banner

KEBUDAYAAN BARONGSAI

China adalah salah satu Negara di dunia  yang terkenal dengan beragam kebudayaannya, salah satunya adalah Barongsai.  Barongsai merupakan salah satu jenis seni pertunjukan yang terpusat pada olah gerak tubuh (tari dan bela diri atau akrobatik). Menggunakan kostum singa dan gerakannya mengikuti hentakan nada dan ritme yang dihasilkan oleh pemain musik.

Dulunya pertunjukan barongsai dimainkan saat Peringatan Hari Besar China seperti Perayaan Imlek dan juga Peringatan Hari Besar Nasional ( PHBN ) misalnya pada saat Peringatan malam pergantian tahun baru mahesi dan lainnya. Namun sekarang kebudayaan barongsai kerap kita jumpai dalam berbagai daerah, misalnya di kota Tangerang pementasan barongsai dijadikan sebuah perlombaan atau sebagai kegiatan untuk membersihkan desa atau kecamatan.

Kesuksesan dalam pelestarian kebudayaan barongsai tentunya tidak terlepas dari adanya komunikasi yang sangat tepat antar para pemainnya sehingga masyarakat bisa tertarik untuk melestarikan. Keselarasan yang terlihat pada barongsai  juga salah satu faktor yang mengundang antusias para wisatawan untuk mengabadikan pertunjukan barongsai.

PENGERTIAN & ASAL USUL BARONGSAI

Istilah barongsai di Indonesia berasal dari dua kata, yakni barong dan sai/say. Kata barong berasal dari bahasa Jawa yang artinya topeng, mirip dengan kesenian barong asal Jawa dan Bali. Kata say/sai berasal dari dialek hokkien yang bermakna singa. Sehingga ketika di gabungkan memiliki makna Topeng Singa. Menurut Kamus Besar Bahasa  Indonesia  (1995), barongsai merupakan “Tarian masyarakat China yang memakai topeng menyerupai binatang buas (singa), di mainkan oleh dua orang (satu bagian kepala  dan satu bagian ekor) dan dijadikan sebagai pertunjukkan pada perayaan – perayaan hari besar masyarakat China. Adapun, menurut bahasa mandarin, istilah barongsai di sebut dengan (Wu shi) ,yang memiliki arti Tarian Singa. Banyak versi cerita mengenai Tarian Singa. Salah satunya ialah yang berkembang pada suka Miao yang tinggal di barat daya China.

Terdapat mitos mengenai tahun baru dimana setiap akhir tahun selalu muncul seekor binatang yang mengganggu keamanan dan kesejahteraan masyarakat. Mereka tidak bisa melawan binatang itu dan selalu ketakukan menjelang tahun baru. Kemudian, datanglah Budha dengan menunggangi singa. Begitu melihat singa yang ditunggangi oleh Budha, binatang buas itu segera melarikan diri dan tidak pernah datang lagi.

Sejak saat itu, setiap tahun baru masyarakat suku Miao membuat singa tiru – tiruan yang menarik dengan maksud untuk menakut – nakuti binatang buas itu agar tidak datang lagi. Selain itu Tarian Singa juga sebagai ucapan terima kasih kepada Budha dan dibuatlah sebuah patung Budha yang sedang menunggangi singa. Kisah lainnya ialah dahulu ada makhluk besar yang di sebut dengan Nian, setiap tahunnya meneror manusia. Setiap Nian itu datang manusia resah dan orang – orang meminta pertolongan kepada Tuhan kemudian dikirimlah singa untuk menguris Nian. Dari kejadian itu, manusia membuat singa tiruan tersebut dari kertas kemudian menari diiringi dengan drum dan gong serta menyalakan kembang api sebagai tanda kegembiraan.

Dari saat itulah, pada perayaan Tahun Baru Singa tiruan menari – nari di sepanjang jalan tanda mengucapkan selamat tahun baru kepada para penduduk. Seperti layaknya binatang lainnya juga, tarian singa  juga harus di beri makan berupa angpao yang di tempatkan dengan sayuran selada air yang lazim disebut “Lay See”. Untuk melakukan tarian makan lay see (Chai Qing) ini para pemain harus mampu melakukan loncatan tinggi, sehingga para pemain tarian singa atau lebih dikenal dengan barongsai seringkali dimainkan oleh orang – orang yang memiliki kemampuan kung fu.

Di depan barongsai selalu terdapat seorang penari lainnya yang menggunakan topeng sambil membawa kipas. Biasanya di sebut dengan Shi  Zi Lang dan penari inilah yang menggiring barongsai untuk meloncat atau bermain atraksi serta memetik sayuran. Sedangkan, untuk penari dengan topeng Buddha Tertawa di sebut dengan Xiao Mian Fo.

Pada awalnya, tarian barongsai ini dapat mengusir hawa – hawa buruk dan roh – roh jahat. Namun seiring zaman sekarang tarian barongsai tidak lagi di kait – kaitkan dengan mengusir roh atau binatang buas, karena sekarang barongsai hanya sekedar aksesoris untuk tari atau media entertainment saja.

Sesungguhnya singa bukan hewan asli china. Pada masa Dinasti Han (25 SM – 220 M) kaisar mendapat hadiah dari Raja Afghanistan dan juga Persia. Singa itu melambangkan keberuntungan dan hewan pemberani. Biasanya patung singa di China di jumpai di depan istana, klenteng, dan gedung – gedung pemerintahan sebagai penolak bala.

Patung singa selalu di tampilkan secara berpasangan. Singa yang Jantan selalu berada di sebelah kiri dan Singa Betina selalu berada di sebelah kanan. Letak posisi patung singa memiliki makna tersendiri. Posisi kiri dan kanan menggambarkan YinYang, pria dan wanita, timur (matahari terbit) dan barat (matahari tenggelam).

JENIS – JENIS BARONGSAI

Atraksi barongsai dibagi dalam 2 kelompok besar yaitu utara dan selatan. Tarian barongsai Utara di sebut dengan Beifang Shizi Wu sedangkan Tarian barongsai Selatan di sebut dengan Nanfang Shizi Wu.

Tarian barongsai Selatan mempunyai warna yang lebih bervariasi, bertanduk, mata besar, lebih simbolik untuk mengusir roh jahat dan membawa keberuntungan. Pada umumnya berasal dari propinsi Guangdong dan Fujian. Aliran ini lebih populer dan dikenal di seluruh dunia, karena diperkenalkan oleh orang Tionghoa perantauan.

Untuk mengusir spirit jahat, maka didepan kepalanya (jidat) dipasang cermin kecil yang memantulkan spirit negatif tersebut, dan ditanduknya diikat sehelai kain merah. Kombinasi keduanya itu dianggap mempunyai kekuatan besar untuk mengusir spirit jahat.

Barongsai aliran Selatan yang dari Guangdong dibagi lagi ke dalam dua tipe yaitu barongsai tipe Foshan (Fut Shan) dan tipe Heshan (Hok Shan), disebut dari nama kota pembuatnya. Tipe Foshan bentuk mulutnya melengkung ke atas dan kepalanya lebih besar, tanduknya agak runcing.

Tipe Heshan bentuk mulutnya menyerupai mulut bebek, lebih berbulu dan ujung tanduknya bulat melingkar serta badannya lebih pendek dan lebih ringan dari Barongsai Foshan. Selain itu ada juga barongsai tipe campuran (hybrid) antara Foshan dengan Heshan, yang disebut barongsai Fo-He (Fut-Hok), badannya pendek seperti Barongsai Heshan tetapi mulutnya seperti barongsai Foshan.

Barongsai yang dianggap lebih senior atau tua biasanya berjanggut lebih panjang dan putih, serta lebih berwarna-warni. Bahan kain untuk badannya biasanya dibuat dari sutera, tetapi sekarang ada yang menggunakan bahan material baru dan non- tradisionil seperti nylon atau mylar. Kepala barongsainya dibuat dari bahan-bahan seperti bambu, rotan, kayu, kawat dan kemudian harinya menggunakan fiber, plastk, aluminium dan dibungkus dengan sejenis kertas khusus lalu diberi warna. Tipe Foshan dianggap tipe tradisionil dan wajahnya garang serta lebih banyak digunakan oleh perguruan Kung Fu dan lebih berat daripada barongsai Heshan, maka dibutuhkan permainan yang lebih bertenaga, stamina tinggi serta gerak kaki teratur dan kuda-kuda yang kokoh, biasanya pemainnya adalah seorang yang biasa berlatih Kung Fu. Tipe barongsai ini popular di Hongkong dan di negara lainnya yang banyak komunitas Tionghoa bermukim seperti di Amerika Serikat.

Tipe Heshan suka disebut juga sebagai tipe kontemporer, gerakannya mendekati gerakan realistis, akrobatis (seperti gerakan barongsai utara). Karena badannya relatif lebih pendek dan ringan daripada barongsai Foshan, maka lebih mudah untuk melakukan gerakan dan lompatan-lompatan diatas tonggak dan biasanya tipe ini lebih populer dipergunakan untuk pemain yang pemula atau untuk kompetisi dan pertandingan barongsai. Umumnya popular di Malaysia dan Singapura.

Yang membedakan keduanya adalah pada bentuknya. Jenis singa yang dari utara adalah badannya di tutupi oleh bulu yang terbuat dari wol dari kepala hingga kaki. Warna bulu barongsai utara hanya terdiri dari satu atau dua warna dan biasanya berwarna merah dan kuning keemasan. Sedangkan jenis singa yang dari selatan badannya terbuat dari warna yang beraneka ragam.

  0 Views    Likes  

banner
10 Langkah Membangkitkan Kegeniusan Mengelola Uang ala Robert Kiyosaki

previous post

Gaya Hidup Sehat di tengah pandemi covid-19
10 Langkah Membangkitkan Kegeniusan Mengelola Uang ala Robert Kiyosaki

next post

10 Langkah Membangkitkan Kegeniusan Mengelola Uang ala Robert Kiyosaki

related posts