Pernahkah kamu merasa heran saat membuka aplikasi musik, lalu menemukan lagu aneh yang belum pernah kamu dengar sebelumnya, tapi rasanya sangat "nyambung" di telinga? Kita sering membanggakan diri sebagai generasi yang punya selera musik paling beragam, dari Lofi-hiphop sampai Jedag-Jedug yang bikin goyang. Tapi jujur, terkadang saya bertanya-tanya: apakah kita benar-benar memilih lagu itu karena kita suka, atau kita hanya "menyerah" pada apa yang disuguhkan algoritma di layar ponsel kita?
Sebagai Generasi Z yang tumbuh sebagai digital native, teknologi bukan lagi alat, melainkan kawan sehari-hari. Namun, di balik kemudahan itu, ada sesuatu yang bekerja tanpa henti di belakang layar, melainkan sebuah algoritma yang membaca setiap jempol kita saat memberikan like, berkomentar, hingga berapa lama kita memandangi satu video di TikTok atau Instagram.
Tren Media Soisal
Fenomena ini terlihat jelas dalam keseharian. Mungkin kamu pernah melihat tren #LathiChallenge yang sempat viral beberapa tahun lalu. Satu video transformasi make-up dari Jharna Bhagwani mampu meledakkan lagu "Lathi" hingga ditonton lebih dari 309 juta kali di TikTok. Tanpa promosi radio konvensional, sebuah lagu bisa masuk ke ruang privat kita hanya karena algoritma menganggapnya relevan untuk kita.
Berdasarkan data penelitian YPulse pada 2023, pengaruh ini bukan sekadar perasaan belaka:
Sebanyak 50% responden Generasi Z mengaku mendapatkan rekomendasi musik baru melalui sosial media. Sekitar 29% remaja usia 13-17 tahun dan 18% orang muda usia 18-24 tahun menjadikan TikTok sebagai sumber referensi lagu utama mereka. Fitur seperti For Your Page (FYP) dan Explore dirancang sedemikian rupa untuk mempersonalisasi konten berdasarkan interaksi kita.Bagaimana Selera Musik Bisa "Menyebar"
Menariknya, algoritma ini tidak hanya memberikan apa yang kita "minati". Kadang, ia juga memaksa kita untuk melihat apa yang sedang viral di luar minat pribadi kita. Tren seperti Jedag-Jedug memperkenalkan kita pada genre Electronic Dance Music (EDM) khas lokal, sementara tren looksmaxxing di gym membawa genre Phonk ke telinga anak muda yang mungkin sebelumnya tidak pernah melirik genre tersebut.
Aplikasi seperti Instagram bahkan sudah memberikan jalan pintas lewat fitur "Add to Spotify". Begitu kita mendengar potongan lagu yang enak di Reels, kita bisa langsung memasukkannya ke playlist pribadi dalam satu klik. Jarak antara "menemukan" dan "memiliki" menjadi sangat tipis.
Refleksi
Di satu sisi, ini adalah hal baik. Kita jadi lebih terbuka pada berbagai genre lintas zaman dan lintas budaya. Tapi di sisi lain, ada jarak yang terbentuk antara pendengar dan proses pencarian musik yang autentik. Kita seolah hidup dalam ekosistem yang serba diatur; apa yang kita dengarkan adalah apa yang diputuskan oleh mesin untuk kita sukai. Jadi apakah musik yang kamu sukai "benar-benar" kamu sukai? atau hanya menikmati apa yang disuguhkan sosial media?
(Foto : Cottonbro Studio/Pexels)
previous post
Kenapa Gen z Bisa Punya Selera Musik yang Beragam?