahnyapun begitu terasa, membuat aku dan Airin lahap memakannya sampai sendokan terakhir. Begitu pula dengan jusnya yang begitu segar dan manis dari buahnya seketika menghilangkan dahaga yang ada. Setelah selesai makan siang kamipun melanjutkan diskusi tadi di Kantin.

“Baik aku akan melanjutkan…. Busur itu penting untuk membuat tali bisa melontarkan anak panah, tanpanya tali hanyalah sekedar tali, yang tidak memiliki tempat untuk terikat dan bermanfaat, tali akan bermanfaat jika ada yang mengikatnya di ujungnya…begitu pula manusia, tanpa keimanan hidup manusia layaknya kapal yang terombang-ambing di lautan tanpa tujuan yang pasti, dan untuk menghindari hal itu, manusia perlu untuk meningkatkan keimanannya, menjadikan dirinya berguna di masyarakat, mencegah dorongan kemunkaran mengendalikan diri sehingga manusia akan bermanfaat bagi sesamanya.. dan pada akhirnya akan memberikan tujuan yang pasti sebagai khalifah di muka bumi” Jawabanku. Airinpun kemudian mengambil tisu dan mengelap mukanya yang berkeringat habis makan, dan diapun bertanya kembali “Mantap sekali jawabanmu.. tapi bagaimana kehidupan generasi mendatang di Indonesia..Jika generasi sekarang tidak mau memerhatikan lingkungan? Bersikap acuh dan hanya mementingkan kepentingan pribadi ?” Akupun langsung menjawabnya “Hidup generasi Indonesia mendatang masih menjadi misteri.. dan kemungkinan-kemungkinan yang ada di buku birumu bisa saja terbantahkan, jikalau kita generasi sekarang mau  mengubah  mindset yang ada, untuk membenahi diri, memperbaiki sikap kita kepada alam, bagaimanapun alam adalah sama dengan kita yaitu buatan Allah, dan memastikan hidup generasi indonesia mendatang  menjadi tugas kita bersama sebagai komponen bangsa indonesia”. “Benar jawabmu.. lantas bagaimana kita yang mahasiswa ini bisa berperan untuk generasi Indonesia mendatang ?” Tanya Airin kembali

“Bagus sekali pertanyaanmu… dan pertanyaan itupun menjadi tugas kita sekarang ini. Mungkin kamu sering mendengar mahasiswa adalah agent of change atau biasa disebut agen perubahan dan itupun menurutku benar, kita sebagai mahasiswa bisa mengubah pola destruktif yang ada dalam masyarakat Indonesia dengan merefleksikan kembali nilai-nilai luhur yang ada pada Pancasila dan mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Dan nilai Pancasila yang terdiri dari nilai ketuhanan, kemanusiaan, kesatuan, kerakyatan dan keadilan, adalah laksana pedang yang founding fathers berikan kepada generasi kita untuk menebas sikap destruktif yang akan merugikan hidup generasi mendatang, sekaligus hal itu adalah ungkapan sayang generasi terdahulu kepada generasi selanjutnya..” Jawabku

“Wah hebat sekali yakh, para generasi indonesia terdahulu ternyata begitu menyayangi generasi mendatang.. dan aku harap seluruh rakyat indonesia dapat memaknainya dengan benar dan menghormatinya sebagai ideologi bangsa… Akupun juga punya gagasan, dan gagasanku adalah perlu adanya sinergisitas antara pemerintah, pelaku usaha dan masyarakat untuk menjaga eksistensi lingkungan indonesia.. yaitu dengan merealisasikan kebijakan Corporate social responsibility yang tentunya akan memberikan dampak positif bagi kehidupan generasi mendatang….oh ya makasih udah mau diskusi dan menjawab pertanyaanku.. kamu sahabat terbaik… ” Ucapan  Airin yang menandakan diskusi kami hari ini telah selesai.

  0 Views    Likes  

banner
Nasionalisme di Generasi Milenial

previous post

Mengenal Lebih Jauh Tentang Taijiquan
Nasionalisme di Generasi Milenial

next post

Nasionalisme di Generasi Milenial

related posts