banner

Masjid Huaisheng

Islam hingga sekarang ini telah menyebar ke berbagai pelosok dunia. Negara yang awalnya tidak memiliki penduduk muslim, sekarang ini dengan mudah kaum muslim tersebut ditemukan. Termasuk di Negara China. Keberadaan kaum muslim sendiri tidak terlepas dari sejarah awal mulanya islam masuk ke China. Islam telah hadir di China sejak Dinasti Tang (618-907) ketika sahabat Nabi Muhammad SAW, Sa’ad bin Abi Waqos r.a. dikirim sebagai utusan resmi ke Kaisar Gaozong pada tahun 650 M.

Sekarang ini karena penduduk China cukup banyak yang beragama islam, maka adalah hal yang lumrah jika disana terdapat sebuah bangunan untuk melaksanakan ibadah. Bangunan tersebut adalah masjid. Sudah sekitar 40 ribu masjid hingga kini berdiri kokoh. Bahkan sumber lain mengatakan ada 68 ribu masjid berdiri kokoh tersebar di beberapa wilayah di dataran China. Kokohnya masjid yang berdiri menjadi bukti pengaruh, peradaban, dan syiar Islam diterima di negeri China. Sejak jaman Rasulullah SAW, bangunan ibadah yang satu ini selain sebagai pusat melaksanakan ibadah juga berfungsi sebagai tempat belajar-mengajar, diskusi, musyawarah dan bahkan tempat bertemu para pedagang.

Masjid pertama kali muncul di China pada masa Dinasti Tang. Masjid pertama yang dibangun terletak di daerah dimana para pedagang Arab singgah, termasuk Beijing, Shanghai, Guangzhou, Hangzhou dan Quanzhou.

Salah satunya ialah Masjid Huaisheng. Masjid tersebut berada di Kota Guangzhou, Provinsi Guangdong. Masjid Huaisheng sendiri berdiri di atas lahan tanah seluas  meter persegi. Masjid Huaisheng adalah masjid tertua yang berumur 1.300 tahun yang diprakarsai oleh sahabat Rasulullah SAW yang bernama Sa’ad bin Abi Waqqas yang didukung kekaisaran pada masa Dinasti Tang.

Meskipun sudah berumur ribuan tahun, masjid ini sangatlah indah. Masjid Huaisheng merupakan salah satu simbol kebajikan umat Muslim di Cina. Desain bangunan yang khas dengan arsitektur China membuatnya menjadi salah satu objek wisata bagi wisatawan yang berkunjung ke sana. Berdasarkan uraian diatas, maka topik utama utama pada penulisan ini adalah membahas tentang Masjid Huaisheng.

Sejarah Masjid Huaisheng

Masjid Huaisheng merupakan tonggak penting dalam penyebaran Islam di wilayah China. Sahabat Nabi, Sa’ad bin Abi Waqqash, adalah orang yang membangun masjid ini pada tahun 742 M (pada masa Dinasti Tang). Masjid ini dinamakan Huaisheng yang berarti mengingat sang bijak dengan tujuan untuk menghormati Nabi Muhammad SAW.

Kala itu pada tahun 616 M untuk pertama kalinya Sa’ad bin Abi Waqqas dan para sahabatnya diutus secara resmi oleh Khalifah Utsman bin Affan untuk datang dan menyebarkan tentang ajaran Islam di China. Setelah kunjungan pertamanya. Abi Waqqas kemudian kembali ke Saudi. Dia kembali datang ke China 21 tahun kemudian dengan membawa salinan Al-Quran. Pada kedatangannya yang kedua di tahun 650, Abi Waqqas berlayar melintasi lautan Hindi China ke pelabuhan di Guangzhou. Kemudian dia berlayar ke xi'an melalui rute yang kemudian dikenal sebagai Silk Road (Jalur Sutra). Rombongan sahabat dan Sa’ad bin Abi Waqqash tiba dan diterima dengan baik oleh kaisar Dinasti Tang, Gaozong (650-683). Tetapi, pasa saat itu Kaisar Gaozong dengan halus menolak seruan Islam yang disampaikan oleh Sa'ad Abi Waqqas.

Setelah diselidiki secara menyeluruh, sang kaisar memberinya izin untuk pengembangan Islam yang dia rasakan sesuai dengan ajaran Konfusius. Namun, kaisar merasa bahwa kewajiban sholat lima waktu dan puasa sepanjang bulan saat Ramadhan terlalu banyak untuknya sehingga dia tidak memeluk Islam.

Meskipun demikian, dia mengizinkan Sa’ad bin Abi Waqqas dan para sahabatnya untuk mengajarkan Islam kepada orang-orang di Guangzhou. Sa’ad bin Abi Waqqas kemudian menetap di Guangzhou dan dia mendirikan Huaisheng yang menjadi salah satu tonggak sejarah paling berharga dalam sejarah Islam di China. Masjid ini juga menjadi masjid tertua yang ada di daratan China dan sudah berusia 1300 tahun berada di Jalan Guangta, di Kota Guangzhou, Provinsi Guangdong.

Masjid Huaisheng

Masjid Huaisheng yang terletak di kota Guangzhou, Provinsi Guangdong, China merupakan salah satu masjid tertua di dunia dengan usia lebih dari 1.300 tahun. Masjid ini dibangun pertama kali pada tahun 742 (pada masa Dinasti Tang).

Masjid ini secara keseluruhan dibangun kembali pada tahun 1350 pada masa Dinasti Yuan oleh Kaisar Zhizheng (1341-1368). Pada akhir abad ke 15, Masjid ini sempat mengalami kebakaran yang cukup hebat, sehingga mengalami renovasi kembali pada tahun 1695 pada masa Dinasti Qing oleh Kaisar Kangzi.

Masjid ini dikenal juga dengan nama Masjid Mercusuar, karena menaranya yang tinggi dipakai sebagai penunjuk arah oleh kapal-kapal di Sungai Zhujiang waktu itu.

Kompleks masjid mencakup area luas sekitar 3000 meter persegi dan membentang di sepanjang  sumbu utara-selatan, dengan model khas China. Gerbang masuk masjid berada di Jalan Guangta di sebelah Utara, masuk menuju ke Selatan. Gerbang ini terbuat dari bata merah dengan atap berwarna hijau. Kompleks masjid terdiri dari koridor yang berbentuk huruf “U”, di tengahnya terdapat halaman dengan menara besar di Utara, yang dibagian ujung tengahnya merupakan aula Sholat.

Aula sholat dibangun kembali pada tahun 1935. Sebuah serambi terbuka mengelilingi sisi utara, timur dan selatan dari ruang sholat. Ketika bangunan itu direnovasi, pintu masuk utamanya dipindahkan dari timur ke selatan aula sehingga langsung menghadap ke halaman selatannya. Mihrab ditempatkan di ceruk semi-lingkaran yang dangkal yang menghadap ke arah tembok bagian barat.

Dari gerbang utama, pengunjung akan melalui sebuah halaman sempit yang ditutupi dinding yang terbuat dari batu bata merah yang menuju ke gerbang dalam. Gerbang monumental ini disebut “Menara Bangke”. Dibangun dengan struktur kayu di dalamnya, kemudian dilapisi oleh bata merah di bagian luarnya. Menara gerbang ini memiliki plakat inskripsi dalam bahasa China yang berbunyi: “Agama yang sangat menghargai ajaran yang dibawa dari Wilayah Barat.” Adapun koridor berbentuk “U” dimulai di kedua sisi pintu gerbang ini dan membungkus halaman dalam menghadap aula tempat sholat.

Adapun Menara Cahaya yang merupakan identitas dari masjid ini berbentuk silinder dilengkapi dengan tangga dalam yang digunakan untuk naik. Tipe arsitektur menara ini merupakan salah satu contoh awal arsitektur Islam di China, yang berusaha mengintegrasikan gaya arsitektur Arab dengan gaya arsitektur lokal, tingginya mencapai 36 meter dengan pondasi sedalam 10 meter. Di bagian atas menara terdapat balkon yang kerap digunakan sebagai tempat adzan. Uniknya menara ini juga digunakan sebagai suar untuk menuntun kapal yang berlayar di Sungai Zhujiang pada malam hari. Pada masa lalu, suar yang terdapat di Menara Cahaya ini, dijadikan oleh para pelaut sebagai penanda bahwa mereka telah tiba di permulaan “jalan sutra maritim”. Sementara balkonnya sendiri beratapkan sebuah kubah berbentuk labu, yang menjadi identitas arsitektur Arabia.

Di dalam menara ini terdapat dua tangga yang berfungsi sebagai sarana pendakian menuju ke balkon. Struktur tangga seperti ini tidak dikenali di China sebelum Dinasti Song. Sedang dari luar, menara ini dihiasi oleh jendela-jendela yang tersusun membentuk spiral ke atas menara. Pada waktu rekonstruksi tahun 1350, di menara ini ditambahkan sebuah inkripsi yang menyatakan: “Di bawah awan putih dan di mana gunung berubah, terjadilah sebuah pagoda batu yang brilian dengan gaya Wilayah Barat. Diserahkan oleh Kaisar Gaozu dari Tang dinasti sampai sekarang, gayanya tidak dikenal di Wilayah Tengah,” menunjukkan tanggal penyelesaian antara tahun 650 sampai 700. Sampai saat ini, Menara Cahaya adalah struktur tertinggi di Guangzhou dan berfungsi sebagai landmark utama di kota ini. Selain itu, di areal kompleks masjid ini juga terdapat tempat tinggal bagi Imam, paviliun untuk menyimpan kitab-kitab, dan area wudhu, semuanya disusun dalam gaya pagoda yang terbuka dengan atap yang dipahat dan ubin tradisional yang selaras dengan konstruksi atap aula masjid dan gaya konstruksi Gerbang dalam.

Makam Sa’ad bin Abi Waqqas

Dari masjid Huaisheng, sekitar 10 menit  dengan bus, terletak makam Sa’ad bin Abi Waqqas. Untuk memasuki makam Abi Waqqaas, pengunjung masih harus berjalan kaki sekitar 100 meter dari pintu utama. Dan setelah  masuk pintu makam, ada dua pintu lagi yang mesti dilewati untuk menuju makam Abi Waqqaas. Makam tersebut ditempatkan dalam bangunan sehingga terlindung dari panas dan hujan.

Di sekitarnya, ada juga sejumlah makam lainnya yang terlindung di bawah naungan pohon beringin. Di dekat pintu masuk makam disediakan tempat untuk shalat. Persis di dekat mata air yang ditemukan 1300 tahun lalu. Air dari mata air yang kini telah dibangun pompa tersebut, masih kerap diminum oleh para pengunjung.

Menurut seorang Muslim China yang merupakan salah satu penjaga makam tersebut, bahwa setiap hari ada pengunjung yang datang ke makam itu dari berbagai negara. Untuk memberikan doa dan penghormatan kepada Sa’ad bin Abi Waqqas.

  31 Views    Likes  

banner
GAGAL SNMPTN! Ini yang harus Kamu lakukan

previous post

Sejarah Rafflesia arnoldii, Bunga Raksasa dari Bengkulu
GAGAL SNMPTN! Ini yang harus Kamu lakukan

next post

GAGAL SNMPTN! Ini yang harus Kamu lakukan

related posts