banner

MENGUPAYAKAN PENINGKATAN TARAF HIDUP PETANI MELALUI PENGHAPUSAN PRAKTIK MONOPOLI

Indonesia di juluki sebagai negara agraris bukanlah tanpa sebab yang jelas, negara Indonesia di juluki sebagai negara agraris di karenakan mayoritas penduduknya bekerja di sektor pertanian. Menurut data yang di himpun oleh badan pusat statisti nasional sebanyak  39.678.453 penduduk Indonesia bekerja pada sektor pertanian. Sebagai negara agraris Indonesia memiliki berbagai daya dukung untuk menopang kinerja para petani dalam menghasilkan produk pertanian secara maksimal dan berkualitas. Daya dukung yang menopang kinerja petani dimulai dari dukungan iklim tropis yang terdiri atas musim hujan dan musim kemarau yang membuat petani dapat mengolah sawah secara optimal, serta curah hujan dan kelembapan di wilayah indonesia yang menjadikan wilayah Indonesia selalu hijau dan subur makmur, daya dukung ini diperoleh karena letak Indonesia yang berada di 60 LU – 110 LS dan 950 BT – 1410 BT, serta letaknya di garis khatulistiwa yang senantiasa membuat wilayah Indonesia selalu terpapar sinar matahari.

Selain hal di atas daya dukung yang paling penting bagi tercapainya hasil pertanian yang optimal adalah keahlian petani Indonesia itu sendiri, keahlian petani dapat dilihat ketika mereka memproses lahan pertanian dan merawat tanamannya hingga sampai masa panen. Daya dukung terhadap sektor pertanian di atas yang diharapkan mampu meningkatkan taraf hidup petani melalui optimalnya hasil pertanian ternyata tidak terwujud dalam realitas kehidupan petani Indonesia, ketidakterwujudan hal ini di karenakan oleh banyak faktor, salah satu faktor yang paling kuat menyebabkan hal ini bisa terjadi adalah karena adanya permainan harga hasil pertanian oleh tengkulak dan oleh para pengusaha yang tidak bertanggungjawab. Tujuan monopoli yang dilakukan pengusaha tersebut tidak lain adalah untuk menekan cost biaya produksi dengan mengadakan praktik-praktik ekonomi yang tidak sehat dan merugikan. Pemonopolian harga hasil pertanian ini bisatimbul karena ada segelintir masyarakat yang tersusupi oleh paham kapitalisme yang menunggangi arus globalisasi, sehingga globalisasi ini membawa perubahan yang sifatnya destruktif dalam jiwa perekonomian warga yang cenderung mengutamakan keutungannya pribadi dan mengorbankan kepentingan bersama. Terhadap gencarnya globalisasi ini, Bangsa Indonesia perlu mewaspadai beberapa hal sebagai dampak dari arus globalisasi, yaitu arus bebas untuk berpindah, arus konfigurasi global dibidang teknologi, arus bebas modal, arus media, dan arus ideologi. Oleh karena itu, dapat dilihat bahwa globalisasi bukan hanya bekerja dalam tatanan politik global semata, akan tetapi terhadap tatanan ekonomi yang akan mempengaruhi pola pikir masyarakat dalam mencapai kesejahteraan. Pemonopolian harga hasil pertanian mengakibatkan petani di Indonesia mengalami kerugian dan mengalami penderitaan, biaya untuk bercocok tanam lebih besar dibandingkan pendapatannya dari hasil penjualan produk pertanian, dan jika dibiarkan praktik  pemonopolian ini terjadi maka dampaknya akan sangat berbahaya bagi petani Indonesia, yang sebagian besar perekonomiannya bergantung pada hasil penjualan produk pertanian. Oleh karena itu Pancasila yang merupakan dasar negara, cita-cita, dan tujuan bangsa sangat menolak adanya monopoli terhadap kehidupan rakyat Indonesia terutama dalam bidang ekonomi, hal ini jelas-jelas melanggar dan mencederai sila-sila dalam Pancasila yang telah diakui kebenarannya. Dan jika kita menelisik lebih dalam mengenai masalah ini, maka permasalahan ini akan menunjukkan bahwasannya sistem ekonomi di Indonesia sekarang ini sedang tidak memiliki daya ikat lagi bagi masyarakat dan kurang relevansinya antara demokrasi ekonomi Indonesia dengan Pancasila yang menjadi landasan ideologi dan landasan pembangunan bangsa ini. Maka dari permasalahan tersebut perlu adanya formulasi peraturan perundang-undangan yang mampu mewadahi aspirasi petani dan mengupayakan produk perundang-undangan yang ada  mampu menghapuskan praktik monopoli yang terjadi dalam kegiatan perekonomian rakyat khususnya petani.

  0 Views    Likes  

banner
Nasionalisme di Generasi Milenial

previous post

Mengenal Lebih Jauh Tentang Taijiquan
Nasionalisme di Generasi Milenial

next post

Nasionalisme di Generasi Milenial

related posts