Kasus penyerangan mahasiswi di lingkungan UIN Sultan Syarif Kasim Riau menyisakan pertanyaan yang lebih besar dari sekadar kronologi kejadian. Mengapa sebuah penolakan dalam hubungan bisa berujung pada tindakan seagresif itu? Dalam kehidupan sehari-hari, ditolak memang menyakitkan, tetapi tidak semua orang meresponsnya dengan cara yang sama. Ada yang mampu menerima dan bangkit, ada pula yang merasa harga dirinya runtuh. Di titik inilah psikologi memberi kita cara membaca peristiwa ini dengan lebih jernih.
Psikolog Roy F. Baumeister menjelaskan dalam teorinya tentang ego threat and aggression bahwa kekerasan sering kali muncul ketika ego seseorang merasa terancam. Agresi bukan selalu lahir dari rasa rendah diri, tetapi dari harga diri yang rapuh dan tidak siap diuji. Ketika seseorang membangun identitasnya di atas pengakuan atau kepemilikan atas orang lain, penolakan terasa seperti penghinaan personal. Rasa malu bercampur marah bisa menciptakan dorongan untuk “memulihkan” martabat yang dianggap hilang. Sayangnya, pemulihan itu ditempuh dengan cara yang keliru. Kekerasan menjadi jalan pintas untuk menutup luka pada ego.
Di sisi lain, ada pula konsep obsessive relational intrusion, yaitu kecenderungan untuk tetap memaksakan kedekatan meskipun sudah tidak diinginkan. Dalam pola ini, pasangan tidak lagi dipandang sebagai individu yang bebas menentukan pilihan, melainkan sebagai bagian dari kepemilikan diri. Ketika hubungan berakhir, yang terasa bukan hanya kehilangan, tetapi juga hilangnya kontrol. Pikiran seperti “aku sudah berjuang, jadi aku berhak” bisa muncul tanpa disadari. Jika obsesi ini dibiarkan, batas antara cinta dan dominasi menjadi kabur. Dari sinilah potensi agresi semakin membesar.
Faktor lain yang tak kalah penting adalah rejection sensitivity dan rendahnya kemampuan emotion regulation. Individu dengan sensitivitas tinggi terhadap penolakan cenderung menafsirkan konflik secara lebih menyakitkan dari yang sebenarnya. Emosi yang muncul bisa jauh lebih intens dan sulit diredam. Dalam kondisi marah yang memuncak, kemampuan berpikir rasional menurun drastis. Keputusan diambil berdasarkan dorongan sesaat, bukan pertimbangan jangka panjang. Di momen seperti itulah tindakan impulsif sering terjadi, dengan konsekuensi yang tidak pernah sederhana.
Peristiwa ini seharusnya menjadi pengingat bahwa cinta yang sehat tidak pernah dibangun di atas kepemilikan atau ego yang tak terkendali. Penolakan adalah bagian normal dari relasi manusia, dan menerimanya dengan dewasa justru menunjukkan kematangan psikologis. Literasi tentang regulasi emosi, batasan dalam hubungan, serta kesadaran akan tanda-tanda posesif perlu diperkuat, terutama di lingkungan kampus. Kekerasan dalam relasi bukan muncul tiba-tiba; ia tumbuh dari emosi yang tidak pernah dipahami. Dan memahami adalah langkah pertama untuk mencegahnya terulang.
previous post
Membaca Hidup Orang Lain untuk Memahami Diri Sendiri