Transformasi pendidikan akibat pandemi covid-19

Seperti yang sudah kita ketahui, cara belajar mengajar yang paling umum dilakukan adalah menggunakan metode tatap muka yaitu siswa harus datang ke sekolah dan dapat berinteraksi langsung dengan guru, teman, dan tenaga kependidikan lainnya. Namun, akibat adanya pandemi Covid-19 yang mengharuskan masing-masing individu untuk menjaga jarak, maka mulailah diperkenalkan metode pembelajaran baru yaitu menggunakan media alat elektronik berupa handphone atau laptop dan komputer atau yang lebih dikenal dengan sistem pembelajaran online.

Kesadaran untuk melakukan pembelajaran online dilakukan dengan tujuan agar pembelajaran tetap dapat berjalan dengan baik meski kita tetap harus waspada dari virus yang sedang mewabah. Pada perkembangannya, ada beberapa metode pembelajaran online yang dilakukan agar para guru dan siswa tetap dapat berinteraksi. Metode tersebut antara lain melalui WhatsApp, Zoom, Google Meet, dan lainnya.

Pembelajaran dengan metode online tersebut berjalan sekitar 2 (dua) hingga 3 (tiga) tahun. Selanjutnya seiring mulai berakhirnya pandemi Covid-19, maka pemerintah meminta kembali siswa untuk belajar di sekolah secara bertahap dan sesuai dengan protokol kesehatan yang berlaku. Setelah pembelajaran bertahap yang merupakan kombinasi dari online dan offline (tatap muka) dinilai berhasil dan selain itu didukung dengan penetapan perubahan kondisi pandemi Covid-19 menjadi endemi, maka pembelajaran online juga semakin dikurangi sehingga secara bertahap berubah menjadi pembelajaran tatap muka 100 persen.

Kondisi ini menyebabkan para guru, tenaga kependidikan, dan siswa harus beradaptasi kembali dengan cepat. Siswa yang tadinya tidak harus datang ke sekolah, secara bertahap mulai masuk sekolah kembali. Diawali dari hanya 50 persen siswa yang harus datang ke sekolah secara bergantian dengan waktu belajar yang hanya sekitar dua (2) hingga empat (4) jam saja, secara bertahap selama beberapa bulan sudah menjadi belajar selama 100 persen.

Selain kesulitan untuk melatih kedisiplinan siswa datang ke sekolah tepat waktu, pembelajaran tatap muka juga dihadapkan pada masalah kesulitan yang dialami siswa  untuk menghilangkan ketergantungan  terhasap gadget dan peralatan elektronik lainnya. Terlalu lama tidak melakukan tatap muka juga mendorong siswa menjadi kurang mengenal teman-teman sekelasnya. Hal ini para siswa minim untuk melakukan komunikasi secara langsung kepada siswa yang lain akibat pandemi Covid-19. Interaksi yang dilakukan para siswa tersebut lebih banyak menggunakan gadget dibandingkan melakukan interaksi sosial. Dampak lain dari pembelajaran online juga memicu siswa menjadi kurang fokus dalam memperhatikan materi yang dijelaskan oleh gurunya. Ini adalah tantangan yang besar di dunia Pendidikan yang harus segera diselesaikan untuk mengubah perilaku siswa yang sebelumnya lebih mengutamakan gadget saja.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, maka para guru dan siswa harus mampu berkomunikasi secara lebih efektif dan harus lebih cepat beradaptasi. Alhasil setelah melakukan pembelajaran tatap muka, guru melakukan modifikasi dalam sistem pembelajaran maupun pelaksanaan ujian. Apabila sebelumnya guru lebih mengandalkan pembelajaran menggunakan buku saja, maka setelah berakhirnya pandemi Covid-19 guru juga sering memberikan materi melalui youtube, slideshow,  dan lainnya. Sedangkan untuk pelaksanaan ujian, guru lebih memilih untuk menggunakan website E-learning atau google form.

Kombinasi  pembelajaran tatap muka dengan teknologi (online) diharapkan menjadi solusi yang tepat bagi guru dan siswa  di era digital ini. Perubahan yang sangat signifikan ini memang tidak mudah untuk dilakukan dengan cepat.  Agar keberhasilan sistem Pendidikan yang baru di era digital dapat segera terealisasikan, maka semua pihak yang terlibat harus memiliki peran aktif. Tidak hanya pihak sekolah yang harus memiliki peran aktif, melainkan juga peran dari siswa dan orang tua siswa. Dukungan yang dibutuhkan tidak hanya berupa keiinginan untuk belajar saja, melainkan juga kemampuan untuk mengaplikasikan teknologi dan dukungan gadget yang memadai untuk menerapkan sistem pembelajaran yang baru. Selain itu dukungan data internet kini menjadi sangat penting bagi guru dan siswa untuk menjalankan pembelajaran.

Saat ini, transformasi pendidikan di era digital dianggap sudah dapat diterima oleh semua pihak dan dinilai paling efektif untuk diterapkan. Di satu sisi, siswa menggunakan gadget tidak hanya untuk bermain saja melainkan juga untuk mengerjakan tugas dengan baik. Kemampuan para siswa untuk mengoperasikan komputer dalam berbagai program juga menjadi semakin meningkat seiring semakin banyaknya tugas yang kreatif yang diberikan oleh guru seperti misalnya tugas untuk membuat tutorial melalui youtube, kolase foto, dan lainnya. Selain itu, dari sisi guru atau pengajar, khususnya para pengajar senior yang sebelumnya kurang memahami teknologi menjadi lebih mampu memahami teknologi karena mereka juga harus beradaptasi dengan teknologi di era digitalisasi.

  13 Views    Likes  

Dark Empath, Kepribadian Ganda “Si muka dua”

previous post

Peran Teknologi dalam Transformasi Pendidikan di Era Digital
Dark Empath, Kepribadian Ganda “Si muka dua”

next post

Dark Empath, Kepribadian Ganda “Si muka dua”

related posts