banner

Keterkaitan antara Matematika dengan Seni Rupa

Banyak stigma di masyarakat yang memandang matematikawan sebagai seseorang yang mengandalkan logika dan akal sehat, sedangkan seniman sebagai seseorang yang  mengandalkan imajinasi dan kreativitas. Seakan-akan ada jurang pemisah yang besar antara matematikawan dengan seniman, antara logika dengan imajinasi, antara akal sehat dengan kreativitas.

Jika melihat dari ranah kognitif, mungkin ada benarnya bahwa logika dan kreativitas mempunyai tempatnya masing-masing dan terpisah satu sama lain. Seseorang dengan dominasi otak kiri akan lebih baik dalam matematika, bekerja dengan logika dan angka. Sedangkan seseorang dengan dominasi otak kanan akan lebih baik dalam berimajinasi dan berkreasi (dr.Kevin Andrian, 2018). Hal ini seakan-akan menegaskan pandangan banyak orang tentang batasan antara Matematika dengan dunia Seni.

Leonardo Da Vinci adalah seorang seniman yang terkenal di zaman Renaissance. Ia banyak menghasilkan karya-karya seni yang sangat terkenal, sebut saja The Last Supper, Vitruvian Man dan yang paling terkenal adalah Monalisa (leonardodavinci.net). Dalam karyanya Vitruvian Man, Da Vinci menggambar anatomi seorang pria yang terletak di dalam sebuah lingkaran dan persegi. Lingkaran dan persegi adalah dua bentuk geometri dasar dalam matematika. Sedangkan dalam lukisannya, Monalisa, Da Vinci menggunakan Rasio Emas (Golden Ratio) pada wajah Monalisa dan pada perbandingan leher dengan kepala (Rute Fereira, 2019). Hal ini membuktikan bahwa Leonardo Da Vinci juga menggunakan prinsip-prinsip Matematika dalam pembuatan karyanya, tidak hanya sekedar menggunakan teknik lukis dan imajinasinya. Apakah Leonardo Da Vinci sebuah anomali dalam dunia Seni Rupa?

Albrecht Durer adalah seniman yang terkenal lainnya pada zaman Rennaissance. Ia menggunakan perspektif matematika dalam banyak karyanya. Bahkan dalam karyanya Melencolia, Durer memperlihatkan beberapa karya Euclid seperti Magic Square dan beberapa bentuk geometri lainnya (Rachel Kirsch). Apakah Albrecht Durer juga merupakan anomali dalam dunia Seni Rupa?

Albert Einstein adalah fisikawan terkenal yang meraih penghargaan Nobel di bidang Fisika. Teorinya tentang relativitas mengguncang dunia Fisika saat itu. Namun, siapa sangka Einstein yang sangat jenius dalam logika dan kalkulasi matematika mempunyai kutipan yang sangat terkenal “Imagination is more important than knowledge. Knowledge is limited. Imagination encircles the world.” atau dalam bahasa Indonesianya “Imajinasi lebih penting daripada ilmu pengetahuan. Pengetahuan terbatas. Imajinasi mengelilingi bumi.” Hal ini membuktikan bahwa Albert Einstein sangat mengapresiasi dan mengakui pentingnya kreativitas dan imajinasi, meskipun sebagian besar karyanya menggunakan logika dan analisa angka. Atau apakah mungkin Albert Einstein menyadari betapa eratnya hubungan antara imajinasi dan ilmu pengetahuan?

Tokoh-tokoh terkenal seperti Leonardo Da Vinci, Albrecht Durer, dan Albert Einstein mungkin sangat terbatas, namun hal ini membuktikan bahwa tidaklah mustahil untuk menghubungkan logika dengan estetika, matematika dengan seni. Penulis sendiri berpengalaman sebagai guru Seni Rupa selama 5 tahun dan praktisi sebagai pelukis selama kurang lebih 7 tahun. Uniknya, penulis mengambil jalur pendidikan formal dalam bidang Matematika di Fakultas Pendidikan Matematika selama 4 tahun. Dan sekarang penulis berkecimpung di dunia Matematika sebagai guru Matematika di tingkat SMA dengan kurikulum Nasional dan Internasional. Hal ini sudah ditekuni oleh penulis selama kurang lebih 8 tahun. Dengan kata lain, penulis sudah merasakan berada di dunia Seni dan Matematika selama kurang lebih 16 tahun. Hal ini yang melatarbelakangi penulis untuk mengambil kajian ini. Penulis melihat adanya banyak hubungan antara Matematika dengan Seni Rupa, meskipun Matematika dan Seni Rupa tetap mempunyai kharakteristik dan tingkat kesulitan masing-masing.

Berdasarkan pengalaman yang penulis dapatkan, terdapat beberapa materi dalam Seni Rupa yang berkaitan erat dengan Matematika. Salah satu contohnya adalah menggambar perspektif. Dalam menggambar perspektif, terdapat beberapa titik hilang; satu titik hilang, dua titik hilang dan tiga titik hilang. Ternyata pemetaan gambar tiga dimensi menjadi dua dimensi merupakan salah satu cabang dalam pemodelan Matematika yaitu Geometri Deskriptif. Salah satu tokoh yang terkenal dalam Geometri Deskriptif dan bapak dari Teori Perspektif Linear adalah Brook Taylor (Joseph Malkevitch, 2003).

Contoh lainnya adalah bentuk geometri yang banyak digunakan dalam aliran Kubisme. Aliran Kubisme adalah aliran seni rupa yang memuat beberapa sudut pandang dari suatu objek atau figur dalam satu gambar yang sama, sehingga menghasilkan lukisan yang terfragmentasi dan terdeformasi. Aliran ini juga seakan memecah gambar melalui penyederhanaan objek hingga menyerupai bentuk geometris. Suatu lukisan potret dapat terlihat dari samping dan depan secara bersamaan sehingga menghasilkan kejanggalan yang artistik (Gamal Thabroni, 2019). Dengan kata lain, aliran kubisme kerap kali menggunakan bentuk-bentuk geometri seperti segitiga, persegi, kubus, limas dll. Presentasi dari bentuk-bentuk geometri tersebut dapat membentuk sebuah keindahan dalam lukisan Kubisme.

Di dalam Matematika, terdapat materi tentang pattern atau pola. Jika dikerucutkan lagi, terdapat materi tentang Teselasi atau pengubinan. Teselasi adalah penyusunan berulang sebuah model untuk memenuhi sebuah bidang (Sangara Nanda, 2011). Teselasi membutuhkan objek geometri yang terus berulang dan kongruen untuk memenuhi suatu bidang. Jika terdapat pola dan bentuk geometri yang tidak tepat, maka Teselasi tidak dapat dilanjutkan. Teselasi sangat berkaitan erat dengan dunia Seni, karena banyak karya Seni yang menggunakan prinsip Teselasi khusunya Mozaik Arab dan Timur Tengah.

Rasio Emas atau Golden Ratio yang sering disimbolkan dengan phi φ adalah angka istimewa yang didapat saat sebuah garis dibagi menjadi dua bagian lalu bagian yang lebih panjang dibagi dengan bagian yang lebih kecil bernilai sama dengan penjumlahan kedua bagian tersebut dibagi dengan bagian yang panjang, yang keduanya bernilai 1,618 (mathisfun.com). Terdapat beberapa lukisan yang menggunakan prinsip rasio emas ini, seperti The Birth of Venus yang dilukis oleh Sandro Botticelli pada tahun 1482, Adoration of the Magic yang dilukis oleh Diego Velazquez pada tahun 1609, Jicopo de Barbari yang dilukis oleh seorang matematikawan Fra Luca Pacioli dan MonaLisa yang dilukis oleh Leonardo Da Vinci (Kurniawan, 2019).

Masih banyak lagi bukti-bukti adanya keterkaitan antara Matematika dengan Seni Rupa yang telah ditemukan baik dari hasil karya seni zaman dahulu sampai karya seni zaman sekarang. Bahkan sekarang telah ada robot dengan algoritma Matematika yang dirancang untuk dapat melukis sendiri. Sudah banyak terobosan-terobosan dan inovasi yang telah diciptakan saat mengawinkan Matematika dengan Seni.

  0 Views    Likes  

banner
Nasionalisme di Generasi Milenial

previous post

Mengenal Lebih Jauh Tentang Taijiquan
Nasionalisme di Generasi Milenial

next post

Nasionalisme di Generasi Milenial

related posts