Seorang CEO perusahaan terkenal Zhang memutuskan untuk mencari calon istri. Setelah seleksi beribu-ribu wanita, ia tak menemukan orang yang cocok di hatinya. Ketika dirinya pergi ke toilet, ia terpesona dengan seorang wanita, tidak lain dan tidak bukan, seorang pekerja kebersihan di tempatnya bekerja. Saat akan masuk ke dalam toilet, ia tak sengaja menginjak lantai yang basah dan terjatuh. Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Kisah seperti ini tampak receh dan berlebihan, namun justru di situlah letak daya tariknya. Banyak drama Cina, terutama jenis mikro drama (drama singkat 1-3 menit) populer karena menjual fantasi mobilitas sosial: orang biasa yang mendadak dipilih orang kaya, pekerja rendahan yang tiba-tiba naik kelas, atau perempuan miskin yang masuk dunia elite. Di tengah kerasnya realitas ekonomi, fantasi semacam ini terasa manis untuk dikonsumsi.
Sudah beribu kali saya pendengar kisah serupa, seorang CEO, pengusaha kaya raya yang rendah hati, bangsawan—atau bahkan kaisar—jatuh cinta dengan wanita atau pria biasa. Yang tak pernah saya sangka, drama ini menjadi konten yang mengawali pagi saya sebelum berangkat kuliah hari ini. Drama dari negeri tirai bambu, yang akrab dikenal dengan nama drama Cina (dracin), merebak di sosial media belakangan ini. Meski alurnya repetitif dan aktingnya sering terasa kaku, drama picisan ini justru digemari banyak orang, tak disangka, masyarakat dari berbagai kalangan, utamanya generasi muda, pekerja dan masyarakat umum sangat menyukai jenis drama seperti ini. Saking penasarannya dengan alasan sebenarnya dari popularitas dracin ini, saya bertanya pada seorang kawan yang sedang berkuliah jauh di Bogor sana. Ia adalah satu-satunya orang yang saya yakini, bisa nonton dracin sambil menutup mata.
“Dracin ceritanya terlalu liar, jadi suka soalnya bikin fantasi Gue makin kemana-mana”
Seketika saya mengelus dada, bukan karena menghakimi, tapi karena ini jawaban yang tak pernah terpikir akan keluar dari mulut seorang penggemar dracin—ya walaupun memang betul, karena ia menjawabnya melalui ketikan—dari kalangan mahasiswa.
Tak puas, saya bertanya kembali pada teman SMP saya yang sudah bekerja, teman organisasi, hingga bapak penjaga kos. Jawaban-jawaban tersebut hampir serupa: dracin menghibur setelah lelah bekerja. di sela rutinitas dan tekanan ekonomi. Kisah orang biasa yang mendadak hidup mewah memberi sensasi pelarian yang singkat namun memuaskan. Durasi pendek dan cliffhanger membuat fantasi itu dikonsumsi cepat, berulang, dan adiktif. Sebagian besar menyukai tipe mikrodrama, namun ada juga yang menyukai drama panjang yang tersedia di aplikasi streaming seperti Netflix, Melolo hingga Viu. Drama Cina, terutama yang berjenis mikrodrama masa kini memang sedang digemari masyarakat Indonesia. Berdasarkan informasi yang saya kutip dari Xinhua News, popularitas mikrodrama Cina mulai menguat sejak awal tahun 2023 (Xinhua, 2024), ditandai dengan lonjakan konten drama singkat yang tersebar melalui media sosial. Para pekerja kantoran yang lelah, ibu rumah tangga, dan penjaga kos yang bosan, tentu butuh hiburan untuk mengatasi kejenuhannya, namun juga tak punya waktu untuk menonton drama panjang yang menghabiskan waktu. Di sinilah dracin dengan konsep mikrodrama hadir mengisi permintaan tersebut.
Jika dilihat dari kacamata ide cerita, banyak drama populer Cina, terutama mikrodrama romantis, memiliki pola serupa: menjual angan-angan di kalangan masyarakat. Cerita CEO dan pegawai kantor, seorang kaisar dengan hambanya atau berpacaran dengan pengusaha kaya raya yang dominan, semua itu merupakan gambaran utopis masyarakat kelas bawah yang dijual kembali sebagai mimpi yang bisa dinikmati secara instan oleh masyarakat umum. Dari kacamata Teori Stuart Hall, representasi bukan hanya dilihat sebagai pencerminan realitas, namun juga cara makna dibentuk (Berliana & Setyawan, 2023). Menikahi CEO, bangsawan atau pengusaha kaya raya, sama-sama menawarkan angan-angan mobilitas vertikal yang jarang terlihat di negara yang berbasis komunisme seperti Tiongkok. Keajaiban ekstrem ini menjadi ‘candu’ yang menawarkan kesuksesan instan yang didambakan banyak masyarakat kelas bawah. Menariknya, fantasi naik kelas ini datang dari Tiongkok, negara yang secara politik masih dipimpin Partai Komunis. Namun dalam praktik ekonominya, Tiongkok modern justru sangat kompetitif dan sarat kesenjangan. Karena itu, kisah CEO menikahi pekerja biasa terasa ironis: negara yang lahir dari semangat kesetaraan kini menjual mimpi untuk dipilih elite.
Pada akhirnya, dracin bukan sekadar hiburan receh. ia menunjukkan satu hal: ketika mobilitas sosial terasa makin jauh di dunia nyata, masyarakat akan mencarinya di layar ponsel. (Foto: Pexels/Linkedin Sales Navigator)
previous post
Privasi Data: Apakah Data Kita Benar-Benar Aman?