Gambaran yang dibayangkan oleh orang-orang di masa lampau mengenai masa depan tidak jauh berbeda dengan realitas masa kini. Jika dahulu orang membayangkan bahwa di masa depan, banyak pekerjaan manusia akan digantikan oleh mesin, mungkin satu-satunya prediksi yang meleset pada saat itu adalah bagaimana, nalar kritis kita bisa juga digantikan mesin.
Pada tahun 2022, hadirnya Generative Artificial Intelligence (Gen AI) canggih bernama ChatGPT menjadi penanda AI Boom yang menyebabkan banyak perubahan baru dalam bidang teknologi. Jika dulu untuk menulis konten saja kita perlu merekrut orang, dengan ChatGPT, anda tidak hanya mendapatkan seorang AI yang berperan sebagai copywriter, tetapi juga sebagai editor, bahkan pimpinan redaksi dengan kecerdasannya. Lantas, apa sebenarnya Generative AI itu?
Gen AI adalah bentuk lain dari teknologi kecerdasan buatan yang bisa mengerjakan tugas-tugas kreatif seperti membuat teks, gambar bahkan video (Banh, 2023). Perbedaan mendasar dari AI secara umum dengan Gen AI terletak hasilnya. Biasanya, AI digunakan sebagai alat untuk mengerjakan tugas-tugas yang bersifat data dan kaku, sementara Gen AI dilatih sedemikian dengan hasil karya kreatif manusia sehingga bisa menghasilkan karya yang natural mirip dibuat oleh manusia.
Munculnya ChatGPT membukakan pintu hadirnya berbagai Gen AI lain yang membantu pekerjaan manusia. Dari Gen AI yang membantu manusia dalam menulis artikel, mengedit dan membuat gambar, hingga membuat video yang tidak dapat dibedakan dengan hasil karya manusia. Tak dipungkiri, generasi muda masa kini juga seringkali menggunakan Gen AI sebagai alat untuk mengerjakan tugas sekolah dan kuliah.
Dilansir dari GoodStats, berdasarkan data dari Global Student Survey Chegg 2025, sebanyak 95% mahasiswa di Indonesia telah menggunakan Gen AI seperti ChatGPT sebagai alat untuk membantu mereka dalam mengerjakan tugas kuliah sehari-hari. Gen AI seolah menjadi alat wajib mahasiswa masa kini dalam kehidupan kuliah. Tak heran, sifatnya yang fleksibel sangat membantu mahasiswa dalam membimbing, dan membuat materi perkuliahan, Gen AI seolah menjadi ‘dosen kedua’ yang bisa ditanya kapan saja. Meskipun sangat membantu, ternyata ada sisi gelap yang perlu diwaspadai dalam penggunaan Gen AI. Namun statistik ini tidak hanya menunjukkan tingkat adopsi yang tinggi, tetapi juga memunculkan masalah baru yang mengkhawatirkan.
Berbagai kemudahan yang ditawarkan oleh Gen AI menghadirkan sebuah fenomena baru, dimana pelajar tidak lagi menganggap Gen AI sebagai alat untuk mengerjakan tugas, tetapi sebagai joki pengerjaan tugas. Semudah mengunggah materi dan memberikan instruksi, Gen AI dapat membuat esai, presentasi hingga makalah dengan sempurna, hanya dalam 30 detik. Meskipun memudahkan, penelitian MIT Media Lab menunjukkan hal yang mengkhawatirkan dari penggunaan Gen AI pada otak manusia.
Para peneliti MIT memindai aktivitas otak dua kelompok: yang memakai mesin pencari biasa (seperti Google) dan yang memakai ChatGPT. Hasilnya mengejutkan, aktivitas otak kelompok pengguna ChatGPT jauh lebih rendah, seperti otak yang “dimatikan autopilot.” Ini berarti penggunaan Gen AI berdampak besar pada penurunan proses berpikir pada manusia. Tak heran fenomena menyontek massal pada tingkat sekolah dan universitas, seperti yang terjadi di Korea Selatan baru-baru ini menjadi hal yang semakin umum, karena terjadi penurunan fungsi kognitif yang menyebar secara bertahap.
Lantas bagaimana cara kita mencegah dan menangani hal tersebut?
1. Gunakan Gen AI sebagai alat Gen AI sebagai alat yang multiguna cukup dipandang sebagai alat yang memudahkan manusia untuk beraktifitas, bukan untuk menggantikan otak berpikir. Misalnya, ketika kita ingin membuat artikel, buatlah outline menggunakan AI, sementara isinya dikerjakan secara manual. Sehingga tidak boleh memasrahkan semua pekerjaan dikerjakan sepenuhnya oleh Gen AI.
2. Pahami bahwa AI bisa salah Bukan tidak mungkin bahwa Gen AI bisa menghasilkan hasil karya yang mengandung bias, misinformasi dan informasi yang menyesatkan. Oleh karena itu, sebagai alat, masih diperlukan pemahaman manusia untuk memverifikasi ulang informasi yang dihasilkan. Verifikasi ini juga bisa membantu manusia tetap berpikir sekalipun sudah dimudahkan tugasnya.
3. Jangan Bergantung Tidak sepenuhnya Gen AI dapat mengerjakan tugas kompleks yang masih memerlukan pemahaman manusia. Tugas yang memerlukan konteks, pemahaman mendalam dan informasi subjektif adalah salah satu tugas yang masih tidak dapat dikerjakan sepenuhnya oleh Gen AI. Oleh karenanya, kita tidak boleh menggantungkan diri terhadap Gen AI untuk mengerjakan semua tugas yang kita miliki.
Perkembangan teknologi memang dapat memudahkan manusia dalam mengerjakan tugas-tugasnya, namun tidak berarti semua tugas manusia perlu digantikan oleh AI. Jika semua tugas manusia dikerjakan mesin, lantas untuk apa Tuhan menganugerahkan akal kepada manusia? Mari kita gunakan anugerah ini dengan baik, sebelum Tuhan mencabutnya dari umat manusia.
(Foto: Pexels/ Matheus Bertelli)
Referensi:
Banh, L., & Strobel, G. (2023). Generative artificial intelligence. Electronic Markets, 33, 63. https://www.researchgate.net/publication/376238636_Generative_artificial_intelligence
Kosmyna, N., Hauptmann, E., Yuan, Y. T., Situ, J., Liao, X.-H., Beresnitzky, A. V., Braunstein, I., & Maes, P. (2025, Juni 10). Your Brain on ChatGPT: Accumulation of cognitive debt when using an AI assistant for essay writing task [Preprint]. arXiv. https://doi.org/10.48550/arXiv.2506.08872
Karima, N. (2025, November 11). Skandal akademik guncang Universitas Yonsei, ratusan mahasiswa terlibat kecurangan massal dengan ChatGPT. Radar Kudus. https://radarkudus.jawapos.com/nasional/696818060/skandal-akademik-guncang-universitas-yonsei-ratusan-mahasiswa-terlibat-kecurangan-massal-dengan-chatgpt
Yonatan, A. Z. (2025, 6 Oktober). 95% Mahasiswa RI Gunakan AI dalam Proses Pembelajaran. GoodStats Data. https://data.goodstats.id/statistic/95-mahasiswa-ri-gunakan-ai-dalam-proses-pembelajaran-FIm7A#:~:
previous post
Banyumas Ngibing 24 Jam Menari Menghidupkan Jati Diri