Belanda sering disebut sebagai “negara pesepeda.” Hampir setiap sudut kota—mulai dari jalan besar, jalur pinggir sungai, sampai kawasan perumahan—dipenuhi orang yang berangkat kerja, kuliah, atau sekadar berbelanja dengan sepeda. Kebiasaan ini bukan sekadar gaya hidup, tetapi sudah menjadi bagian dari budaya dan sistem transportasi mereka. Di Belanda, bersepeda dianggap cara paling efisien, murah, dan sehat untuk bergerak sehari-hari. Kebiasaan ini menarik untuk dilihat lebih dekat karena banyak hal dari budaya tersebut sebenarnya bisa diterapkan di Indonesia.
Ada beberapa alasan yang membuat masyarakat Belanda begitu identik dengan sepeda. Pertama, negara ini memiliki infrastruktur yang sangat mendukung, seperti jalur sepeda yang luas, aman, dan terhubung ke hampir semua area kota. Kedua, pemerintah juga memberi prioritas tinggi pada transportasi ramah lingkungan, sehingga bersepeda menjadi pilihan yang cepat dan praktis dibandingkan kendaraan bermotor. Selain itu, kondisi kota yang datar membuat aktivitas bersepeda terasa ringan untuk semua usia—mulai dari anak sekolah hingga pekerja senior.
Belanda tidak hanya menyediakan jalur sepeda, tetapi juga memastikan jalur itu aman, terawat, dan diberi prioritas. Ada lampu lalu lintas khusus sepeda, tempat parkir sepeda yang sangat besar, hingga aturan lalu lintas yang melindungi pesepeda. Bahkan di beberapa kota, mobil harus mengalah kepada pesepeda. Infrastruktur seperti ini membuat pengguna sepeda merasa nyaman dan terlindungi sehingga jumlah pesepeda terus meningkat setiap tahun.

Bersepeda bukan hanya alat transportasi; bagi masyarakat Belanda, ini sudah menjadi gaya hidup. Banyak orang memilih sepeda untuk menjaga kesehatan, menghemat uang, atau sekadar menikmati suasana kota. Kebiasaan sederhana ini terbukti menurunkan polusi, mengurangi stres, dan meningkatkan kebugaran masyarakat. Tidak heran jika Belanda termasuk salah satu negara dengan kualitas hidup paling baik di Eropa.
Budaya bersepeda memberikan banyak dampak positif. Kota menjadi lebih tenang karena suara kendaraan bermotor berkurang, kualitas udara lebih bersih, dan ruang publik lebih nyaman. Selain itu, bersepeda membuat kota tidak lagi didominasi parkiran mobil, sehingga ruang bisa dipakai untuk taman, jalur hijau, atau fasilitas umum lainnya. Masyarakat pun terbiasa bergerak aktif, yang berdampak pada kesehatan dan produktivitas mereka.

Budaya bersepeda di Belanda menunjukkan bahwa transportasi ramah lingkungan bukan hal yang mustahil. Indonesia sebenarnya punya potensi besar untuk mengembangkan kebiasaan serupa—mulai dari kota besar hingga kota kecil. Dengan menyediakan jalur sepeda yang aman, ruang publik yang mendukung, dan kebijakan pemerintah yang berpihak, masyarakat Indonesia bisa didorong untuk lebih aktif bergerak. Selain mengurangi kemacetan dan polusi, kebiasaan ini juga baik untuk kesehatan, khususnya bagi pelajar, mahasiswa, dan pekerja muda yang sering menghabiskan waktu duduk berjam-jam. Jika kita mulai membiasakan diri dengan pola hidup yang lebih sehat, perubahan itu bisa menjadi langkah awal menuju kota yang lebih bersih, tertib, dan nyaman.
Budaya bersepeda di Belanda memberikan contoh nyata bagaimana sebuah negara dapat membangun sistem transportasi yang sehat, efektif, dan ramah lingkungan. Kebiasaan sederhana seperti bersepeda ternyata mampu membawa banyak manfaat—mulai dari kesehatan tubuh hingga peningkatan kualitas kota. Indonesia memiliki peluang besar untuk meniru hal positif ini, terutama jika didukung dengan infrastruktur yang tepat dan kesadaran masyarakat yang semakin tinggi. Dengan mendorong kebiasaan bersepeda, kita bisa menciptakan lingkungan yang lebih baik sekaligus membentuk generasi muda yang aktif dan sehat.
previous post
Banyumas Ngibing 24 Jam Menari Menghidupkan Jati Diri