banner

Masyarakat Binongko si Penyulap Potongan Besi Menjadi Penghasilan

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,,,

Hi Sobat OSC apa kabar kamu hari ini,, I hope your enjoy today.

OK. Kali ini aku mau share tentang Pulau Binongko yang Masyarakatnya berhasil menyulap Potongan besi menjadi sumber penghasilan mereka. Hmm,, gimana ya cara mereka menyulap Potongan besi ini dan menjadi apa saja yaa? Penasarankan Yuk simak penjelasannya.

Pulau Binongko

Binongko adalah pulau terakhir dari 4 pulau besar WAKATOBI yang berada di selatan pulau Tomia serta diapit oleh laut Banda dan laut Flores.

Pulau Binongko sebenarnaya sama dengan pulau-pulau yang lain. Hanya saja pulau ini tandus,berbatu dan berombak. Dan hal inilah yang membuat pulau ini unik.

Pulau Tukang Besi

 

Pulau Binongko selain dikenal dengan destinasi alamnya, Binongko juga dikenal dengan pulau tukang besi karena banyaknya pengrajin besi di daerah ini.

Sejak abad ke-17 silam, pengrajin besi di pulau ini telah berlangsung dengan keterampilan membuat senjata denga khas berupa” parang Binongko”.

Keterampilan membuat parang ini diwariskan turun-temurun hingga saat ini. sehingga proses pembuatannyapun masih seecara tradisional.

Uniknya Wakatobi bukanlah daerah penghasil biji besi walaupun besi adalah bahan utama para pengrajin besi. Namun karena perdagangan antar pulau telah dimulai sejak lama maka semua bahan utama ini datang dari pulau Jawa.

Proses pembuatan parang Binongko terdiri dari beberapa tahapan yang setiap tahapan ini mengandung makna filosofi tersendiri yang merupakan kearifan local serta telah ada sejak awal perkembangan Wakatobi. Tahapan-tahapan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Tila dan Tihi

 

Pertama, Besi dibakar pada tungku dengan bahan bakar dari arang dengan bantuan energi angin yang berasal dari pompa (dikenal dengan Busoa) yang dilakukan oleh tukang Buso. Biasanya peran ini dilakukan oleh seorang istri yang mencerminkan keharmonisan rumah tangga dan saling melengkapi. Dalam waktu 15 menit bahan besi tersebut akan mencapai tingkat panas dan pada suhu itu besi akan berubah warna menjadi kemerah-merahanyang menandakan bahwa besi siap untuk ditimpa. kemuadian besi dekeluarkan dari tungku untuk dipotong atau dibelah sesuai ukuran yang diinginkan.

2. Kepa’a

Setelah dipotong atau dibelah, besi tersebut dimasukan kembali kedalam tungku untuk dipanaskan seperti pada tahap awal. Pada tahap ini besi mulai ditimpa agar mendapatkan ketebalan yang sesui serta membentuk model. Tahapan ini biasanya dilakukan oleh dua orang pandai besi (dikenal dengan istilah”podhandu”) yang menyimbolkan kekompakan antara dua penempa yang harus bekerja sama untuk berpacu dengan besi panas yang akan segera mendingin dan akan kembali mengeras. Suara palu besi yang ditempa dan landa mengeluarkan irama yang khas sehingga meningkatkan semangat mereka dan melupakan panasnya api dan besi.

3. Hokomonde

Besi yang sudah dibentuk dipanaskan kembai lalu ditimpa untuk mendapatkan kekerasan besi yang maksimal serta bentuk parang yang sempurna. Tahapan ini biasanya dilakukan oleh seorang pandai besi untuk menyempurnakan tekstur parang yang harus bertekstur rata dan begitupula bagian yang dipertajam (disebut A’a) juaga tempat gagang (disebut Uti).

4. Khuba

Ditahapan ini, parang dihakuskan dengan menggunakan parang yang memiliki kekerarasan melebihi lainnya. parang yang sudah dihaluskan akan dipanaskan kembali untuk sedepuh agar kualitanya terjaga. proses inilah yang menjadi penertu kualitas parang, karena semakin lama parang ditempa maka semakin bagus pula tingkat kekerasannya. proses ini desebut dengan istilah “Motika”.

5. Hulu

Hulu adalah tahapan akhir yang merupakan proses pembuatan gagang parang . Gagang parang inidipasang dan kemudia parang diasah sampai tajam dan siap dipergunakan.

Wah,,sobat osc, ternyata proses pembuatannya lumayang panjang dan rumit yaa,, Namun karena proses dan kerumitan inilah yang membuat para pengarajin tukang besi memiliki jiwa yang sabar. Dan Mata rantai inilah yang menumbuhkan kreatifitas masyarakat dan mengahasilkan pelaku usaha penduduknya seperti pemasok bahan baku besi, pembuat arang dan pedagang parang.

Oh iya untuk filosofi Prosesi pembuatan parang mengandung makna dimana parang yang dibuat haruslah dipergunakan untuk hal-hal yang baik bukan saling menyakiti. Filosofi ini dipertegas dengan sumpah para tetuah adat yang berbunyi.

“Ara’u kobhu’e na hansu’u akoo tejumaga teurungu’u tetuha’u, tekampo’u Kade ako temansuru te baja’u, tetuha’u tekampo’u. Arakomisilalamo temia maka komentaimo dhuka tesilalano”.

Sumpah tersebut mempunyai arti bahwa apabila senjata/keris sudah terlepas dari sarungnya maka hendaknya digunakan untuk keselamatan diri, keluarga dan masyarakat umum dan bukan untuk menghancurkan dirimu, kelurgamu serta orang lain. Namun jika kamu telah menyakiti orang lain maka kamu hanya menunggu saatnya kamu untuk disakiti.

Oke sobat Osc,, itulah sedikit informasi menganai pulau Binongko yang masyarakatnya menyulap besi menjadi sumber pengasilannya dengan mengubah besi menjadi parang dll. semoga bermanfaat dan jangan lupa untuk mampir ke artikel-artikel lainnya.^^

 

  93 Views    Likes  

banner
Berbuat Baik Tanpa Imbalan Baik

previous post

Keuntungan Menabung di Reksadana
Berbuat Baik Tanpa Imbalan Baik

next post

Berbuat Baik Tanpa Imbalan Baik

related posts