banner

COVID-19 : Langkah revolusi sistem pendidikan?

Masyarakat dunia (termasuk Indonesia) kini berada dalam suasana yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Bagaimana tidak, masyarakat yang sebelumnya melakukan aktivitasnya di luar ruangan mau tidak mau dilakukan di rumah. Belajar, bekerja, rapat, hingga transaksi, semua dikerjakan jarak jauh melalui sarana daring (online). Dari itu semua, masyarakat membentuk budaya baru, serba daring.

Budaya serba daring ini akhirnya menyebabkan masyarakat tidak bisa lepas dari Internet dan perangkat digital. Tak pelak, penyedia layanan internet bagai kejatuhan emas karena makin banyaknya masyarakat yang menggunakan internet. Beragam start-up, khusunya di bidang pendidikan juga kena imbasnya, banjir order. Dari yang bebas biaya hingga yang lumayan menguras dompet, dari yang berbasis permainan hingga video, semua bermunculan demi memenuhi kebutuhan pelajar di seluruh dunia. Tunggu… “…demi memenuhi kebutuhan pelajar”? Apakah selama ini kebutuhan para pelajar tidak terpenuhi? Bukankah sebelum wabah dahsyat ini menggerogoti bumi para pelajar sudah belajar di sekolah?

Sudah beberapa bulan ini penulis mengamati beragam sosial media dan start-up tentang kesan belajar di rumah dengan platform belajar daring dibanding belajar di sekolah. Hasilnya sungguh mengejutkan, sebagian besar menganggap belajar dengan platform belajar daring lebih menyenangkan dibandingkan dengan di sekolah karena lebih paham dengan materi yang disampaikan dibandingkan guru di sekolahnya sendiri. Mereka juga resah dengan penjelasan guru di sekolahnya sulit dimengerti, ruwet, bahkan terkesan otoriter. Sementara sebagian kecilnya, lebih baik belajar di sekolah karena bisa bertemu dengan teman sebayanya -penulis merasakan hal yang sama. Lalu, apa yang bisa dipelajari dari hal ini?

Menurut pandangan penulis, para pengajar bagaimanapun latar belakangnya, harus bisa merangkul anak didiknya dengan pendekatan yang sesuai. Materi ajar yang efektif dan saling memahami bisa menjadi pelipur keresahan peserta didik selama ini. Intinya, dibutuhkan sinergi antara guru dan murid demi membangun pendidikan yang lebih baik.

  0 Views    Likes  

banner
10 Langkah Membangkitkan Kegeniusan Mengelola Uang ala Robert Kiyosaki

previous post

Gaya Hidup Sehat di tengah pandemi covid-19
10 Langkah Membangkitkan Kegeniusan Mengelola Uang ala Robert Kiyosaki

next post

10 Langkah Membangkitkan Kegeniusan Mengelola Uang ala Robert Kiyosaki

related posts