Pernahkah Anda merasa tidak nyaman saat mendengar seseorang bercanda, tetapi candaan itu terasa seperti duri yang menusuk? Di ruang publik kita, batas antara keakraban dan ketidaksantunan sering kali menjadi bias. Kita sering berdalih bahwa itu hanyalah "gaya bicara" atau "pendekatan lapangan". Namun, dalam dunia komunikasi, setiap kata yang terlontar adalah pesan yang membawa dampak, terlepas dari apa pun niat di baliknya.
Sempat viral beberapa tahun lalu, ketika jagat digital kita diramaikan oleh potongan video interaksi antara seorang tokoh agama besar, Gus Miftah, dengan Sunhaji, seorang penjual es teh keliling. Dalam keriuhan acara selawatan, sebuah kata makian terlontar sebagai bentuk "becanda". Fenomena ini bukan sekadar viralitas, melainkan cermin besar bagi kita untuk merefleksikan kembali: bagaimana seharusnya komunikasi dibangun di ruang publik?
Siapa, Bicara Apa, dan Kepada Siapa?
Jika kita membedah fenomena ini menggunakan kacamata Harold Lasswell, seorang pakar komunikasi, kita akan menemukan sebuah struktur yang menarik. Komunikasi bukan hanya soal suara yang keluar dari mulut, tapi tentang lima elemen kunci: Who, Says What, In Which Channel, To Whom, dan With What Effect.
Dalam kasus ini, elemen Who (Siapa) memegang peranan krusial. Ketika seorang tokoh publik atau pemuka agama berbicara, kata-katanya memiliki bobot yang berbeda dengan orang biasa. Masyarakat meletakkan standar moral dan kesantunan yang tinggi pada pundak mereka. Maka, ketika pesan yang disampaikan (Says What) mengandung kata yang dianggap kasar atau merendahkan, efeknya (Effect) akan langsung memicu gelombang respons emosional dari khalayak luas (To Whom) yang menyaksikan lewat media sosial (Channel).
Kekuatan Agenda Media di Era Digital
Mengapa kasus ini bisa menjadi begitu besar hingga berujung pada pengunduran diri dari jabatan publik? Di sinilah Teori Agenda Setting bekerja. Media massa dan media sosial memiliki kekuatan untuk memilih isu mana yang dianggap penting untuk dibahas oleh publik.
Ketika video tersebut tersebar, publik secara kolektif sepakat bahwa isu "ketidaksantunan tokoh publik" adalah hal mendesak yang harus segera ditangani. Tekanan yang muncul dari jutaan komentar dan unggahan ulang memaksa adanya perubahan kondisi yang lebih sesuai dengan harapan publik, sebuah mekanisme kontrol sosial yang sangat cepat di masa kini.
Refleksi: Lebih dari Sekadar Sopan Santun
Melihat ke belakang, fenomena ini memberikan kita ruang refleksi yang berharga dalam bidang komunikasi:
Kesantunan adalah Investasi Sosial: Kesantunan berbahasa bukan hanya soal tata krama formalitas, melainkan alat untuk menjaga martabat lawan bicara (komunikan). Konteks Tidak Bisa Menyelamatkan Segalanya: Meski ada upaya klarifikasi mengenai konteks kejadian di lapangan, persepsi publik sering kali terbentuk secara instan melalui apa yang mereka lihat di layar. Dampak Tak Terduga: Komunikasi yang buruk di satu sisi, secara paradoks bisa memicu empati kolektif di sisi lain. Sunhaji, sang penjual es teh, justru mendapatkan gelombang bantuan luar biasa mulai dari donasi rumah hingga paket umrah sebagai bentuk solidaritas masyarakat atas ketidaknyamanan yang ia alami.
Pada akhirnya, komunikasi yang efektif bukan hanya tentang seberapa keras suara kita didengar atau seberapa lucu candaan kita. Komunikasi yang sesungguhnya adalah tentang bagaimana kita menghormati manusia lain melalui kata-kata. Di tengah dunia yang semakin bising oleh media sosial, barangkali kita perlu berhenti sejenak untuk bertanya: apakah kata-kata kita sedang membangun jembatan, atau justru sedang meruntuhkannya?
(Foto : Gus Miftah/Instagram)
previous post
Kenapa Gen z Bisa Punya Selera Musik yang Beragam?