Teknologi selalu berada di sekitar kita. Dari yang paling dekat dengan tubuh, seperti kacamata, jam tangan, laptop, hingga handphone. Dari benda-benda yang jauh dari jangkauan langsung kita, seperti AC, satelit, dan kabel optik. Ada juga teknologi yang berada di dalam tubuh manusia, seperti vitamin, ring jantung, pena medis, hingga lensa kontak. Bahkan di dalam teknologi itu sendiri, seperti pesawat, mesin MRI, dan perangkat kompleks lainnya.
Teknologi ada di mana-mana. Manusia modern hampir tidak bisa hidup tanpa teknologi. Kehadirannya bukan sekadar alat bantu, tetapi telah menjadi katalis perubahan perilaku dan budaya manusia melalui apa yang disebut sebagai disrupsi teknologi.
Apa Itu Disrupsi Teknologi?
Disrupsi dapat dimaknai sebagai adanya interupsi dari aktivitas yang sebelumnya normal, lalu berubah menjadi sesuatu yang berbeda. Disrupsi tidak hanya terjadi pada teknologi, tetapi juga merembet ke budaya dan pola hidup manusia.
Sebagai contoh, dahulu jika seseorang ingin berjualan, ia perlu menyewa toko fisik, mempekerjakan pegawai, dan menyiapkan modal yang tidak sedikit. Kini, siapa pun dapat membuka tokonya sendiri melalui marketplace dan platform e-commerce seperti Tokopedia.
Begitu pula dengan media. Dahulu, jika seseorang ingin memiliki kanal televisi sendiri, ia harus memiliki studio, modal besar, serta mengurus perizinan yang rumit. Sekarang, cukup membuat kanal di YouTube.
Asumsi tentang proses kreatif pun berubah. Dulu, semakin lama sebuah karya seni atau tulisan dibuat, semakin dianggap berkualitas. Kini, proses itu bisa dipercepat secara signifikan. Jika dahulu menulis makalah membutuhkan waktu berhari-hari, sekarang dengan prompting selama 30 detik, seseorang bisa menghasilkan makalah yang secara teknis terlihat lebih rapi dan lengkap.
Fenomena seperti ojek online, supermarket online, dan layanan berbasis aplikasi lainnya merupakan bentuk nyata disrupsi teknologi. Semua itu secara perlahan mengubah budaya masyarakat dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Perubahan ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Semuanya diawali oleh rangkaian revolusi industri. Revolusi industri pertama dimulai dengan ditemukannya mesin uap yang mengubah produktivitas manusia secara revolusioner. Revolusi industri kedua ditandai dengan hadirnya listrik. Revolusi industri ketiga ditandai dengan munculnya komputer. Revolusi industri keempat ditandai dengan internet, otomatisasi, dan komputasi awan. Terakhir, dan yang paling mutakhir, adalah revolusi industri kelima yang ditandai dengan munculnya kecerdasan buatan.
Revolusi industri keempat dan kelima berkembang jauh lebih cepat dibandingkan revolusi sebelumnya karena berbasis teknologi digital, bukan analog. Perkembangannya lebih masif dan lebih murah. Saat ini, membeli kartu memori dengan kapasitas besar jauh lebih murah dibandingkan masa lalu.
Namun, perkembangan teknologi tidak hanya membawa dampak positif. Ada pula dampak negatif yang menyertainya. Ketika YouTube pertama kali hadir, banyak orang merasa senang karena bisa menonton video secara bebas tanpa iklan. Platform ini dianggap sebagai terobosan baru. Namun, seiring waktu, YouTube mulai memasukkan iklan ke dalam sistemnya. Terjadi proses komodifikasi dan kapitalisasi platform, di mana perhatian pengguna menjadi komoditas utama.
Lalu, bagaimana disrupsi teknologi membentuk ulang perilaku manusia sehari-hari serta interaksi sosial, baik di ruang digital maupun ruang fisik?
Relasi antara manusia dan teknologi sering disebut sebagai simbiosis mutualisme. Banyak standar, kebiasaan, dan budaya manusia kini ditentukan oleh perkembangan teknologi.
Sebagai contoh, dengan hadirnya WhatsApp, mengucapkan belasungkawa melalui stiker menjadi sesuatu yang umum dan dinormalisasi. Padahal, praktik ini sering kali tidak menghadirkan kedekatan emosional yang nyata.
Contoh lain dapat dilihat dari kebiasaan olahraga yang kini divalidasi melalui media sosial. Aktivitas seperti lari, padel, atau bersepeda tidak hanya dilakukan demi manfaat fisik, tetapi juga dikemas melalui fitur berbagi teknologi. Olahraga tidak lagi sekadar aktivitas kesehatan, melainkan juga sarana validasi sosial.
Ketika teknologi semakin terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari, ikatan manusia dengan teknologi pun semakin menyatu. Setiap hari kita menggunakan teknologi, dan ke depan kita akan terus bergantung padanya.
Pertanyaannya kemudian muncul: apakah manusia suatu saat akan menggantikan proses berpikirnya dengan teknologi? Apakah kecerdasan buatan akan menggantikan nalar kritis manusia? Ataukah teknologi akan tetap menjadi alat bantu semata?
Pertanyaan-pertanyaan ini masih menjadi misteri yang jawabannya akan terungkap di masa depan. Semua kembali pada bagaimana manusia memahami dan menyikapi teknologi. Gaya hidup digital perlu diimbangi dengan literasi digital, agar kehidupan bersama teknologi tetap berjalan secara seimbang.
Foto: Ola Dapo/Pexels
Naskah: Muhammad Zaki Tasnim Mubarak
previous post
Banyumas Ngibing 24 Jam Menari Menghidupkan Jati Diri