banner

CERPEN 'Meraih Cita Cita dari rumah'

'Sekolahku di rumah, di rumah ku sekolah' mungkin hal itu yang terpikirkan saat ini, saat dimana sekolah dilakukan dari jarak jauh tanpa bertatap muka, bertemu guru dan teman hanya melalui layar ponsel atau laptop. Hari itu aku merasa benar benar sedih dan bertanya tanya mengapa hal ini terjadi, mengapa aku tidak bisa belajar di sekolah, bahkan aku mengira bahwa ini hanya sementara tetapi aku menyadari bahwa hal tersebut terjadi hampir setahun. Aku seorang murid kelas 3 SMA, yang memiliki keinginan bersekolah offline (luring), teman teman yang lain pasti begitu, tetapi dengan situasi dan kondisi yang ada, kita tidak ditakdirkan untuk bertemu sementara waktu. Aku jelas merasa sedih bahkan saat mengikuti pelajaran melalui daring aku pun merasa tidak sebahagia saat mengikuti pelajaran di sekolah, pasti kau juga kan? Ya, aku yakin begitu. Aku seorang anak dari keluarga sederhana yang hidup apa adanya, saat sekolah dilakukan melalui daring aku merasa sudah menyusahkan orang tuaku, karena orang tuaku harus menyisihkan uangnya untuk membeli paket internet. Ya, ayahku beliau yang bekerja banting tulang untuk keluarga, dia seorang buruh yang hanya masuk kerja satu bulan 13 hari dengan begitu gaji yang didapat pun tidak seberapa, bahkan bisa dibilang kurang untuk kehidupan selama satu bulan, ibuku hanya ibu rumah tangga, dan aku memiliki 1 adik yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Sehingga ayahku memiliki tanggungan untuk menyekolahkan kedua anaknya. "Yah, paketanku habis. Besok aku ada kelas dan adik juga ada kelas, bagaimana yah? Apa ayah ada uang?" Ucapku pelan, bahkan aku tidak berani untuk mengatakannya tetapi, aku sangat butuh hari itu. "Besok ya? Ayah masih belum ada uang hari ini, tetapi ayah usahakan besok ada uang untuk beli paketan" ucapnya. Ada perasaan sedih di matanya. Ayah selalu mengatakan bahwa ia belum bisa menjadih ayah yang baik bagi kedua anaknya, tetapi bagi kami ayahku adalah ayah yang terbaik, jika ayah mengatakan hal itu aku selalu menggodanya "Kalau ada penghargaan ayah terbaik, pasti ayah menang tanpa melakukan apapun, kampanye kalau istilah politiknya." Jika aku mengatakan itu, ayah selalu tersenyum tetapi matanya tetap mengeluarkan air mata. Hingga saat menteri pendidikan mengeluarkan pengumuman bahwa 'Pembelajaran dari rumah diperpanjang hingga akhir 2020.' Kami sekeluarga jelas dibuat bingung dengan keputusan yang dikeluarkan, kami juga bingung bagaimana untuk mengatur keuangan di saat pengeluaran lebih banyak dari pendapatan, saat aku melihat ayah dan ibuku aku melihat segunung kebingungan di mata mereka. Meskipun begitu, ayah selalu mengatakan bahwa ia mampu untuk membiayai sekolah dari rumah untukku dan adikku. Oleh karena itu, aku juga semangat untuk bersekolah meskipun sekolah dari rumah, saat sekolah daring tidak banyak pelajaran yang dapat ku pahami dengan cepat dan baik, kadang aku merasa bingung dengan tugas yang diberikan, bahkan ibuku juga kesusahan saat membantu tugas adikku. Tugas setiap hari, semakin banyak mata pelajaran yang tidak dapat ku pahami dengan baik, sampai sampai aku sering menyalahkan keadaan, aku tahu bahwa semua ini sudah ada yang mengatur dan diatur dengan baik. Tetapi... Bagaimana ya? Aku juga seorang manusia jadi, sedikit wajar manusia ini berpikir begitu hehehe... "Ah, lelah sekali. Lebih enak sekolah offline sajalah." ucapku setiap mendapatkan tugas sekolah yang sulit dipahami. Namun, ibu selalu mengatakan "Tidak apa apa, lelah adalah hal biasa. Tapi bagaimana caranya untuk maju dan tidak menyesal karena kau lelah." Ketika ibu sudah mengatakan hal itu, aku terdiam dan berpikir, apakah aku bisa melanjutkannya? apa aku harus menyerah? Namun, di sisi lain ada semangat yang tumbuh saat ibu mengatakan hal itu, "Aku harus melanjutkannya, ada keluarga yang harus ku bahagiakan, kau mendapatkan apa jika kau menyerah?" sebuah kata yang selalu ku tanyakan kepada diriku saat aku merasa lelah dan hampir menyerah. Hujan deras turun, membuat sendu malam hariku, ayahku yang pulang larut malam dengan raut wajah sedih, sesampainya di rumah ibu langsung bertanya, "Mas, ada apa? Mengapa terlihat sedih sekali?" "Iya yah, ada apa? tidak biasanya ayah seperti ini." sahutku yang juga mengkhawatirkan keadaan ayah. "Tidak apa-apa ayah hanya mendapat kabar sedih." jawab ayah dengan lirih. Sontak aku beserta ibuku kaget dan bertanya-tanya ada apa, ada kabar sedih apa, semuanya bingung. Hingga ayah melanjutkan ceritanya "Ayah, dirumahkan." Tidak butuh waktu lama, aku dan ibuku kaget dan saling menatap seolah tak percaya hal ini terjadi, namun saat kami melihat ayah kamu melihat segudang kesedihan di matanya, raut wajahnya sangat menggambarkan betapa sedihnya dia dengan dirinya. "Maafkan Ayah..." ucapnya dengan mata yang berkaca kaca. Ibu sudah meneteskan air matanya dan tidak kuat untuk berbicara lagi, "Ayah, tidak apa. Masih ada rezeki yang lain, besok kita cari lagi." ucapku. Sepatah kata dariku membuat semua orang pecah dengan tangisnya, aku pun begitu. Tangis kami pecah beradu dengan kecewa, bingung, marah semua bercampur dengan hujan deras yang turun malam ini. Pagi hari, seperti biasa aku dan adikku sudah mandi dan memulai untuk pembelajaran daring, hari ini aku melihat ayah untuk pertama kali di rumah satu hari lamanya, biasanya saat aku memulai pembelajaran ayah pun berangkat kerja. Namun, semuanya berubah mulai kemarin malam, oke semuanya bersiap untuk hari yang baru, ayah pun bergegas untuk mencari kerja yang lain walaupun ia tahu bahwa sulit sekali mencari kerja di tengah keadaan seperti ini, tetapi ayahku ayah yang luar biasa, ia pantang menyerah dan aku pun harus menjadi seperti itu. Saat pembelajaran, aku menemukan banyak sekali kesulitan, sinyal dari Internet di ponselku tidak terbaca. Oleh karena itu, aku beserta ibu dan adikku pergi ke rumah tetangga untuk menumpang internet (Wi-Fi), untung saja tetanggaku baik hati sehingga ia memperbolehkan aku dan adikku untuk bersekolah dari rumahnya. Namun, hal itu terjadi sangat sering, aku merasa tidak enak namun, ayah pun masih belum mendapat pekerjaan, sesusah itu mencari pekerjaan dan sesusah itu pembelajaran daring dari rumah. Malam datang kembali, sedih datang kembali. Pertanyaan waktu itu datang menghantui, "Apa aku harus menyerah?" Itu dia pertanyaan yang akhir akhir ini sering saja muncul di pikiran, apalagi saat ayah dirumahkan oleh perusahaannya. Aku merasa aku menambah beban ayah, aku berpikir bahwa lebih baik aku berhenti sekolah agar ayah hanya membiayai adik sekolah, aku akan mencari pekerjaan untuk menambah biaya hidup keluarga dan aku bisa mengambil kejar paket untuk lulusan SMA ku. Namun, kembali lagi jawaban muncul dari diriku "Ada keluarga yang harus ku bahagiakan." Hal itu kembali memberikan semangat, dengan itu aku mulai bangkit sedikit demi sedikit, aku yakin bahwa hari esok sudah disiapkan dengan baik. Jika aku menyerah hari ini, apakah hari esok lebih baik? Bagaimana jika hari ini, penentu hari esok? Kalau begitu aku akan menjalani hari ini dengan baik dengan begitu hari esokku mungkin bisa lebih baik. Esok pun datang, seperti biasa aku dan adikku memulai hari dengan pembelajaran daring, tugas sudah diberikan, tugas yang diberikan sangatlah membingungkan guruku tidak menerangkan dan langsung memberikan pertanyaan, secara tidak langsung aku berpikir "Apa ini? Tugas macam apa? Aku tidak bisa." Kembali aku menjadi orang yang paling tersiksa, itulah sisi jelek yang kumiliki, aku tidak bisa seoptimis ayahku dan aku tahu itu. Hingga akhirnya aku bisa menjawab semua soal yang diberikan guruku, aku tersadar bahwa aku sebenarnya mampu, aku hanya tidak ingin mencoba dan keluar dari zona nyaman. Aku hanya suka di tempat yang sudah jelas dan tidak ingin mencari hal yang baru sehingga aku seringkali berpikir untuk menyerah menyerah dan menyerah. Ayah pun pulang dan ayah terlihat bahagia sekali, lalu ayah bercerita di ruang tamu dengan suasana sore yang indah ditemani secangkir teh dan pisang goreng menambah erat saja hubungan kami sebagai keluarga. "Ayah sudah mendapatkan pekerjaan, tetapi pekerjaannya hanya supir truk, gajinya pun cukup untuk kehidupan kita." "Syukurlah, ayah sudah dapat pekerjaan saja ibu sudah senang." "Iya ayah, selamat ya. Aku tahu kalau ayah bisa mendapatkannya, ayah kan hebat." Ucapku dengan nada menggoda "Iya, ayahnya siapa dulu..." "Ayahnya, Lala dong." Sahut Lala dari kamarnya. "Ayahnya, Dina juga." Sahutku yang tidak mau kalah dengan Lala. Sontak satu rumah tertawa terbahak-bahak melihat aku dan adikku yang ramai memperebutkan ayah. Hari itu adalah salah satu hari terbaik dalam hidupku, ketika semuanya jatuh ada saatnya akan bangun dan berlari. Hari demi hari dilalui oleh belajar belajar dan belajar online, hingga di titik ini aku tidak pernah lagi berpikir untuk menyerah, karena aku sudah melihat betapa tangguhnya ayahku, aku ingin mencoba sepertinya. Aku melewati hari hari sulit saat masa pandemi dengan belajar online di rumah, tapi hal itu tidak membuatku jatuh hingga tak bangun lagi. Aku sadar hal ini adalah sebuah tantangan untuk tetap semangat meraih cita cita dalam keadaan apapun, ini masih awal dan belum ada apa apanya jika dibandingkan dengan yang lain. Aku harap pandemi ini segera usai dan kita bisa bertemu kembali di sekolah dengan keadaan sehat dan bahagia. Sama sama kita meraih cita cita meskipun keadaanmu dengan keadaanku berbeda. Cita cita bisa tercapai karena banyaknya usaha dan doa yang dilakukan, aku yakin kalian pasti bisa jangan menyerah, kalau menyerah sementara saja jangan lama lama, banyak sekali lawanmu di luar sana yang lebih baik darimu.

  0 Views    Likes  

banner
10 Langkah Membangkitkan Kegeniusan Mengelola Uang ala Robert Kiyosaki

previous post

Gaya Hidup Sehat di tengah pandemi covid-19
10 Langkah Membangkitkan Kegeniusan Mengelola Uang ala Robert Kiyosaki

next post

10 Langkah Membangkitkan Kegeniusan Mengelola Uang ala Robert Kiyosaki

related posts