Tidak Lulus Tes Lari? Bisa Tidak Lulus Kuliah: Realita Mahasiswa di China

Di banyak universitas di Tiongkok, mahasiswa tidak hanya diukur dari nilai akademik—tapi juga kebugaran fisik. Tes kebugaran (physical fitness test) menjadi bagian wajib dari kurikulum, dan nilai lari, lompat, dan kekuatan tubuh bisa berpengaruh pada kesempatan kelulusan. Budaya ini mungkin terasa asing bagi sebagian orang, tetapi di Tiongkok, menjaga kebugaran mahasiswa adalah bagian dari pendidikan holistik yang serius.

Standar Kesehatan Fisik Nasional

1. Apa Itu Tes Kebugaran Mahasiswa di Tiongkok Tes ini resmi diatur sebagai bagian dari 国家学生体质健康标准 (Standar Kesehatan Fisik Nasional) yang ditetapkan Kementerian Pendidikan. Tes ini dilakukan setiap semester atau setahun sekali di banyak universitas sebagai bagian dari mata kuliah pendidikan jasmani (PE).

2. Komponen Tes yang Diuji Beberapa item tes fisik yang diukur meliputi:

Lari: 50 meter sprint + 1000 m untuk laki-laki / 800 m untuk perempuan 

Lompat jauh berdiri (standing long jump)

Sit-up / pull-up

Fleksibilitas: sit and reach (duduk menekuk ke depan)

Ukuran tubuh & paru-paru: tinggi, berat badan, kapasitas paru (lung capacity)

3. Kenapa Tes Ini Penting

 

Untuk kelulusan: Beberapa universitas mewajibkan mahasiswa lulus tes fisik agar bisa mendapat ijazah

Sebagai bagian dari GPA atau penilaian beasiswa: Nilai tes PE kadang masuk dalam perhitungan IPK atau menjadi salah satu kriteria beasiswa/universitas. 

Mendorong gaya hidup sehat: Sekolah dan kampus ingin mahasiswa aktif, bukan cuma belajar dan duduk terus—agar punya kebiasaan olahraga yang baik. 

4. Kontroversi & Perdebatan

Ada kritik dari mahasiswa saat beberapa universitas menerapkan tes lari 3000 meter, karena dianggap terlalu berat dan tidak realistis untuk semua orang. 

5. Dampak pada Mahasiswa Internasional / Calon Pelajar

Bagi siswa dari luar negeri yang kuliah di China, tes semacam ini bisa menjadi sesuatu yang tak terduga: selain ujian akademik, ada tantangan fisik.

Mengetahui dari awal bahwa ada tes kebugaran bisa jadi pertimbangan penting saat memilih universitas di China.

 

Karena banyak mahasiswa yang “gagal”, beberapa universitas memberi kesempatan retake, tapi tetap menekan pentingnya fisik. 

Skor tes yang rendah bisa membatasi akses beasiswa atau penghargaan kampus karena tes PE dianggap bagian dari “penilaian komprehensif” siswa. 

Kebiasaan mahasiswa di Tiongkok yang rutin menjalani tes kebugaran sebenarnya membawa pesan penting yang bisa kita jadikan contoh. Di tengah kesibukan kuliah dan organisasi, banyak mahasiswa di Indonesia yang mulai melupakan kesehatan fisik. Padahal, tubuh yang bugar justru membantu kita berpikir lebih jernih, lebih produktif, dan lebih tahan menghadapi tekanan akademik. Dari budaya disiplin olahraga di Tiongkok, kita bisa belajar bahwa menjaga kesehatan bukan hanya soal nilai mata kuliah olahraga, tetapi investasi jangka panjang untuk masa depan. Mulai dari kebiasaan kecil seperti jogging, stretching, atau sekadar rutin bergerak, kita bisa membangun generasi muda yang tidak hanya cerdas, tetapi juga kuat dan siap bersaing di tingkat global.

Meski terlihat sederhana—mulai dari lari, sit-up, hingga tes fleksibilitas—program kebugaran di kampus-kampus Tiongkok menyimpan makna yang jauh lebih dalam. Tes ini bukan hanya rutinitas olahraga, tetapi bagian dari upaya membangun mahasiswa yang kuat secara akademik sekaligus sehat secara fisik. Bagi pelajar internasional, aturan seperti ini bisa menjadi nilai tambah atau tantangan baru. Karena itu, kesiapan fisik sebaiknya berjalan seiring dengan kesiapan belajar jika berencana menempuh pendidikan tinggi di Tiongkok.

  3 Views    Likes  

Peneliti MIT: ChatGPT Bisa Bikin Otak Tak Aktif, Apa Solusinya?

previous post

Banyumas Ngibing 24 Jam Menari Menghidupkan Jati Diri
Peneliti MIT: ChatGPT Bisa Bikin Otak Tak Aktif, Apa Solusinya?

next post

Peneliti MIT: ChatGPT Bisa Bikin Otak Tak Aktif, Apa Solusinya?

related posts