banner

Mitos dan Ideologi Pencak Silat dalam Film Laga The Raid Redemption

Abstrak

Film laga The Raid Redemption diusung sebagai film yang menjadi media dalam mempromosikan pencak silat ke kalangan internasional. Dalam perkembangan sejarah mencatat bahwa Indonesia mengalami krisis identitas karena berbagai pengaruh kebudayaan yang bercampur menjadi satu pada era penjajahan berlangsung. Berdasarkan hal tersebut, sulit untuk dapat menentukan hasil karya yang asli dari negara Indonesia. Penelitian ini menggunakan kualitatif dengan metodologi semiotika post strukturalis dan alat analisis semiotika Roland Barthes dengan memperhatikan struktur kebahasaan sintagmatis dan paradigmatis dalam mise en scene. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mitos dan ideologi pencak silat yang terkandung dalam film laga The Raid Redemption. Adapun hasil penelitian ini ialah bahwa film laga The Raid Redemption merujuk pada ideologi dalam industri film Hollywood dan tidak seratus persen film laga The Raid Redemption memvisualkan bela diri pencak silat.

Kata Kunci: Semiotika Roland Barthes, Pencak Silat, Film The Raid Redemption, Mitos, Ideologi

Pada awalnya masyarakat Indonesia tidak mengenal apa itu film. Pertunjukkan-pertunjukkan masyarakat tradisional seperti wayang, pagelaran musik, dan tari-tarian mencerminkan kebudayaan Indonesia yang sesungguhnya, gotong-royong dan ramah-tamah. Berdasarkan hal tersebut, dapat dikatakan bahwa dari awal masyarakat Indonesia mengenal media film sebagai media hiburan hingga saat ini, baik dari segi narasi cerita, teknik kamera, biaya produksi hingga nilai-nilai yang terkandung di dalam film tidaklah murni seratus persen mencerminkan industri  perfilman Indonesia. Semakin hari industri film Indonesia semakin menampakkan konsep naratif dan visual dari budaya luar. Tidak hanya merujuk pada negara-negara Asia semata, namun Hollywood juga menjadi role model dalam pertumbuhan industri film Indonesia.  Hal ini disebabkan karena Indonesia merupakan negara jajahan atau dapat dikatakan Indonesia merupakan tempat percampuran kebudayaan dan secara tidak langsung memberikan dampak pada Industri film Tanah Air.

Adapun dilihat dari pembagian era, perkembangan industri film laga Indonesia terbagi atas  era orde lama, orde baru, dan paska orde baru. Film dengan genre laga awalnya membawakan berbagai kisah dengan tujuan menghibur yang merujuk pada naratif Wuxia Xiaoshuo yaitu naratif cerita kungfu dari Hongkong dan Tionghoa. “Di samping pengaruh yang ditularkan industri film Hongkong, industri film laga di Indonesia secara tidak langsung berhutang pada dramaturgi, estetika, dan sinematografi yang ditampilkan industri perfilman India” (Wibowo, 2019:104). Namun film-film dengan tema tersebut awalnya hanyalah bertujuan sebagai hiburan belaka hingga kemudian pada era Orde Lama di pemerintahan Soekarno, film-film bergenre laga Indonesia mulai membawakan kisah-kisah nasionalisme yang memperlihatkan bagaimana masyarakat Indonesia melawan penjajah. Pada era Orde Baru, film-film dibawakan dengan konsep cerita yang berbeda. Adapun bintang film yang dihadirkan ialah bintang film barat kelas B. Wibowo (2019:429) mengatakan bahwa tidak dapat dinafikan sebagian besar film laga itu merupakan film-film kelas B yang menayangkan adegan kekerasan dan seks secara vulgar. Film-film kelas B ini menjadi model bagi industri film Indonesia untuk mengembangkan jenis film laga yang serupa.

Kehadiran para bintang film Barat kelas B itu setidaknya menjadi semacam sinyal bahwa film laga Indonesia mulai diproyeksikan sebagai salah satu komoditas bisnis yang dapat bersaing di kancah global meskipun dengan begitu perkembangan film laga Indonesia justru tidak bertumpu lagi pada pola-pola narasi tradisional yang khas, melainkan merujuk pada pola-pola naratif yang berkembang di lingkungan film laga Barat (Wibowo, 2019:430). Berdasarkan latar belakang tersebut dengan memperhatikan pola perkembangan film laga di Indonesia yang jarang memproduksi film bergenre laga dengan konsep pencak silat, penulis merasa tertarik  dengan film laga  The Raid Redemption yang dikatakan sebagai film yang mencetak sejarah baru dalam pertumbuhan industri perfilman Indonesia. Perlu diperhatikan bahwa film-film di Indonesia tidak jauh dari kata ‘meniru’ film-film impor yaitu merujuk pada Hollywood sebagai role model.

Metodologi Penelitian

Penelitian ini menggunakan metodologi semiotika post strukturalis dengan mengambil teori semiotika dari Roland Barthes dan memperhatikan struktur kebahasaan dari Saussure yaitu sintagmatis dan paradigmatis. Adapun penulis menggunakan semiotika Roland Barthes karena ingin mengungkapkan tanda dan petanda berdasarkan sejarah dari industri film Indonesia. Berdasarkan hal tersebut, dalam mengumpulkan data penelitian, penulis menggunakan metode deskriptif kualitatif yaitu observasi dan juga studi visual. Analisis dilakukan dengan mengambil makna denotasi, konotasi, dan mitos untuk dapat menemukan ideologi yang terkandung di dalam adegan perkelahian dan mise en scene yang diambil menjadi sampel penelitian. Metode pengumpulan data dilakukan dengan dua cara, yaitu observasi langsung melalui pengamatan dalam pegelaran pencak silat dan wawancara praktisi, dan observasi tidak langsung melalui studi visual dan studi pustaka.

Pembahasan

Analisis Tataran Pertama

Analisis sintagmatis diawali dengan pembedahan struktur film dan pemilihan sampel adegan. Ada 9 babak dalam film laga The Raid Redemption, dan peneliti mengambil sekuen 1,5,6,7, dan 8 sebagai sampel penelitian. Adapun pemilihan sampel tersebut berdasar pada relasi antar komponen tanda yang merujuk kepada gesture dan nilai-nilai pencak silat (denotasi) yang ditampilkan dari setiap tokoh yang ada dan kemudian penulis membandingkan antar 9 sekuen tersebut untuk dapat memilih sekuen mana yang dianggap paling penting menjadi unit analisis pada penelitian ini.

        2. Analisis Tataran Kedua

Penulis menggunakan analisis paradigmatis untuk dapat mengidentifikasi tanda-tanda yang ada dalam sekuen terpilih.

Sekuen 1

  Denotasi:

Iko Uwais berperan sebagai tokoh Rama. Bangun pada pukul 4 pagi dilanjutkan dengan Salat subuh dan berolahraga. Menggunakan kostum seragam aparat keamanan, berpamitan kepada istrinya yang sedang hamil dengan mencium keningnya dan juga berpamitan kepada sang ayah.

Konotasi:

Latar setting awal dalam film laga The Raid Redemption merujuk pada wilayah kamar dan juga tempat berlatih olahraga. Dalam setting awal tersebut dapat menjelaskan situasi dari pelaku dalam film yaitu Rama dari segi ekonomi, lingkungan, status sosial, budaya, emosi, dan bagaimana keadaan kehidupannya dalam keseharian. Properti awal yang divisualkan ialah sebuah pistol dan juga jam tangan yang menunjukkan pukul 4 pagi (suasana kamar masih gelap, menunjukkan bahwa matahari belum terbit). Berdasarkan properti tersebut menggambarkan profesi tokoh Rama yang merupakan seorang anggota pasukan khusus. Ada beberapa gestur yang dilakukan oleh tokoh Rama, yaitu gerakkan berolahraga, salat, dan mencium sang istri saat akan pergi bekerja.

Dari visual yang ditampilkan dalam sekuen pertama ini, merepresentasikan bagaimana tokoh Rama yang diperankan oleh Iko Uwais menggambarkan seorang praktisi pencak silat yang memenuhi nilai-nilai dan flasafah pencak silat. Takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dengan menjalankan perintah agama untuk melakukan kewajiban salat. Ia juga memenuhi nilai Tanggap yaitu peka, peduli, dan mempunyai kesiapan diri dalam menghadapi tugasnya sebagai seorang anggota satuan aparat. Tangguh, Tanggon, dan Terengginas juga nilai-nilai pencak silat yang secara tidak langsung direpresentasikan oleh tokoh Rama dalam kehidupannya melalui bagaimana dia mengawali hari dengan bangun lebih awal dan berpamitan kepada sang ayah dan istrinya yang sedang hamil.

Sekuen 5

        Denotasi

Iko Uwais sebagai karakter Rama menolong Bowo yang diperankan oleh Tegar Satrya mencari tempat persembunyian. Latar setting lorong kamar dalam gedung apartemen. Karakter Rama melakukan perkelahian dengan menggunakan alat-alat seperti tongkat dan pisau untuk melawan musuhnya yang menggunakan parang.

        Konotasi

Pada sekuen 5, karakter mulai dihadapkan dengan konflik perkelahian tanpa senjata api. Adegan pertama diperlihatkan dengan gestur Rama yang menolong Bowo dengan memapahnya. Gestur tersebut secara tidak langsung merupakan cerminan nilai pencak silat yang harus dimiliki oleh setiap praktisi pencak silat yang mencerminkan falsafah Budi Pekerti luhur.

Saat melakukan penyerangan, tokoh Rama terlihat hanya menggunakan tongkat dan juga pisau untuk melumpuhkan lawan, sedangkan jika diperhatikan dengan saksama, setiap musuh yang keluar dari ruangan dan maju menyerang tokoh Rama dengan menggunakan parang. Properti senjata yang digunakan oleh tokoh Rama dan juga anak buah Tama Riyadi berupa pisau, tongkat, dan juga parang merupakan senjata implemental pencak silat. Sedangkan beberapa kali tokoh Rama juga terlihat melawan dengan tangan kosong dan menunjukkan beberapa liukkan-liukkan khas dari pencak silat dan menyerang bagian-bagian vital tubuh seperti kepala, dada, leher, dan juga pangkal kaki. Adapun liukkan-liukkan yang dilakukan oleh tokoh Rama dapat dilihat pada setiap pergerakkan pergelangan tangan dan jari-jari tangan untuk menangkis dan melakukan pukulan kearah lawan.

Sekuen 6

Denotasi:

Perkelahian antara dua tokoh karakter yaitu Mad Dog dan Sersan Jaka. Latar Setting berada pada sebuah ruangan kamar yang memiliki berbagai perabotan, kasur, kulkas, meja, kursi, dll. Dalam perkelahian tersebut, Mad Dog terlihat beberapa kali mengambil napas panjang sebelum akhirnya membunuh Sersan Jaka. Pada satu sekuen yang sama yaitu perkelahian antara Iko Uwais (Rama) dengan musuh-musuhnya (anak buah Tama Riyadi).

        Konotasi

Pada Sekuen 6 awal menampilkan adegan perkelahian yang dilakukan oleh tokoh yang berbeda, yaitu Mad Dog melawan Sersan Jaka. Pada adegan perkelahian tersebut tokoh Mad Dog terlihat beberapa kali mengambil napas panjang terlebih dahulu sebelum dan sesudah melakukan penyerangan. Sedangkan tokoh Sersan Jaka yang diperankan oleh Joe Taslim lebih terlihat menggunakan kaki dalam melakukan penyerangan dan juga pertahanan. Beberapa liukkan-liukkan pencak silat ditampilkan oleh tokoh Mad Dog dalam gerakkan memutar badan dan juga pergerakkan kaki, sedangkan tangan lebih sering digunakan oleh Mad Dog dalam melakukan tangkisan dari setiap serangan yang diberikan oleh Sersan Jaka.

Di tampilan visual selanjutnya memperlihatkan adegan kejar kejaran antara tokoh Rama dengan anak buah Tama Riyadi yang lainnya. Berbeda dengan tampilan gestur yang sebelumnya, pada adegan ini tokoh Rama lebih sering terlihat menggunakan kaki untuk melakukan penyerangan. Teknik pencak silat yang digunakan oleh tokoh Rama pada adegan ini menggunakan teknik belaan yaitu melakukan pertahanan dan akhirnya berhasil melumpuhkan lawan. Adapun bila diamati lebih dalam, teknik belaan yang sering dilakukan ialah Egosan, redaman, dan juga tangkisan.

Sekuen 7

Denotasi:

Latar setting sebuah ruangan gelap dengan tokoh Andi yang diikat dan dipukuli oleh Mad Dog. Pada satu sekuen yang sama diperlihatkan latar setting sebuah tempat yang berisi botol-botol kecil, drum, selang, dll  serta anak buah Tama Riyadi yang sedang meracik narkoba (laboratorium narkotik). Tokoh Letnan Wahyu, Dagu, dan Rama melakukan adegan perkelahian dengan anak buah Tama Riyadi.

Konotasi:

Pada adegan perkelahian selanjutnya menampilkan sisi ruangan yang berbeda dari yang sebelumnya, yaitu laboratorium narkotik yang dikelola oleh Tama Riyadi sebagai bos dari gembong narkoba. Dalam adegan perkelahian tersebut terdapat tiga tokoh yang melakukan penyerangan, yaitu Letnan Wahyu, Dagu, dan juga Rama. Tokoh Letnan Wahyu terlihat tidak melakukan aksi bela diri seperti tokoh Rama dan Dagu, dia hanya melawan dengan menjatuhkan barang-barang properti yang ada disekitarnya, sedangkan tokoh Dagu beberapa kali melakukan perlawanan dengan memutar tangan lawan lalu menginjak kepalanya. Tokoh Rama melakukan serangan tanpa menggunakan senjata, memutar badan dan melakukan tendangan memutar untuk dapat melumpuhkan lawan. Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa berbeda dengan tokoh Rama, tokoh Letnan Wahyu dan tokoh Dagu tidak melakukan adegan perkelahian pencak silat.

Sekuen 8

Denotasi:

Latar Setting sebuah ruangan gelap, terjadi perkelahian antara Mad Dog melawan Andi dan Rama. Mad Dog beberapa kali terlihat mengatur dan menarik napas panjang sebelum melawan. Terlihat beberapa liukkan dalam pencak silat dipergunakan oleh Rama, sedangkan Andi terlihat lebih banyak menggunakan tendangan. Properti yang digunakan sebuah pecahan paralon yang digunakan Andi untuk menusuk leher Mad Dog dan kemudian Rama membunuhnya dengan menarik paralon tersebut melukai leher Mad Dog.

Konotasi:

Pada sekuen 8, adegan perkelahian terpusat pada penyerangan tokoh Andi dan juga Rama terhadap Mad Dog. Dalam adegan ini, sering terlihat juga bahwa tokoh Mad Dog yang diperankan oleh Yayan Ruhian menarik napas panjang baik sebelum melakukan penyerangan dan juga sesudahnya. Setiap adegan yang dilakukan oleh tokoh Andi yang diperankan oleh Donny Alamsyah jika lihat tidak menampilkan liukkan-liukkan khas dari pencak silat baik dari segi tandangan ataupun pukulan. Berbeda dengan Iko Uwais yang setiap pukulannya terdapat liukkan-liukkan pencak silat. Adapun Mad Dog dalam aksinya juga menampilkan beberapa ciri khas dari setiap teknik yang ada dalam pencak silat.

 

         3. Analisis Paradigmatis

Berdasarkan dari analisis penanda dan petanda yang telah dilakukan oleh penulis, ada dua pembahasan. Pembahasan pertama dari segi film dilihat dari keseluruhan cerita baik dari akting, gesture, kostum, dan juga setting properti yang ada. Pembahasan kedua dilihat dari segi pencak silat yang menjadi sorotan utama dalam film laga The Raid Redemption. Berdasarkan dari kedua hal tersebut, pada analisis tataran kedua penulis ingin mengungkapkan bahwa film laga The Raid Redemption ini mengangkat sebuah konsep yang menjadikan aparat kemanan sebagai tokoh yang melawan kejahatan melalui pemberantasan gembong narkotik dengan pencak silat sebagai nilai budaya yang dijual kekalangan masyarakat. Ada beberapa aspek yang sebenarnya perlu diperhatikan, aspek pertama ialah latar belakang dari setiap aktor yang menjadi pemain, hanya ada dua aktor yang menggunakan pencak silat dalam adegan perkelahiannya, sedangkan aktor yang lain tidak. Aspek lainnya ialah penggolongan atau aliran serta teknik yang digunakan dalam adegan perkelahian.

        4. Mitos

Membahas sebuah mitos yang ada pada film laga The Raid Redemption ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan, yaitu bagaimana pertumbuhan film Laga di Indonesia, kebutuhan apa saja yang diperlukan dalam membuat sebuah film laga dan bagaimana narasi pencak silat ditampilkan (konsep cerita). Sesuai dengan identifikasi tanda dan penanda pada analisis tataran pertama terdapat sebuah mitos yang mengatakan bahwa film laga The Raid Redemption merupakan sebuah film laga Indonesia yang menjadi media dalam mempromosikan pencak silat ke kancah Internasional. Dalam hal tersebut penulis ingin menyampaikan bahwa benar adanya film laga The Raid Redemption memvisualkan pencak silat dalam film tersebut, namun tidak seratus persen film laga The Raid Redemption memvisualkan pencak silat. Hal ini dikarenakan sejak awal pertumbuhan film di Indonesia sudah banyak terjadi percampuran kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Berdasarkan sejarah dari pertumbuhan industri film laga Indonesia, penulis mencatat selalu ada campur tangan pihak asing dalam memproduksi sebuah film laga baik dari segi modal, teknik, dan juga pengarahannya. Adapun film laga The Raid Redemption sendiri disutradarai oleh Gareth Evans yang merupakan sutradara dari luar Indonesia, untuk itu dapat diilihat pula bahwa konsep yang dibawakan dalam film laga The Raid berbeda dari konsep – konsep film tanah air.

        5. Ideologi

Seperti yang sudah penulis sampaikan bahwa di dalam industri film Indonesia tidak pernah lepas dari pandangan mengenai keuntungan yang akan didapat dari sebuah produksi film. Hal tersebut sudah ada sejak pertama kali industri film berdiri di Indonesia. Berdasarkan hal tersebut, ternyata film yang dikatakan sebagai media dalam mempromosikan pencak silat ke kalangan internasional ini mengandung ideologi tertentu di dalamnya. Adapun ideologi yang dimaksud merujuk pada ideologi film-film Hollywood sebagai role model dari indusrti film laga Indonesia. Hal ini diperlihatkan melalui  penanda dan petanda pada film secara konsep serta penanda dan petanda pada film yang terfokus pada gesture dari tokoh-tokoh yang melakukan adegan perkelahian pencak silat.

Secara umum jika dilihat dari segi konsep narasi cerita, film laga The Raid ini menggunakan aparat negara sebagai pihak yang dapat menegakkan hukum dan memberikan keadilan dengan memberantas kejahatan, seperti layaknya ideologi yang digunakan dalam industri film laga Hollywood. Hal ini juga diperlihatkan melalui aksi-aksi kekerasan yang divisualkan dalam film laga The Raid Redemption yang tidak seratus persen menampilkan adegan perkelahian pencak silat. Sebagai contoh merujuk pada salah satu aspek pencak silat yang secara nyata divisualkan dalam film laga The Raid Redemption ini ialah aspek bela diri. Namun di dalam kehidupan nyata, seorang prakatisi pencak silat harus memperhatikan beberapa hal salah satunya ialah menggunakan keterampilan gerak yang efektif. Adanya koreografi pencak silat yang sudah disepakati bersama antar para tokoh yang menjadi pemain dalam film tersebut sudah mengurangi nilai-nilai yang terkandung dalam pencak silat yaitu nilai estetis yang merupakan keindahan dari gerak pencak silat itu sendiri.

Harahap (2013:1) mengatakan bahwa kendali pasar dilakukan dengan menjawab seberapa besar kekuatan pasar media massa ditengah-tengah masyarakat dalam mencari bentuk yang ideal. Dengan kata lain, dramatisasi dilakukan demi untuk memenuhi kebutuhan pasar yang ada dikalangan masyarakat global, dengan Hollywood sebagai role model dalam industri perfilman Indonesia. Dengan terpenuhinya kebutuhan pasar dapat mendatangkan keuntungan dan modal yang baru bagi industri film tanah air. Dalam hal ini film laga The Raid Redemption menggunakan pencak silat sebagai daya tarik masyarakat Indonesia dan juga menggunakan setting dan konsep Hollywood sebagai daya tarik berbeda yang disukai di pasaran industri film dunia.

 

Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan oleh penulis mengenai pencak silat dalam film laga The Raid Redemption, penulis mendapatkan beberapa kesimpulan yaitu, film laga The Raid Redemption memiliki tanda-tanda mengenai penggunaan bela diri pencak silat. Tanda-tanda tersebut dilihat dari segi nilai-nilai pencak silat, substansi, dan juga penggunaan senjata anatomi dan implemental. Adapun berdasarkan gerakkan, titik penyerangan, dan juga teknik-teknik bela diri yang dilakukan oleh setiap karakter, penulis menemukan bahwa jenis bela diri pencak silat yang digunakan ialah pencak silat tradisional dan hanya ada dua tokoh yang menggunakan bela diri pencak silat dalam adegan perkelahian, yaitu tokoh Rama dan Mad Dog.

Berdasarkan tanda dan penanda yang penulis temukan, penulis membenarkan adanya mitos yang beredar dikalangan masyarakat umum bahwa film laga The Raid Redemption merupakan film laga Indonesia yang menggunakan teknik bela diri pencak silat dalam aksinya. Namun penulis tidak membenarkan seratus persen mitos tersebut. Adapun berdasarkan tanda dan penanda yang ada pada film, dengan bantuan aspek mise en scene dalam ilmu sinematografi dilihat dari segi aspek latar setting, properti, karakter (pergerakkan),  dan juga pencahayaan, bahwa dalam film tersebut memuat unsur dramatisasi dari segi pergerakkan karakter. Adanya koreografi pencak silat yang sudah dikonsepkan oleh koreografer yaitu Yayan Ruhian dan juga Iko Uwais membuat nilai utama yang terkandung dalam pencak silat yaitu nilai etis, estetis, dan juga teknis tidak ditampilkan dengan sempurna. Begitu pula dengan nilai-nilai yang terkandung di dalam aspek bela diri yang menjunjung tinggi keterampilan gerak efektif dalam melakukan teknik bela diri pencak silat.

Dengan demikian film laga The Raid tidak dapat dikatakan sebagai media dalam mempromosikan bela diri pencak silat ke kalangan internasional karena kurang menampilkan bela diri pencak silat secara sempurna. Adapun pencak silat sendiri menjunjung tinggi setiap praktisinya untuk paham akan falsafah budi pekerti luhur yang merupakan ukuran dari sebuah kebenaran, keharusan, dan kebaikkan bagi manusia pencak silat untuk mempelajari dan menggunakan pencak silat dalam bersikap, berbuat, dan bertingkah laku. Hal tersebutlah yang menjadi dasar dari jiwa dan motivasi dari setiap praktisi pencak silat. Berdasarkan kedua poin tersebut, penulis mengungkapkan adanya ideologi tertentu yang bekerja pada film laga The Raid Redemption, yaitu ideologi kapitalis yang merujuk pada keuntungan tertentu dalam memenuhi kebutuhan pasar. Adapun berdasarkan tanda dan penanda yang ada, film laga The Raid Redemption merujuk pada konsep film dari Hollywood yang memang hingga sekarang ini menjadi role model dalam industri perfilman dunia.

Daftar Pustaka

[1] Armanto, Paramita. (2017). Skenario Film. Jakarta: Pusat pengembangan Perfilman Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

[2] Alexander, Chambers, Draeger. (1970). Pentjak-Silat The Indonesian Fighting Art. Kodansha International LTD

[3] Barthes, Roland. (1983). Mythologies. (Purwanto & Muzir). Hill and Wang, New York. (Barthes, Roland, 1983/2006)

[4] Dr. Mulyana, M.Pd. (2013). Pendidikan Pencak Silat. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

[5] Mascelli, Joseph. (2010). The Five C’s of Cinematography (H. Misbach Yusa Biran). Jakarta: Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta.

[6] M. Boggs, Joseph. (1992). The Art of Watching Film (Drs. Asrul Sani). Yayasan Citra. (Karya asli diterbitkan 1992).

          [7] Effendy, Heru. (2008). Industri Perfilman Indonesia Sebuah Kajian. Jakarta: Penerbit Erlangga.

          [8] Harahap, Machyudin Agung. (2013). Kapitalisme Media. Yogyakarta: Aura Pustaka

[9] Hetti R.A. (2010). Mengenal Olahraga Beladiri Silat. Bogor: Quadra

[10] Kreng, J. (2007). Fight Choreography: The Art of Non Verbal Dialogue. United States of America: Thompson Course Technology.

[11] Notosoejitno. (1997). Khazanah Pencak Silat. Jakarta: CV. Sagung Seto

[12] Pratista, Himawan. (2008). Memahami Film. Yogyakarta: Homerian Pustaka

          [13] Prasetya, AB. (2019). Analisis Semiotika Film dan Komunikasi. Malang: Intrans Publishing

          [14] Wardoyo, Lubis. (2004). Pencak Silat Edisi Kedua. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada

[15] Wibowo, PH. (2019). Atas Nama Dendam! Wajah Narasi Film Laga Indonesia. Yogyakarta: Excellent Group

[16] Wilson, Ian Douglas. (2002). The Politics of Inner Power: The Practice of Pencak Silat in West Java. Murdoch University: Murdoch University

 

Skripsi

[17] Astriyanti, Vindy. (2014). Analisis Semiotika Roland Barthes Tentang Perempuan dan Korupsi dalam Film Pendek “Penghulu”. Skripsi. Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran Bandung.

 

Jurnal

[18] Adi, Anggar Erdhina. (2011). Mitos Kultural Dalam Objek Desain: Analisis Terhadap Karakter Antropomorfis. Capture Jurnal Seni Media Rekam, Volume 3 No. 1 Desember 2011.

[19] Fanani, Fajriannorr. (2013). Semiotika Strukturalisme Saussure. Semarang: The Messenger, Volume V, Nomor 1

[20] Syafikarani, Aisyi. (2018). Re-aktualisasi Tato pada Iklan A Mild “You Will Figure It Out” dalam Membentuk Positioning Produk. In Dekave Journal of Visual Communication Design.

[21] Malik, Zaib, Bughio. (2014). Theory into Practice: Application of Roland Barthes’ Five Codes on Bina Shah’s ‘The Optimist’. Vol. 5(5). Academic Research International. ISSN: 2223-9944; eISSN: 2223-9553. www.journals.savap.org.pk

[22] Mulyana, Alamsyah, & Nugraha. (2019). Representasi Kekerasan Dalam Film “The Raid : Redemption”. Jurnal APIK, Vol 1, No 2, ISSN 2656-8306

[23] Murdiati, Dwi. (2008). Konsep Semiotik Charles Jencks Dalam Arsitektur Post-Modern. Jurnal Filsafat, Vol. 18, Nomor 1.

[24] Piliang, Yasrad Amir. (2004). Semiotika Teks: Sebuah Pendekatan Analisis Teks. Mediator, Vol 5 = No 2 2004.

[25] Tohir, Adi, & Fadilla. (2015). Immortality Myth in Permanent Marker BIC Advertising. Bandung Creative Movement 2015. 2nd International Conference on Creative Industries “Strive to Improve Creativity” Bandung Creative Movement 2015, Bandung, Indonesia, 8-9 September 2015. Telkom University.

          Sumber Lain

[26] Hesti Rika. (2020) .UNESCO Tetapkan Pencak Silat Sebagai Warisan Dunia. 30 Januari 2020. CNN Indonesia. https://www.cnnindonesia.com/olahraga/20191213170309-178-456806/unesco-tetapkan-pencak-silat-sebagai-warisan-dunia

[27] TheRaidFans. (2012, 20 April). The Raid on Hitam Putih [Trans7]/w Eng Sub [Video]. Youtube. https://www.youtube.com/watch?v=NDpW3EUvVd0

[28] Jurnalis Silat. (2019, 24 April). Sejarah Silat PSTD dan Intip Latihan Kerasnya [Video]. Youtube. https://www.youtube.com/watch?v=luhq6dgzNv0

  0 Views    Likes  

banner
10 Langkah Membangkitkan Kegeniusan Mengelola Uang ala Robert Kiyosaki

previous post

Gaya Hidup Sehat di tengah pandemi covid-19
10 Langkah Membangkitkan Kegeniusan Mengelola Uang ala Robert Kiyosaki

next post

10 Langkah Membangkitkan Kegeniusan Mengelola Uang ala Robert Kiyosaki

related posts