Perjalanan Mencari Negara Paling Bahagia Di Dunia

Eric Weiner adalah seorang pengembara/traveler yang bekerja sebagai seorang jurnalis di National Public Radio, Amerika Serikat. Kehidupannya yang penuh dengan tantangan dan masa-masa yang tegang membuatnya bertanya-tanya seiring waktu, apa itu kebahagiaan? Dalam perjalanannya meliput dan mengumpulkan berita-berita dari seluruh dunia, ia mendedikasikan waktunya untuk mencari jawaban tersebut di berbagai belahan dunia, dari negara yang melegalkan bunuh diri seperti Swiss, tempat yang  campur aduk dan kacau seperti India, hingga negara yang toxic, namun dicap sebagai negara yang bahagia, seperti Moldova. Dalam buku travel writing The Geography of Bliss ini, Eric akan membantu pembaca merasakan perjalanannya mencari kebahagiaan dengan nada yang jenaka nan filosofis. Pertanyaan selanjutnya adalah, dimanakah ia bisa menemukan makna kebahagiaan itu? 

 

Buku ini memulai perjalanan pertamanya ia lakukan ke negara kincir angin, Belanda. Menceritakan dirinya yang bertemu dengan seorang profesor sosiologi yang berusaha memandang kebahagiaan dengan pendekatan ilmiah, sebuah pendekatan yang benar-benar berbeda dari persepsi banyak orang mengenai itu. Jika anda membaca jurnal mengenai kebahagiaan, tak heran anda akan menemukan kata-kata seperti positive affect (perasaan positif) atau hedonic adaptation (adaptasi terhadap kenikmatan), yang mana semua artinya sama saja, berarti kebahagiaan. Namun Prof. Ruut Veenhoven berusaha menggali lebih hal ini melalui kacamata saintifik. World Happiness Report adalah pemeringkatan tahunan yang memeringkatkan tingkatan kebahagiaan negara-negara melalui beberapa kategori. Yang pasti, Prof. Ruut punya tujuan yang sama seperti Eric, mencari kebahagiaan, dan merunut darimana ia berasal.

 

Dalam buku ini, selama Eric melakukan perjalanan mencari kebahagiaan, ia selalu mendapati bahwa setiap negara mempunyai caranya sendiri dalam melihat dan memaknai sebuah kebahagiaan. Ketika di Belanda, ia menyimpulkan bahwa orang belanda bahagia karena prostitusi, ganja dan bersepeda. Sebuah pemandangan aneh yang umum ditemukan disana. Bahkan di hari pertamanya bekerja disana, ia masuk kafe yang ternyata adalah… sebuah toko ganja. Kebahagiaan dipandang sebagai sebuah kepuasan batin, ia hampir saja akan menghabiskan seumur hidupnya bersantai di toko roti dan kafe ganja favoritnya disana. Tapi itu tak membuatnya puas. Ia mencari makna lain dengan pergi ke negara lainnya. Menuju Swiss, yang melegalkan bunuh diri, tetapi masyarakatnya tetap bahagia karena alam yang indah… dan coklat. Moldova yang bahagia ketika melihat negara lain tak bahagia, masyarakat mencari kebahagiaan dengan angan-angan. Hingga India yang dipenuhi dengan kekacauan, namun ia menemukan bahagianya saat berada di Ashram, fasilitas rohani yang umum ditemukan di India.

 

Eric mengakhiri buku ini dengan sebuah pendekatan menarik mengenai kebahagiaan, ia melihat bahwa kebahagiaan itu selalu bersifat relatif. Apa yang manusia pandang sebagai kebahagiaan tak mempunyai arti yang pasti, bahkan beberapa perjalanannya menuju negara-negara yang terlihat buruk, ternyata memiliki banyak masyarakat yang merasa bahagia, selayaknya Moldova yang penuh ketidakpastian, hingga Qatar yang dikenal negara kotor karena polusi tambang. Eric menyimpulkan bahwa kebahagiaan ternyata tidak berupa kesenangan batin, kestabilan, atau kekayaan semata, tetapi bagaimana manusia memaknai hal-hal yang membuatnya hidup. 

 

Dari semua perjalanan itu, Eric mengemas cerita perjalanannya dengan cara yang penuh jenaka. Kelebihan dari buku ini adalah, ia tak henti-hentinya ia menyelipkan candaan ringan tentang deskripsi banyak orang yang ditemuinya. Pikirannya yang liar dan sifatnya yang reflektif membuat buku ini memiliki daya tarik tersendiri. Membuat buku ini yang mengemas perjalanannya ke 10 negara berbeda: Belanda, Swiss, Bhutan, Qatar, Islandia, Moldova, Thailand, Britania Raya, India dan Amerika Serikat mempunyai banyak cerita yang berkesan. Jangan salah, selama membaca buku ini, kita tidak hanya mengikuti perjalanan Eric, tetapi juga melihat bagaimana pandangan filosofis eksistensial mengenai kebahagiaan itu sendiri. Weiner melihat bahwa kebahagiaan bersifat relatif dan tidak memiliki definisi tunggal. Kekayaan, stabilitas, atau kenyamanan tidak selalu menjamin kebahagiaan; yang terpenting adalah bagaimana manusia memaknai hidupnya. Narasinya memadukan humor, refleksi filosofis, dan observasi sosial sehingga pembaca tidak hanya mengikuti perjalanan geografis, tetapi juga perjalanan batin mengenai pemaknaan kebahagiaan.

 

Pembaca lambat laun akan diajak untuk melihat bahwa dunia dapat dipandang dengan cara yang berbeda. Komentar satir yang ditambahkan pada bab-bab yang dibahas membantu kita memahami dunia melalui sudut pandang yang lebih jujur, realistis, dan terkadang ironis. Humor yang digunakan Weiner bukan sekadar pemanis, tetapi berfungsi sebagai alat kritik sosial yang halus, yang menyoroti kontradiksi dan keunikan dalam setiap masyarakat yang ia kunjungi. Melalui perpaduan antara pengamatan empiris dan refleksi pribadi, pembaca dapat menangkap bahwa kebahagiaan bukan sekadar konsep individual, melainkan konstruksi sosial yang dibentuk oleh lingkungan, budaya, sejarah, dan pilihan hidup yang berbeda-beda.

 

Pendekatan tersebut secara tidak langsung mengajak pembaca untuk memeriksa kembali asumsi-asumsi sederhana yang sering digunakan untuk menjelaskan kebahagiaan, seperti anggapan bahwa semakin kaya seseorang maka semakin bahagia pula ia. Weiner menunjukkan bahwa realitas jauh lebih kompleks daripada itu: ada negara miskin yang penduduknya terampil menemukan tawa dalam situasi sulit, sementara ada negara kaya yang justru warganya hidup dalam kecemasan dan kesunyian. Kesimpulan tersebut memperkuat pandangan bahwa kebahagiaan tidak bisa diukur dengan indikator tunggal, melainkan melalui pengalaman subjektif yang berbeda-beda di tiap konteks kehidupan.

 

Meskipun buku ini memiliki banyak sekali kelebihan dan cara pengemasannya yang menarik, tidak berarti buku ini merupakan karya travel writing yang sempurna. Dari segi alur penceritaan, Eric Weiner menyusun narasinya melalui pendekatan yang tidak linear: pada beberapa bagian ia bergerak maju mengikuti urutan perjalanan geografis, namun pada bagian lain ia kembali ke masa lalu untuk menampilkan refleksi, kilas balik pengalaman pribadi, atau pendapat tokoh yang ia temui. Perpaduan antara alur maju-mundur tersebut menciptakan struktur yang terkadang terasa meloncat-loncat, sehingga ritme cerita antara satu bab dengan bab berikutnya tidak selalu terhubung secara mulus dan padu. Hal ini berpotensi menimbulkan kebingungan bagi pembaca baru yang belum terbiasa mengikuti model narasi yang bersifat eksperimental dan fragmentaris.

 

Selain itu, penggunaan banyak istilah filosofis dan konsep akademik yang jarang ditemui dalam bacaan populer juga menambah tingkat kompleksitas buku ini. Weiner sering mengutip teori dan pemikiran para filsuf, akademisi, dan tokoh intelektual dari berbagai disiplin ilmu, seperti psikologi, sosiologi, dan kajian budaya. Bagi pembaca yang belum familiar dengan referensi tersebut, kedalaman bahasa dan istilah yang digunakan dapat terasa berat dan menantang untuk dipahami. Penyampaian refleksi filosofis yang padat dan kadang bersifat kontemplatif berpotensi membuat sebagian pembaca kehilangan fokus terhadap tujuan utama perjalanan yang sedang ia ceritakan.  

 

Secara keseluruhan, The Geography of Bliss menawarkan pemahaman luas tentang kebahagiaan dari perspektif lintas budaya dan menunjukkan bahwa kebahagiaan bukan tempat atau pencapaian tertentu, melainkan kemampuan manusia memaknai pengalaman hidupnya dengan penuh kesadaran. Buku ini sangat relevan bagi pembaca yang tertarik pada refleksi filosofis, studi budaya, maupun pencarian jati diri melalui pengalaman manusia di berbagai belahan dunia. 

 

  253 Views    Likes  

Membaca Hidup Orang Lain untuk Memahami Diri Sendiri

previous post

Ketika Diam Lebih Jujur daripada Banyak Kata
Membaca Hidup Orang Lain untuk Memahami Diri Sendiri

next post

Membaca Hidup Orang Lain untuk Memahami Diri Sendiri

related posts