Ketika Semua Orang Terlihat Sukses, dan Kamu Masih Berjuang Bertahan

Rasa putus asa jarang datang tiba-tiba. Biasanya, ia hadir perlahan, menumpuk sedikit demi sedikit, sampai suatu hari Anda sadar bahwa dadanya terasa sesak dan pikiran terasa penuh. Begini kira-kira prosesnya. Anda mulai memperhatikan orang-orang di sekitar. Di kelas, di organisasi, di media sosial, bahkan di grup diskusi kecil sekalipun. Mereka bicara tentang pencapaian dengan santainya, seperti sedang bercerita tentang cuaca.

Mereka bilang,"Alhamdulillah, dapat beasiswa lagi." Mereka bilang, "Magangku semester depan diterima di tempat yang bagus." Mereka bilang, "Nilaiku A lagi, padahal nggak belajar keras-keras." Mereka bilang, "Proposal penelitianku lolos seleksi nasional." Dan Anda? Anda mendengar semua itu sambil memegang ponsel, melihat layar laptop, atau duduk di sudut ruangan. Di kepala Anda hanya ada satu pertanyaan: "Kenapa saya tidak seperti mereka?" Anda mulai memeriksa diri sendiri. Apa yang kurang? Apakah Anda kurang pintar? Kurang rajin? Kurang beruntung? Kurang punya koneksi? Kurang punya bakat?

Setiap kali melihat orang lain berhasil, Anda merasa semakin tenggelam.

Ini yang jarang dibicarakan: rasa putus asa sering kali tidak muncul karena kita benar-benar tidak mampu. Ia muncul karena kita terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain tanpa henti.

Yang Tidak Pernah Tampak di Permukaan Mari kita bedah satu per satu

Tentang teman yang mendapat beasiswa. Anda lihat dia di foto ucapan selamat. Tersenyum. Memegang piagam. Terlihat bangga. Tapi apa yang tidak Anda lihat? Anda tidak melihat berapa banyak beasiswa yang sudah ia coba sebelumnya dan gagal. Anda tidak melihat malam-malam ia begadang mengurus berkas. Anda tidak melihat kegelisahan saat menunggu pengumuman. Anda tidak melihat tekanan dari keluarganya yang berharap banyak. Yang Anda lihat hanyalah momen kemenangannya.

Tentang teman yang magang di tempat bagus. Anda melihat statusnya yang berbunyi "Super excited to start this journey!" tapi Anda tidak melihat proses wawancara yang ia jalani berkali-kali. Anda tidak melihat penolakan dari puluhan perusahaan lain sebelum akhirnya diterima di satu tempat. Anda tidak melihat keraguan di dalam dirinya apakah ia cukup kompeten. Anda hanya melihat hasil akhirnya.

Tentang teman yang nilai selalu A. Anda melihat nilainya sempurna, tapi Anda tidak melihat berapa banyak waktu yang ia korbankan. Anda tidak melihat hubungan sosialnya yang mungkin terganggu karena terlalu fokus belajar. Anda tidak melihat kecemasan berlebih setiap kali akan ujian. Anda tidak melihat rasa takut gagal yang terus menghantuinya. Yang Anda lihat hanyalah angka di transkrip.

Tentang teman yang proposalnya lolos seleksi nasional. Anda melihat namanya diumumkan, tapi Anda tidak melihat berapa kali proposalnya ditolak sebelumnya. Anda tidak melihat revisi bolak-balik yang membuatnya frustrasi. Anda tidak melihat dukungan dari dosen pembimbing yang tidak pernah ia ceritakan. Anda hanya melihat pencapaian finalnya.

Pola yang sama terus berulang: Anda hanya melihat puncaknya, bukan proses panjang yang dilalui.

Inilah mengapa perbandingan itu tidak adil. Anda membandingkan lembah Anda dengan puncak mereka. Dan ketika Anda melakukannya, Anda pasti akan merasa kalah. Selalu.

Apa yang Sebenarnya Terjadi pada Diri Anda

Saat rasa putus asa mulai mengakar, ada perubahan-perubahan kecil yang mungkin tidak Anda sadari. Anda mulai kehilangan motivasi. Hal-hal yang dulu membuat Anda bersemangat kini terasa hambar. Anda tahu ada tugas yang harus dikerjakan, tetapi Anda tidak punya energi untuk memulainya. Bukan karena malas. Anda lelah. Lelah secara mental.

Anda menarik diri dari lingkungan. Anda mulai menghindari pertemuan dengan teman-teman. Grup chat Anda bisukan. Anda lebih memilih menyendiri karena merasa tidak pantas berada di antara orang-orang yang "lebih sukses". Anda takut ditanya kabar, karena Anda tidak punya kabar baik untuk diceritakan.

Anda meragukan kemampuan diri sendiri. Setiap kali diberi tugas atau tanggung jawab, reaksi pertama Anda adalah "Saya tidak mampu." Anda sudah kalah sebelum mencoba. Keyakinan Anda terhadap diri sendiri perlahan terkikis, sampai suatu titik di mana Anda benar-benar percaya bahwa Anda tidak akan pernah bisa.

Anda mulai menyalahkan diri sendiri tanpa henti. "Kalau saya lebih pintar..." "Kalau saya lebih rajin..." "Kalau saya lebih beruntung..." "Kalau saya punya orang tua yang lebih mendukung..." "Kalau saya tidak telat memulai..."

Anda mengulang-ulang kalimat itu di kepala setiap hari. Dan setiap kali Anda mengulanginya, luka itu semakin dalam.

Ini semua adalah gejala dari satu penyakit yang sama: Anda telah kehilangan perspektif tentang apa arti menjadi "cukup".

Kebenaran yang Jarang Diucapkan

Saya ingin mengatakan sesuatu yang mungkin tidak sering Anda dengar. Bertahan bukanlah kegagalan. Bertahan adalah bentuk kemajuan. Masyarakat kita terlalu terobsesi dengan lompatan besar. Kita merayakan orang yang langsung sukses. Kita memberi tepuk tangan untuk orang yang mencapai puncak dengan cepat. Tapi kita lupa bahwa sebagian besar perjalanan manusia tidak seperti itu.

Kebanyakan orang melewati fase-fase panjang yang tidak menarik. Fase di mana mereka tidak punya prestasi besar untuk diumumkan. Fase di mana mereka hanya berusaha untuk tetap bertahan. Fase di mana satu-satunya kemenangan adalah "masih bisa bangun pagi".

Dan fase-fase itu, meskipun tidak ada yang memotretnya, adalah bagian paling penting dari perjalanan.

Karena di fase itulah Anda belajar bertahan. Di fase itulah Anda mengenal batas-batas diri. Di fase itulah Anda membangun ketahanan yang tidak bisa diajarkan oleh kesuksesan instan.

Jadi jika hari ini Anda hanya bisa melakukan satu hal kecil, itu sudah cukup. Jika hari ini Anda hanya berhasil makan dua kali, itu sudah baik. Jika hari ini Anda tidak menangis meskipun rasanya ingin sekali, itu luar biasa. Jika satu-satunya hal yang Anda lakukan adalah tidak menyerah, maka Anda sudah memenangkan pertempuran yang tidak semua orang bisa menangkan.

Tidak ada yang akan memberi Anda piagam untuk itu. Tapi itu tidak membuatnya kurang berharga.

Perbandingan yang Sebenarnya Perlu Dilakukan Selama ini Anda membandingkan diri dengan orang lain Tapi apakah itu benar-benar perbandingan yang adil?

Coba pikirkan.

Apakah Anda dan teman Anda memulai dari titik awal yang sama? Apakah Anda dan teman Anda punya dukungan keluarga yang sama? Apakah Anda dan teman Anda punya akses terhadap sumber daya yang sama? Apakah Anda dan teman Anda punya tanggung jawab hidup yang sama? Apakah Anda dan teman Anda punya kondisi mental yang sama?

Jawabannya hampir pasti: tidak.

Maka membandingkan diri Anda dengan mereka sama saja seperti membandingkan perenang di kolam yang berbeda kedalamannya. Tidak masuk akal.

Lalu dengan siapa Anda seharusnya membandingkan diri?

Bandingkan diri Anda hari ini dengan diri Anda kemarin. Apakah hari ini Anda sedikit lebih baik dari kemarin? Mungkin Anda berhasil mengerjakan satu tugas yang kemarin tertunda. Mungkin Anda berhasil tidur lebih awal. Mungkin Anda berhasil tidak membandingkan diri dengan orang lain selama beberapa jam. Itu sudah kemajuan.

Bandingkan usaha Anda sekarang dengan usaha Anda sebelumnya. Apakah Anda masih berusaha meskipun berat? Apakah Anda masih mencoba meskipun sudah berkali-kali gagal? Apakah Anda masih percaya meskipun semua terlihat gelap? Itu sudah lebih dari cukup.

Bandingkan ketahanan Anda hari ini dengan ketahanan Anda di masa lalu. Dulu mungkin Anda akan hancur setelah satu kegagalan. Sekarang Anda bisa bangkit setelah lima kegagalan. Itu bukan kemunduran. Itu pertumbuhan.

Perbandingan yang sehat bukanlah perbandingan vertikal dengan orang lain, melainkan perbandingan horizontal dengan diri sendiri di masa lalu.

Langkah Kecil yang Bisa Anda Ambil Hari Ini

Saya tidak akan memberi Anda solusi ajaib. Karena tidak ada. Tapi ada langkah-langkah kecil yang bisa dicoba. Bukan untuk menyelesaikan semua masalah sekaligus, tetapi untuk sedikit meringankan beban.

Langkah 1: Akui bahwa Anda sedang tidak baik-baik saja Ini langkah paling sederhana tapi paling sulit. Kita sering berpura-pura baik-baik saja karena takut dianggap lemah. Tapi dengan berpura-pura, kita hanya menunda penyembuhan.

Coba katakan pada diri sendiri: "Saya sedang tidak baik-baik saja hari ini. Dan itu tidak masalah."

Dengan mengakui, Anda memberi izin pada diri untuk merasakan apa yang memang sedang dirasakan. Tanpa rasa bersalah. Tanpa tekanan untuk segera membaik.

Langkah 2: Batasi paparan media sosial untuk sementara Media sosial adalah mesin pembanding yang tak pernah berhenti. Setiap kali Anda membukanya, Anda akan disuguhi kehidupan orang lain yang tampak sempurna.

Tidak perlu menghapus akun. Cukup lakukan ini:

Kurangi waktu scroll, misalnya hanya 15 menit sehari

Unfollow atau mute akun-akun yang membuat Anda insecure

Ingatkan diri setiap kali membuka: "Ini hanya cuplikan terbaik mereka, bukan cerita utuh"

Langkah 3: Cari satu orang untuk diajak bicara Anda tidak perlu curhat panjang lebar. Cukup cari satu orang yang Anda percaya. Bisa sahabat, kakak, dosen pembimbing, atau konselor kampus.

Coba katakan: "Aku lagi berat banget akhir-akhir ini. Bisa dengerin sebentar?"

Terkadang, sekadar mengucapkan apa yang kita rasakan sudah mengurangi setengah dari bebannya. Dan ketika seseorang mendengarkan tanpa menghakimi, itu seperti oksigen bagi jiwa yang sedang sesak.

Pecah tugas menjadi bagian yang sangat kecil. Jika ada tugas yang terasa berat dan tidak bisa dimulai, coba pecah menjadi bagian yang lebih kecil. Sangat kecil. Sampai sekecil mungkin.

Contoh:

Jangan target "menyelesaikan makalah" Cukup target "membuka laptop" Setelah itu target "membuka file makalah" Setelah itu target "menulis satu kalimat" Setelah itu target "menulis satu paragraf"

Setiap kali Anda menyelesaikan satu langkah kecil, akui itu sebagai kemenangan. Karena memang itu kemenangan.

Langkah 5: Buat daftar "hal kecil yang berhasil dilakukan hari ini" Setiap malam sebelum tidur, tulis tiga hal kecil yang berhasil Anda lakukan hari ini. Tidak perlu hal besar. Contoh:

Berhasil bangun sebelum jam 9 Berhasil minum air putih Berhasil keluar dari kamar meskipun sebentar Berhasil mengerjakan satu soal Berhasil membalas satu pesan yang sudah lama tertunda

Daftar ini akan mengingatkan Anda bahwa Anda tidak diam. Anda bergerak. Pelan, tapi bergerak.

Langkah 6: Hapus kata "seharusnya" dari kamus mental "Seharusnya saya sudah lebih maju." "Seharusnya saya bisa seperti dia." "Seharusnya saya tidak gagal."

Kata "seharusnya" adalah musuh terbesar ketenangan pikiran. Karena ia membawa Anda pada ekspektasi yang tidak realistis dan penyesalan yang tidak berguna.

Coba ganti dengan: "Saya di sini sekarang. Dan itu tidak masalah. Saya akan bergerak dari sini."

Langkah 7: Ingatkan bahwa ini hanya fase Rasa putus asa tidak akan bertahan selamanya. Tidak ada perasaan yang permanen. Seperti cuaca, ia akan berganti. Seperti ombak, ia akan datang dan pergi.

Saat Anda sedang di titik terendah, ingatkan diri: "Ini hanya fase. Saya akan melewatinya."

Mungkin tidak hari ini. Mungkin tidak besok. Tapi suatu saat nanti, Anda akan melihat ke belakang dan menyadari bahwa Anda berhasil keluar dari masa sulit itu.

Untuk yang Masih Bertahan

Mungkin di antara Anda ada yang membaca artikel ini sambil menangis diam-diam. Mungkin Anda sedang di kamar kos, di perpustakaan, di sudut kelas, atau di mana pun tempat Anda bersembunyi dari dunia.

Saya ingin mengatakan sesuatu langsung kepada Anda. Anda tidak gagal hanya karena Anda belum berhasil. Anda tidak tertinggal hanya karena Anda bergerak lebih lambat. Anda tidak kalah hanya karena Anda masih berjuang sementara orang lain terlihat sudah sampai. Anda sedang bertahan. Dan bertahan, di saat banyak orang mungkin sudah menyerah, adalah bentuk keberanian yang luar biasa. Tidak ada yang akan memberi standing ovation untuk itu. Tidak ada yang akan membuatkan piagam untuk itu. Tapi Anda tahu. Saya tahu. Dan semua orang yang pernah berada di posisi Anda tahu: bertahan adalah kemenangan yang tidak terlihat.

Jadi jika hari ini Anda hanya bisa melakukan satu hal, lakukan ini:

Jangan menyerah.

Cukup itu. Besok, coba lagi. Lusa, coba lagi. Sampai suatu hari Anda bangun dan menyadari bahwa rasa putus asa itu sudah tidak seberat dulu.

Dan pada hari itu, Anda akan tahu bahwa semua perjuangan Anda tidak sia-sia.

Kembali ke pertanyaan awal: "Kenapa saya tidak seperti mereka?"

Mungkin jawabannya bukan karena Anda kurang. Mungkin jawabannya karena Anda sedang berada di babak yang berbeda.

Mereka mungkin sedang di babak di segalanya terlihat berhasil. Anda mungkin sedang di babak di segala terasa sulit. Dan itu tidak masalah. Karena setiap orang punya kronologinya sendiri.

Anda tidak perlu menjadi seperti mereka. Anda hanya perlu menjadi versi terbaik dari diri Anda sendiri. Dengan kecepatan Anda sendiri. Di jalur Anda sendiri.

Jadi teruslah berjuang. Teruslah bertahan.

Dan ingatlah: Anda tidak tertinggal. Anda hanya sedang memproses perjalanan yang berbeda.

 

Untuk siapa pun yang sedang membaca ini dan sedang merasa putus asa: terima kasih sudah bertahan hari ini. Saya bangga dengan Anda.

(Foto: Depositphotos;creative-crisis-fatigue-mental-stress-depression-frustration-concept)

  0 Views    Likes  

STRATEGI MERNACANG IMPIAN DAN LANGKAH  NYATA MENUJU KESUKSESAN

previous post

UU PPRT Dalam Sorotan: Kelebihan, Kekurangan dan Kesiapan Pemerintah
STRATEGI MERNACANG IMPIAN DAN LANGKAH  NYATA MENUJU KESUKSESAN

next post

STRATEGI MERNACANG IMPIAN DAN LANGKAH NYATA MENUJU KESUKSESAN

related posts