banner

cerpen " Rabu Wekasan Hidup Untukku"

Gemuruh suara ledakan senjata api terdengar memenuhi pusat kota surabaya kala itu. Berkacau dengan seruan gempar penuh semangat juang para pemuda Indonesia yang tengan melawan sekerumunan tentara Inggris. Menteri menjelma bagai saksi dalam konfrontasi berdarah yang melenyapkan berlacak korban jiwa pada 10 November itu. hari itu bertepatan pada hari Rabu terakhir bulan safar atau yang lebih dikenal dengan Rabu wekasan. Kononmasyarakat Jawa beriktikad bahwa Rabu Wekasana adalah hari kemunculan beragam penyakit dan malapetaka. Tepat hari itu pula lahirlah seorang anak laki- laki dari pasangan masyarakat sipil yang kemudian diberi nama Sutomo,Terinspirasi dari nama seorang perwira di era itu.

"Sutomo...muga-muga kegigihanmu padha kaya  Bung Tomo lanyangan takdirmu senantiasa becik mbasi kowe lair neng Rabu Wekasan nak" ujar Siti denagn getir seraya membelai pipi anak itu.

 

"Buk sabecike awake dhewe gati nggoleke panggon sing aman kanggo sutomo sadurung tentara teka kekene!" ucap Joko tergesa-gesa

 Detik itu segenap masyarakat sipil di Surabaya didesak berimigrasi ke kawasan lain oleh tentara inggris untuk dijadikan tawanan. Terpaksa Siti dan Joko meniggalkan Sutomo di ambang pintu sebuah gerai besar kepunyaan salah satu orang tersohor kaya kala itu, berharap semoga pemilik gerai menjumpai seorang bayi yang tengah menangis di depan gerai mereka, terselip secarik kertas disisi bayi itu yang bersuratkan "Surabaya, 10 November 1945, Rabu Wekasan, Sutumo". Mereka  bersedia membesarkan bayi tersebut. Sutomo pun menjelma menjadi pemuda perkasa walaupun ia harus didiagnosa menderita penyakit agenesis,diaman pengidapnya hanya memiliki satu ginjal untuk bertahan hidup.Selang beberapa tahun, usaha mereka mengalami mengalami kerugian dan mereka jatuh miskin.

 

"Semua ini disebabkan olehmu Sutomo! Semenjak kami memungutmu, Kemalangan selalu menimpa keluarga kami!" gerutu susi, ibu angkat Sutomo

Sejak kecil Sutomo selalu menerima celaan dari ibunya itu, susi kerap mengatakan jikalau Sutomo adalah anak pembawa sial karena ia lahir di rabu Wekasan. sutomo pun telah mengetahui sebenarmya ia hanyalah seorang anak angkat. Hanya Slamet, ayah sutomo yang menyayangi Sutomo sepenuh hati sejak kecil.

"Ayah... mengapa ibu selalu memanggilku anak pembawa sial" buncah Sutomo memotong pembicaraan.

"Sebenarnya dulu ketika kami menemukanmu, orang tua kandungmu menulis catatan dan mengungkapkan kalau kamu itu lahir pada Rabu Wekasan"

"Rabu Wekasan? hari apa itu ayah dan apa hubungannya dengan anak pembawa sial?"

: Konon ini adalah datangnya 320.000 sumberpenyakit dan 20.000 malapetaka, Sebagaimana orang kala itu yakin barang siapa yang lahir pada Rabu Wekasan akan selalu memperoleh dan menurunkan sial terhadap orang disekelilingnya tetapi kamu tak perlu risau nak sebab suratan takdir setiap makluk telah dittentukan oleh yang Mahakuasa" tutur Slamet menyakini Sutomo

Beberapa tahun kemudia Sutomo memperlihatkan kepada ibunya kalau ia juga bisa memberikan keberuntungan untuk keluarganya, ia dinobatkan sebagai lulusan terbaik disalah satu universitas ternama luar negri. Mendengar perkara itu Slamet amat bangga terhadap Sutomo, sedangkan ibunya masih kukuh memusihi anak itu, namun susi terdesak menyetujui kemauan suaminya untuk menyusul sutomo ke california dalam upacara keulusan yang kebetulan ulang tahun sutomo. Namun Kegembiraan tersebut tidak berdiam lama selepas Sutomo mendengar desas desus perkara jatuhnya pesawat yang membawa orang tuanya. Ayahnya dikabarkan tewas, sedangkan ibunya berada dalam keadaan kritis.

"Dok, bagaimana keadaan ibu saya?" panik sutomo 

"Ibu anda kehilangan banyak darah dan mengalami kerusakan pada salah satu ginjalnya" ucap dokter penuh prihatin

Hati utom remuk berkeping keping, pikirannya kalut, air matanya luruh membasahi pipinya. Bagaimana tidak? di hari yang amat bermakna baginya kali ini, ditinggalkan oleh seorang yang amat ia kasihi. Sutomo merutuki dirinya sendiri sebab ialah yang menjadi alasan mengapa orang uanya menumpangi pesawat tersebut.

"Dok, dimana suami saya?" tanya susi selepas terbangun dari koma panjangnya.

" Ibu Susi.... suami anda ditemukan meninggal saat kecelakaan 2 bulan lalu" ucap dokter dengan keadaan prihatin 

Susi tak bisa menaan tangisnya "inalillahi...." 

"Dan anak ibu, Sutomo, dia lah yang bersedia mendonorkan darah dan ginjalnya kepada ibu karena ibu mengalami kerusakan pada ginjal" imbuh dokter

Susi kalang kabut, ia sangat menyesal atas segala perlakuannya selama ini kepada Sutomo. Diakhir hayatnya Sutomo ingin menunjukkan kepada ibunya bahwa kemalangan maupun keberuntungan tak pernah berakar pada hari, tanggal ataupun tahun kelahiran dari seseorang. Sutomo yang dijuluki sebagai anak pembawa sial lantaran terlahir di Rabu Wekasan menyelamatkan nyawa ibunya dengan mendermakan satu satunya yang ia miliki. kini Sutomo telah tenang bersama ayahnya di alam sana. Sutomo yakin bahwasanya setiap garis hidup manusia telah digariskan oleh sang kuasa.

 

                                                                   BERSAMBUNG....       

  0 Views    Likes  

banner
10 Langkah Membangkitkan Kegeniusan Mengelola Uang ala Robert Kiyosaki

previous post

Gaya Hidup Sehat di tengah pandemi covid-19
10 Langkah Membangkitkan Kegeniusan Mengelola Uang ala Robert Kiyosaki

next post

10 Langkah Membangkitkan Kegeniusan Mengelola Uang ala Robert Kiyosaki

related posts