Merantau untuk pertama kalinya hampir selalu terasa menakutkan. Pada satu titik dalam hidup, setiap orang akan sampai pada momen itu, melangkah pergi demi pekerjaan, pendidikan, atau sekadar mencari arah baru. Bagiku, perjalanan pertama ini ternyata tak semenakutkan yang kubayangkan. Dengan bekal uang seadanya, informasi dari internet, dan keberanian yang lebih mirip kenekatan, aku berangkat ke Kota Pelajar, Yogyakarta, untuk memulai hidup sebagai mahasiswa. Sejak langkah pertama menjejak di sana, Yogya langsung menunjukkan keistimewaannya, bukan lewat arsitektur atau seni semata, melainkan lewat keramahan orang-orangnya.
Tanggal 24 Agustus 2024 menjadi hari keberangkatan itu. Aku terbangun pukul 04.30 pagi, saat langit masih gelap dan udara dingin belum beranjak pergi. Malam sebelumnya aku hampir tak tidur, terlalu antusias untuk berangkat. Rencananya, aku akan berpamitan dengan keluarga sebelum naik shuttle Cianjur–Bandung, namun rencana itu gagal. Angkot yang membawa ibu dan adikku datang terlambat, membuat kami tak sempat bertemu. Sepanjang perjalanan aku menangis diam-diam, takut kehilangan momen terakhir bersama mereka, semua karena keputusanku sendiri yang berangkat terlalu mepet. Momen menyakitkan ini menambah daftar ketakutanku untuk merantau, tapi aku memutuskan untuk terus melanjutkannya.
Sekitar pukul tujuh pagi, aku tiba di Balubur Town Square dan melanjutkan perjalanan ke Stasiun Bandung. Kota Bandung terlihat indah setelah diguyur hujan rintik-rintik pagi ini. Sesampainya di stasiun, di sana aku check-in tiketku untuk kereta Malabar pukul 09.40. Fakta menariknya, tiket itu bukan kubeli sendiri; seorang mentor memberikannya dengan alasan yang aneh, ia bilang kalau ia salah membeli tiket dan ingin memberikannya saja kepadaku. Walau tahu itu hanya cara halusnya membantu, kebaikan itu terasa seperti tangan malaikat, memberikanku pijakan pertama untuk melangkah lebih jauh menuju impianku.
Pukul 09.00, kereta sudah berada di tempatnya. Sebelum naik, aku sempat membeli makan di gerai minimarket stasiun. Untuk seporsi nasi ayam dan minuman, aku menghabiskan lebih dari lima puluh ribu rupiah. Mahal sekali. Tapi aku tetap memakannya dengan lahap sebelum akhirnya masuk ke dalam gerbong. Gerbong ini terlihat bersih dan nyaman. Tidak ada kursi yang tegak lurus sembilan puluh derajat seperti di kereta ekonomi. Aku duduk di kursi pertama yang kutemui, nomor 01, setidaknya itu yang tertulis di tiketku. Setelah semua barang tersimpan rapi, seorang pria menegurku. Ia mengatakan bahwa aku duduk di kursinya.
Dengan gugup aku kembali mengecek nomor tempat duduk. Loh… ternyata gerbong ini terbalik! Mau tak mau, aku harus mengambil semua barang yang sudah kusimpan untuk dipindahkan ke gerbong seberang. Untungnya, pria itu dengan sabar membantuku mengantarkan barang-barangku sampai ke kursi di dekat jendela belakang, kursi 01 yang sesungguhnya. Dari kejadian kecil itulah, tanpa kusadari, aku memulai pertemuan dengan seseorang yang kelak membantuku bertahan di kota ini. Di tengah rasa lelah dan perasaan campur aduk itu, aku belum tahu bahwa perjalanan ini akan mempertemukanku dengan kebaikan yang tak pernah kuduga.
Seorang ibu paruh baya beretnis Tionghoa duduk santai di samping tempat dudukku, sepatunya dilepas, rambut pirangnya tergerai di balik kacamata hitam. Tatapannya ramah.
“Oh, duduk sini mas? Monggo, silahken…” katanya dengan logat medoknya.
Aku duduk di sebelahnya sambil merapikan barang. Dari caranya membawa diri, terlihat sekali bahwa ia sudah biasa bepergian jauh. Tas-tas di rak atas penuh oleh-oleh dari Bandung, kue, bolu, hampir semuanya makanan. Percakapan mulai terjadi di sini.
“Dari mana, mas?”
“Dari Cianjur, bu. Mau kuliah ke Jogja.”
“Wah, berani juga ya, pertama kali merantau sendirian.”
Aku tersenyum kecil. Dari pujian itu, obrolan kami makin panjang, dari pembahasan tentang beasiswa, tentang Jogja, tentang kuliah. Aku baru tahu setelahnya kalau beliau bernama Bu Lilin, seorang pemilik usaha tour & travel spesialisasi peribadatan dan trip sekolah. Hampir tujuh jam perjalanan kami habiskan dengan cerita dan camilan. Sampai akhirnya, perutku mulai terasa melilit hebat. Berkali-kali aku ke toilet, tapi tak juga membaik, aku menduga ini terjadi karena maag, karena aku baru sarapan jam 9 pagi tadi, Bu Lilin menatapku khawatir.
“Mas, mau ke dokter nggak?”
Aku menolak halus. Tak enak rasanya merepotkan orang asing di hari pertamaku merantau. Sakit perut terasa semakin hebat. Sesampainya di Stasiun Tugu Yogyakarta 16.40, aku berlari pergi ke toilet. Alhamdulillah, ternyata sakit perut ini cuma kembung saja. Setelah merasa membaik, aku berjalan keluar stasiun untuk mencari halte Trans Jogja. Saat itulah aku melihatnya lagi, Bu Lilin duduk di kursi itu, menungguku.
“Mas, tak antar saja ya ke kosnya?”
Aku terharu, bagaimana bisa ada orang yang mau berbuat baik pada orang asing sepertiku? Di saat yang bersamaan, aku juga berhati-hati. Di kota orang, menerima bantuan dari orang asing rasanya membuatku percaya dan curiga. Aku mengangguk sambil diam-diam mengirim lokasi ke ibu dan teman-temanku. Bukan karena tak percaya, tapi karena aku juga harus melindungi diriku sendiri selama di perantauan. Tak lama, sebuah mobil silver berpelat AB berhenti. Suami Bu Lilin turun, menyambutku ramah, lalu membantu mengangkat tasku ke bagasi. Sepanjang perjalanan, hujan turun rintik-rintik, jalan Kaliurang macet parah. Aku beberapa kali merasa tidak enak hati.
“Bu, maaf ya jadi ngerepotin…”
Beliau tersenyum, seolah itu bukan apa-apa.
Di tengah jalan, mobil tiba-tiba menepi. Aku sempat tegang, bertanya-tanya dalam hati, ini kenapa? Apa aku akan ditinggalkan di sini? Tapi ternyata Bu Lilin turun hanya untuk membeli satu paket Olive Fried Chicken. Ia menyerahkannya padaku sambil berkata,
“Mas, ini buat makan ya.”
Saat itu, rasa curigaku runtuh, kebaikan mereka terlalu tulus untuk dicurigai terus-menerus. Kami akhirnya tiba di kosanku. Aku diantar sampai masuk ke kos. Di depan pintu, aku menunduk sedikit, sambil mengulang-ngulang ucapan terima kasih pada mereka. Hari pertamaku merantau yang semula penuh takut justru dibuka oleh tangan-tangan asing yang begitu hangat. Aku datang ke kota ini dengan rasa cemas, khawatir dan takut, tapi pulang ke kamar kos hari itu dengan satu keyakinan baru, aku tidak benar-benar sendirian.
Kini, setiap kali melihat Olive Fried Chicken, bibirku selalu tersenyum.
Aku selalu teringat Bu Lilin dan suaminya. Dan aku tahu, Yogyakarta memang istimewa, bukan hanya karena budayanya, tapi juga karena orang-orangnya, yang membuat seorang perantau merasa tidak sendirian di sini.
Foto: Al Fariz/Pexels
previous post
Banyumas Ngibing 24 Jam Menari Menghidupkan Jati Diri