banner

Aksara yang Terlupakan oleh Pemiliknya (bagian 2)

Seperti yang sudah dibahas di artikel sebelumnya (Aksara yang Terlupakan oleh Pemiliknya bagian 1), bahwa dalam bahasa Sunda terdapat beberapa variasi baik dalam pelafalan maupun penulisan huruf E. Apa saja variasinya dan bagaiamana membedakannya?

Di kasus tertentu dalam Bahasa Indonesia, kadang kita kesulitan untuk membedakan kapan harus melafalkan huruf E seperti dalam frasa “buah apel” dan kapan kita melafalkan huruf E seperti dalam frasa “apel pagi”. Saat kita membacanya dalam sebuah kalimat atau frasa, kita akan dengan mudah mengidentifikasi bagaimana huruf E tersebut dilafalkan. Namun, lain cerita jika kita hanya menemukan hanya dalam satu kata seperti pada kata “ide”. Tak jarang beberapa dari kita memiliki pelafalan yang berbeda pada kata “ide”. pelafalan huruf E seperti apa yang digunakan? Berbeda dengan Bahasa Indonesia, dalam Bahasa Sunda memiliki cara untuk membedakan pelafalan huruf E, baik saat Bahasa Sunda itu ditulis dalam huruf latin maupun dalam Aksara Sunda sendiri. Sebenarnya, dalam Bahasa Sunda terdapat tiga (3) variasi huruf E, diantaranya; E, É dan EU. Dalam Aksara Sunda, menjadi:

Huruf E

Pada huruf E ini, pelafalannya seperti pada kata “pertama”, “teman” dan “sepatu”.
Huruf É

Pelafalan huruf É ini seperti saat kita membaca kata “beta”, “bebek” dan “senopati”. Jika ditulis dalam aturan Bahasa Sunda, maka akan menjadi; béta, bébék dan sénopati.
Huruf EU

Sebenarnya dalam Bahasa Indonesia, pelafalan huruf ini jarang ditemukan. Namun, jika kita menggunakan Bahasa Sunda, maka kita akan sering menggunakan huruf tersebut. Salah satu contohnya yaitu pada frasa “peuyeum sampeu”. Sebenarnya pelafalannya hampir mirip dengan huruf E, namun pada huruf ini pelafalannya lebih ‘medok’. Setelah mengetahui variasi huruf E dalam Bahasa Sunda, kita akan lebih mudah mengidentifikasi cara melafalkan huruf E. Mari kita ambil contoh pada kata “apel”.

Tanpa melihat konteks kalimat atau frasa dari kata tersebut, kita sudah bisa mengidentifikasi kedua kata tersebut. Pada kata “apel” berarti buah apel, sedangkan pada kata “apél” berarti upacara. Karena, jika kata “apel” berarti upacara yang dilakukan sebelum memulai kegiatan, maka akan huruf E-nya akan di tulis “É” seperti pelafalan huruf E pada kata “bebek”. Sedangkan, jika kata “apel” di mana merupakan salah satu nama buah, maka akan ditulis “E” seperti pelafalan huruf E pada kata “teman”. Sampai di sini dulu pembahasan tentang Bahasa dan Aksara Sunda, Mari kita sama-sama belajar dan terus melestarikan bahasa dan budaya yang kita miliki. “Sejauh apapun kita menyusuri dunia, tanah kelahiran akan selalu menjadi tujuan kita pulang.”
  78 Views    Likes  

banner
Cara Menjadi Pendengar yang Baik

previous post

Cara Mudah dan Cepat Menghafal 16 Tenses Bahasa Inggris
Cara Menjadi Pendengar yang Baik

next post

Cara Menjadi Pendengar yang Baik

related posts