banner

PEMAHAMAN TERHADAP SEMBOYAN BHINNEKA TUNGGAL IKA DI ERA INDUSTRIALISASI 4.0

“Rwaneka dhatu winuwus Buddha Wisma, Bhinneki rakwa ring apan kena parwanosen, Mangka ng Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal, Bhinneka Tunggal Ika tan hana dharma mengrwa”

Kalimat di atas merupakan sepenggal peninggalan karya Empu Tantular di dalam kitab sutasoma yang memiliki makna “Agama Buddha dan Siwa (Hindu) merupakan zat yang berbeda, tetapi nilai-nilai kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal. Tercepah belah, tetapi satu jua, artinya tidak ada dharma yang mendua”. Secara historis maupun sosiologis kalimat tersebut memiliki andil besar dalam kehidupan masyarakat di Kerajaan Majapahit pada abad ke-7 yang mana kalimat tersebut menjadi perekat dan pengharmonis bagi kehidupan masyarakat yang majemuk. Selanjutnya pada perkembangan di dalam kehidupan bernegara di Indonesia masa sidang BPUPKI, oleh Founding Fathers kalimat ini dijadikan sebagai semboyan bangsa Indonesia. Kalimat “Bhinneka Tunggal Ika” lah yang dipilih oleh para bapak bangsa untuk dijadikan sebagai slogan bagi pemersatu kehidupan masyarakat yang beragam, baik dari latar belakang agama, warna kulit, suku, ras dan bahasa. 

Bhinneka Tunggal Ika yang berasal dari bahasa Sansekerta itu apabila dipandang dari segi kebahasaan tersusun atas kata “Bhinneka”, “Tunggal”, dan “Ika”. Kata “Bhinneka” berasal dari kata “Bhinna” dan “Ika”. “Bhinna” artinya berbeda-beda dan “Ika” artinya itu. Jadi, kata “Bhinneka” berarti “yang berbeda-beda itu”. Sedangkan kata “Tunggal” artinya satu, dan “Ika” artinya itu. Berdasarkan analisa tersebut dapat disimpulkan bahwa semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” berarti “beranekaragam namun satu jua” yang selalu erat merekat di setiap sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagai Bangsa yang majemuk, Indonesia dalam sudut pandang konsep multikulturalisme memberikan penekanan yang terletak pada pemahaman dan hidup dengan perbedaan sosial, budaya dan agama secara individual maupun kelompok. Multikulturalisme tersebut akan berperan sebagai pengikat dan penyatu perbedaanperbedaan yang timbul dalam masyarakat Indonesia yang multikultural sehingga akan menciptakan kestabilan nasional. Selain daripada itu, Semboyan Bhinneka Tunggal Ika memiliki kedudukan yang penting sebagai identitas dan karakter bagi bangsa indonesia, serta menjadi salah satu dari 4 pilar kebangsaan di Indonesia.

Semboyan Bhinneka Tunggal Ika mampu menunjukkan bahwa Indonesia adalah negara yang kaya akan khasanah keanekaragaman sosial masyarakatnya yang dapat hidup rukun dalam satu wilayah yang disebut Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).  Memasuki zaman globalisasi seperti sekarang ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat, globalisasi yang didefinisikan sebagai fenomena kekinian yang membuka jalur terhadap berbagai macam ideologi dan menggiring kepada perubahan sosial yang terbentuk atas interaksi sosial di masyarakat melalui media informasi, telah membawa pengaruh pertentangan secara ideologis “liberalisme” yang berkembang dari aliran “kapitalisme”, serta paham etnosentrisme yang membawa perubahan secara destruktif pada tatanan sosial masyarakat Indonesia. Globalisasi juga telah mendorong berbagai bangsa untuk melakukan pembaharuan dan perubahan termasuk Indonesia. Bagi Bangsa Indonesia yang dalam tahapan negara berkembang, bangsa ini memasuki era baru dalam ekonomi yaitu Industrialisasi. Industrialisasi merupakan salah satu proses interaksi antara pengembangan teknologi, inovasi dalam produksi dan perdagangan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Industrialisasi diartikan pula sebagai proses modernisasi ekonomi yang mencakup berbagai sektor ekonomi yang ada. Meskipun demikian, industrialisasi bukan merupakan tujuan akhir tetapi hanya merupakan salah satu strategi yang ditempuh untuk mendukung pembangunan ekonomi nasional.  Era industrialisasi telah memasuki era industrialisasi 4.0 yang ditandai dengan berkembangnya teknologi dalam proses produksi serta dituntutnya kompetensi kebahasaan dari masyarakat. Industrialisasi membawa dampak positif dalam memberdayakan potensi individu dan masyarakat karena revolusi industri fase ini dapat menciptakan peluang baru bagi ekonomi, sosial, maupun pengembangan diri pribadi. Meskipun membawa dampak positif akan tetapi industrialisasi juga membawa dampak negatif berupa pengerdilan dan marginalisasi (peminggiran) beberapa kelompok dan ini dapat memperburuk kepentingan sosial bahkan kohesi sosial, juga dapat menciptakan resiko keamanan dan dapat pula merusak interelasi (hubungan) antar manusia.  

Terkait adanya globalisasi yang membawa paham etnosentrisme perlulah mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah maupun masyarakat umum. Sumner (dalam Berry, 1999) menyatakan bahwa etnosentrisme merupakan suatu kecenderungan kuat yang diterapkan suatu kelompok dengan membuat patokan kelopok sendiri sebagai patokan satu-satunya ketika memandang kelompok lain, dengan akibat menempatkan kelompok sendiri pada kedudukan teratas dan mendudukkan kelompok lain pada kedudukan lebih rendah, sedangkan Myers mendefinisikan etnosentrisme sebagai keyakinan suatu kelompok terhadap superioritas etnis dan budayanya sendiri sehingga menganggap rendah kelompok lain di luar kelompoknya. Sehingga dengan demikian etnosentrisme dapat diartikan sebagai pandangan yang menganggap bahwa kelompok atau kebudayaan sendiri lebih baik daripada kelompok atau kebudayaan lainnya.  Tentu dari definisi yang telah tertera di atas kita dapat menyimpulkan bahwa etnosentrisme memiliki implikasi negatif terhadap tatanan sosial masyarakat yang dampak bisa menciptakan konflik antar suku karena masing-masing saling membanggakan budayanya tanpa menghormati budaya lain, adanya aliran politik yang terselubung dalam budaya bangsa, menghambat proses asimilasi atau perpaduan budaya-budaya yang ada serta tidak dapat mengembangkan budanyanya sesuai dengan perkembangan zaman modern.  Etnosentrisme yang berlebih tentu dapat pula menghambat proses pembangunan nasional yang penting bagi negara ini, Pembangunan nasional Indonesia adalah suatu rangkaian kegiatan usaha yang dilakukan secara kontinue dalam semua bidang kehidupan masyarakat, bangsa dan negara untuk mencapai suatu keadaan yang lebih baik. Pembangunan nasional dilaksanakan dalam rangka mewujudkan tujuan nasional seperti yang tertulis pada Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yaitu melindungi segenap bangsa Indoneisa dan seluruh tumpah darah Indonesia, meningkatkan kesejahteraan umum, mencerdasakan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berlandaskan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.   Pembangunan nasional Indonesia tidak hanya menyangkut problematika dalam hal perekonomian maupun politik tetapi juga melingkupi pembangunan mental, spiritual, kepribadian, juga termasuk dalam kegiatan pembangunan (jiwa). Tidaklah mungkin pembangunan ekonomi akan dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia jika jiwa dari generasi bangsa masih mempertahankan egoisme kultur masing-masing individu, sehingga percepatan pembangunan harus dimimbangi dengan percepatan pembangunan mental jiwa bangsa juga.  Untuk mewujudkan pembangunan nasional pada era industrialisasi yang mana perkembangan paham etnosentrisme semakin meluas yang disebabkan oleh adanya pemahamam masing-masing individu yang keliru dalam mempertahankan kualitas dan identitas pribadinya dalam menghadapi pergolakan zaman maka perlulah suatu upaya pemroteksian guna mencegah timbulnya perpecahan bangsa yang multikulturalisme. Upaya yang dapat digunakan sebagai langkah guna membendung perkembangan etnosentrisme adalah dengan memperteguh pemahaman terhadap semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

  0 Views    Likes  

banner
10 Langkah Membangkitkan Kegeniusan Mengelola Uang ala Robert Kiyosaki

previous post

Gaya Hidup Sehat di tengah pandemi covid-19
10 Langkah Membangkitkan Kegeniusan Mengelola Uang ala Robert Kiyosaki

next post

10 Langkah Membangkitkan Kegeniusan Mengelola Uang ala Robert Kiyosaki

related posts