banner

Hentikan Bully Damai itu Indah

Hentikan Bully Damai itu Indah

Oleh : Dandi Nofriansyah

Coba kita bayangkan apabila perilaku bullying tidak diatasi di Indonesia. Apa jadinya jika bully adalah hal yang biasa di kalangan remaja khusunya di kalangan pelajar. Apakah kamu ingat ketika Ayah dari Sonya Depari mendadak sakit dan langsung meninggal karena Sonya Depari depresi dan tidak mau keluar dari rumah ? Dan apakah juga kamu tahu, Taylor Swift adalah seorang korban bully yang sekarang menjadi sangat terkenal ?

Mari kita cari tahu apa itu bully, merujuk pada Kamus Bahasa Inggris ke Indonesia, arti kata bully dalam Bahasa Indonesia adalah perundungan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi ke-5, kata rundung memiliki arti sebagai berikut :

rundung

[v], me.run.dung v (1) mengganggu; mengusik terus-menerus; menyusahkan: anak itu ~ ayahnya, meminta dibelikan sepeda baru ; (2) menimpa (tt kecelakaan, bencana, kesusahan, dsb) : ia tabah atas kemalangan yg telah ~ nya

Jadi dapat disimpulkan bahwa bully adalah rundung dan bullying adalah perundungan. Perundungan artinya suatu perlakuan yang mengganggu, mengusik terus-menerus dan juga menyusahkan. Kata perundungan memang tampak aneh karena jarang digunakan dalam percakapan bahasa Indonesia dan juga dalam kehidupan sehari-hari.

Bullying adalah kasus yang sering terjadi di Indonesia, yang sebagian besar terjadi di lingkungan sekolah, di mana korban dan pelakunya adalah para remaja. Sayangnya, masih banyak remaja yang menganggap bullying adalah hal yang biasa saja, padahal dampak bullying pada korban bukan hanya jangka pendek, tetapi juga jangka panjang. Sehingga ketika terjadi perilaku bullying sebagian besar remaja memilih untuk mendiamkan perbuatan tersebut. Selain karena bullying dianggap biasa, sebagian juga tidak mengerti bagaimana harus bersikap ketika melihat bullying.

Menurut Olweus (1993 ; Anesty, 2009) memberikan contoh tindakan negatif yang termasuk dalam bullying antara lain, (1) mengatakan hal yang tak menyenagkan ataupun memenggil seorang dengan julukan yang buruk. (2) Mengabaikan atau mengucilkan seorang dari suatu kelompok kerena suatu tujuan. (3) Memukul, menedang, menjegal atau menyakiti orang lain secara fisik. (4) Mengatakan kebohongan atau rumor yang tidak benar mengenai seorang atau membuat orang lain tidak menyukai seseorang dan hal-hal semacamnya.

Sekitar 39% dari remaja Indonesia khususnya di kalangan pelajar adalah korban dari prilaku bully. Hal ini dibuktikan dengan penelitian yang penulis lakukan yaitu pengisian angket untuk siswa kelas X MIA 1 SMA N 1 Kec. Suliki. Dari 29 angket yang disebarkan, terdapat 9 orang yang merupakan korban bully. Jika jumlah siswa hanya 5 orang, 2 di antaranya adalah korban bully. Berdasarkan data sensus jumlah sekolah, guru, dan murid Sekolah Menengah Atas (SMA) di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia tahun ajaran 2014/2015 diperoleh jumlah siswa SMA sebanyak 4.232.572 orang dan berarti lebih kurang 1.650.703 orang siswa SMA adalah korban bully. Angka ini adalah angka yang sangat memprihatinkan bagi bangsa Indonesia.

Sartika Lestari berpendapat dalam jurnalnya Analisis Faktor-Faktor Penyebab Bullying di Kalangan Peserta Didik (2016 : 154) Perilaku bullying dapat disebabkan oleh beberapa hal di antaranya, (1) keluarga yang tidak harmonis, orang tua yang tidak utuh (meninggal dunia atau bercerai), peraturan di rumah terlalu ketat. (2) Berteman dengan teman yang berperilaku negatif. (3) Media massa, khususnya media sosial yang menghapus batasan-batasan dalam bersosialisasi, tidak ada batasan ruang dan waktu, mereka dapat berkomunikasi kapan dan di mana saja.

Dari sembilan orang korban bully yang penulis lakukan penelitian, di situ ada penulis jumpai bahwa efek dari bullying yang paling berpengaruh adalah kepada mental korban bully. Efek mental ini tidak hanya jangka pendek, tetapi merupakan jangka panjang. Efek mental ini antara lain minder, tidak percaya diri, dan ada yang sampai takut untuk pergi ke keramainan. Namun, ada juga korban bully yang ingin balas dendam kepada pelaku bullying karena tidak menerima perlakuannya dulu pada korban. Mereka mengatakan bahwa akan balas dendam dengan yang lebih kejam. Jika tidak bisa untuk balas dendam dengan pelaku bully dulu, maka korban akan mencari orang yang bisa untuk ia jadikan pelampiasan dari sakit hatinya.

Jika tidak ada langkah yang diambil oleh pihak yang bersangkutan dalam penyelesaian perilaku bully ini, maka angka korban bully di Indonsesia akan semakin meningkat. Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk menyelesaikan kasus ini. Di antaranya dilakukan oleh pihak instansi pendidikan, yaitu bisa mengambil beberapa kebijakan, seperti (1) memperketat pengawasan oleh guru yang bertugas pada jam pelajaran. (2) Lebih sering untuk mengawasi bagian pojok sekolah. (3) Lebih banyak waktu yang disediakan instansi pendidikan untuk konsultasi baik lewat guru BK maupun lewat konselor sebaya. (4) Melakukan kegiatan pendekatan sesama siswa contoh mengadakan makan bajamba di sekolah dalam jangka waktu tertentu, mengumpulkan alat tulis yang seharga lalu membagiknnya kembali dengan kepemilikan yang bebeda.

Dari beberapa efek samping perilaku bully, terdapat beberapa efek positif yang dapat membangkitkan semangat bagi korban bully sehingga korban bully bisa menjadi pengguncang dunia. Alasannya adalah karena bully dapat mengubah sikap kita menjadi lebih dewasa, bully dapat memotivasi diri kita, bully dapat melatih mental kita, dan akhirnya karena bully kita dapat mencapai kesuksesan.

Alasan tersebut berguna bagi korban bully, tidak untuk pem-bully, walaupun dengan bully seseorang dapat mencapai kesuksesan, namun perilaku bully memiliki lebih banyak mudarat dari pada manfaatnya. Oleh karena itu marilah kita hentikan bully. Dengan tidak adanya bully, hidup akan damai karena damai itu indah.

  0 Views    Likes  

banner
Kehidupannya selalu Di Fisika dan Fisika

previous post

Hentikan Bully Damai itu Indah
Kehidupannya selalu Di Fisika dan Fisika

next post

Kehidupannya selalu Di Fisika dan Fisika

related posts