REPRESENTASI SOSOK SEORANG IBU DALAM FILM PANGKU 2025 KARYA REZA RAHARDIAN

Representasi sosok ibu dalam film Indonesia tidak hanya berfungsi sebagai elemen naratif, melainkan juga sebagai medium kritik sosial terhadap tekanan struktural dan budaya yang dihadapi perempuan dalam konteks keibuan. Film Pangku (2025) karya Reza Rahadian menampilkan konstruksi keibuan yang kompleks—penuh ambivalensi emosional serta beban psikologis—yang selaras dengan kecenderungan film Indonesia kontemporer dalam menggambarkan perempuan sebagai subjek yang bergulat dengan tuntutan sosial (Mahardika, 2023). Dengan demikian, film ini menjadi penting untuk dianalisis karena membuka ruang pembacaan tentang hubungan erat antara pengalaman sinematik dan realitas sosial ibu di Indonesia.

Representasi Sinematografis Ibu dalam Film Pangku

Dalam film Pangku, sosok ibu digambarkan melalui teknik sinematografi yang menonjolkan tekanan batin dan kesunyian emosional melalui penggunaan close-up intens serta pencahayaan minim untuk menandai konflik psikologis yang tidak terucapkan. Cara ini sesuai dengan temuan Suryanto (2021) yang menyatakan bahwa sinematografi bernuansa gelap dan intim sering digunakan untuk mengonstruksi identitas perempuan sebagai figur yang memikul beban emosional dan sosial secara tersembunyi. Penggambaran ibu sebagai individu yang berjuang dalam keheningan ini menegaskan bahwa film tidak hanya menarasikan cerita, tetapi juga menghadirkan pengalaman empatik tentang kerentanan emosional perempuan.

Realitas Sosial Ibu di Indonesia

Kondisi ibu dalam film tersebut memiliki korelasi kuat dengan realitas sosial di Indonesia, di mana berbagai studi menunjukkan bahwa perempuan, terutama ibu tunggal, menanggung beban ekonomi dan psikologis yang signifikan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 mencatat bahwa 18,21% keluarga di Indonesia merupakan keluarga orang tua tunggal, dan 72% di antaranya adalah ibu (BPS, 2024). Persentase ini menunjukkan bahwa ibu bukan hanya mengemban tugas pengasuhan, tetapi juga menjadi penopang finansial keluarga, sehingga beban ganda—baik fisik maupun emosional—nyata terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Tekanan Budaya dan Patriarki dalam Kehidupan Ibu Indonesia

Beban yang dialami ibu di dunia nyata diperkuat oleh struktur sosial patriarkis yang menempatkan perempuan sebagai pusat stabilitas keluarga, tetapi tanpa dukungan sosial dan emosional yang memadai. Nugroho (2022) menegaskan bahwa budaya patriarki di Indonesia mengharuskan perempuan untuk terus menampilkan ketangguhan meskipun mengalami tekanan psikologis, sehingga kerentanan perempuan seringkali disembunyikan. Korelasi ini tampak jelas dalam film Pangku, di mana tokoh ibu diposisikan sebagai penyangga krisis tanpa ruang untuk mengungkapkan rasa lelah maupun kebutuhan emosionalnya.

Korelasi Film dan Realitas Sosial

Hubungan antara film dan kondisi nyata tercermin pada kesamaan pola pengalaman emosional: tokoh ibu dalam film menghadapi peran ganda, konflik batin, dan kesunyian struktural yang identik dengan realitas ibu tunggal Indonesia. Narasi sinematik tersebut memperlihatkan bagaimana tuntutan sosial terhadap ibu—untuk tetap kuat, sabar, dan stabil—berdiri bertentangan dengan ketidakpastian ekonomi serta tekanan psikologis yang mereka alami sehari-hari (Mahardika, 2023; BPS, 2024). Dengan demikian, film Pangku tidak sekadar meminjam realitas, tetapi memantulkan kondisi aktual yang dialami perempuan, menjadikannya kritik sosial terhadap ketimpangan beban gender yang masih mengakar.

Kesimpulan

Film Pangku (2025) karya Reza Rahadian menawarkan representasi ibu yang tidak hanya bersifat artistik, tetapi juga memiliki akar kuat pada kondisi sosial nyata ibu di Indonesia. Melalui penggunaan sinematografi yang menonjolkan tekanan emosional, film ini memperkuat fakta empiris mengenai besarnya beban yang dihadapi ibu, khususnya ibu tunggal, sebagaimana dibuktikan oleh data BPS (2024). Kritik terhadap patriarki dan tuntutan sosial terhadap perempuan terlihat jelas dalam film maupun kehidupan sehari-hari, sehingga Pangku dapat dibaca sebagai refleksi sekaligus kritik atas struktur sosial yang masih menempatkan ibu pada posisi rentan namun wajib tangguh. Dengan kata lain, film ini menghadirkan hubungan erat antara konstruksi sinematik dan realitas sosial, memperlihatkan bahwa cerita di layar lebar tidak pernah sepenuhnya terlepas dari dinamika kehidupan nyata.

Daftar Pustaka

Badan Pusat Statistik. (2024). Statistik Keluarga Indonesia 2024. Jakarta: BPS.

Mahardika, R. (2023). Representasi Perempuan dan Keibuan dalam Film Indonesia Pasca-2015. Jurnal Kajian Budaya, 18(2), 112–129.

Nugroho, S. (2022). Patriarki dan Representasi Emosional Perempuan dalam Media Visual. Yogyakarta: Pustaka Humanika.

Suryanto, D. (2021). Teknik Sinematografi dan Konstruksi Identitas Perempuan dalam Film Asia Tenggara. Jurnal Sinema Nusantara, 9(1), 44–59.

  0 Views    Likes  

REPRESENTASI SOSOK SEORANG IBU DALAM FILM PANGKU 2025 KARYA REZA RAHARDIAN

previous post

Pentingnya Kemapanan Sebelum Menikah
REPRESENTASI SOSOK SEORANG IBU DALAM FILM PANGKU 2025 KARYA REZA RAHARDIAN

next post

REPRESENTASI SOSOK SEORANG IBU DALAM FILM PANGKU 2025 KARYA REZA RAHARDIAN

related posts