ANALOGI MATEMATIKA DAN GARIS SINGGUNGNYA DENGAN KEHIDUPAN BERAGAMA

Halo Sobat OSC!

Hope you always have a blessed day!!

Agama dan keilmuan adalah dua aspek dalam kehidupan yang tidak dapat dipisahkan. Seseorang dapat beragama dengan baik melalui pengetahuan atau keilmuan yang menuntun akal dan hati untuk bertakwa pada Allah swt. Dengan pengetahuan dan ilmu agama yang baik, maka kualitas ibadah seseorang pun akan semakin baik.

Salah satu cabang ilmu yang mendasari ilmu yang lain adalah matematika. Tidak dapat dipungkiri, bahwa banyak sekali matematikawan muslim terdahulu yang memberikan tiang-tiang dasar ilmu perhitungan, seperti Al-Khawarizmi, Al-Bawzajani, Ibnu Laban, dan masih banyak lagi.

Dengan adanya sejarah keilmuwan matematika dan Islam, maka dapat ditarik sebuah garis singgung yang menghubungkan keduanya. Keduanya, masing-masing diumpakan sebagai suatu kesatuan yang membentuk lingkaran. Dari dua lingkaran tersebut, dapat ditarik sebuah garis singgung yang menghubungkan dua titik dari kedua lingkaran, yaitu lingkaran agama Islam dan lingkaran matematika.

Nilai-nilai matematika dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Seperti analogi ketauhidan Allah, yaitu angka satu. Angka satu adalah angka yang berdiri sendiri, dan tidak memerlukan angka lain sebagai pembentuknya. Hal ini selaras dengan salah satu sifat wajib Allah, yaitu qiyamuhu binafsihi (berdiri sendiri).

Selain itu, nilai matematika dalam kehidupan sehari-hari juga dapat ditemukan pada analogi proses dan pencapaian seseorang. Setiap manusia memiliki jalan, tahap, dan prosesnya sendiri untuk meraih sebuah tujuan. Ada beberapa orang yang jalannya mulus, ada juga beberapa orang yang harus melalui kenaikan dan penurunan dalam prosesnya. Hal ini dapat dianalogikan dengan operasi hitung bilangan bulat.

Misalnya, ada dua mahasiswa yang memiliki mimpi untuk sukses. Analogi kesukesan mereka adalah nilai 10. Mahasiswa pertama memiliki jalan yang mulus, dia selalu dapat menambah kualitas dan kuantitas keilmuwannya untuk mencapai kesuksesan, yang mana memiliki nilai 10. Namun, prosesnya sangat lamban. Meskipun begitu, dia tetap dapat meraih kesuksesan. Mahasiswa kedua melalui proses yang lebih rumit. Kadang dia  mengalami kenaikan dalam keilmuwannya untuk mencapai kesuksesan, namun kadang juga dia mengalami penurunan.

Analogi untuk mahasiswa pertama yang memiliki proses mulus karena progresnya selalu naik, meskipun memiliki proses yang cukup lama adalah operasi berikut: 2+1+0.5+2+3+0.5+1. Sedangkan analogi untuk mahasiswa kedua yang memiliki proses yang rumit dan progres yang naik turun, adalah sebagai berikut: 4-2+5-6+4+3-2+4. Kedua mahasiswa tersebut memiliki prosesnya masing-masing. Namun, keduanya memiliki hasil akhir berupa nilai 10, yang mana memiliki arti kesuksesan.

Di samping itu, untuk mencapai nilai 10 atau kesuksesan, selalu ada keterlibatan angka satu di dalamnya. Menggunakan analogi ketauhidan, angka satu adalah suatu angka yang menjadi penyusun suatu angka atau bilangan yang lain. Hal ini memiliki arti, bahwa Allah selalu memiliki keterlibatan dalam setiap proses dan upaya manusia.

Dari dua analogi ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa setiap orang dapat memiliki jalan yang berbeda. Seseorang tidak dapat meremehkan individu lain hanya karena kemunduran dalam prosesnya. Karena seseorang tidak dapat mengetahui bagaimana hasil akhir dari individu tersebut. Di samping itu, seseorang harus selalu melibatkan Allah dalam setiap prosesnya untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Terima kasih karena telah membaca sampai akhir!

Semoga bermanfaatt!!

  67 Views    Likes  

Pendaftaran Program Kampus Mengajar Angkatan 8 sudah Dibuka!

previous post

Moralitas dan Etika Profesional dalam Menyongsong Generasi Pemimpin Masa Depan
Pendaftaran Program Kampus Mengajar Angkatan 8 sudah Dibuka!

next post

Pendaftaran Program Kampus Mengajar Angkatan 8 sudah Dibuka!

related posts