Penamaan Unik Daerah Bali secara Turun Temurun.

Mendengar kata “Bali”, apa yang mungkin ada dalam pikiran kalian? Mungkin liburan, Ubud, banyak upacara persembahyangan, dan sebagainya. Kali ini, aku berniat untuk menuliskan mengenai salah satu budaya yang kerap menjadi banyak pertanyaan ketika aku memperkenalkan diri sebagai seorang yang berasal dari Bali dan beragama Hindu, yaitu tentang kasta, nama, dan varna. Apa itu? Beberapa dari kalian yang mungkin berniat mencari jawaban tentang itu dan sejenisnya, mari kita simak secara sederhana.

Sebelumnya perkenalkan, aku adalah seorang gadis yang berasal dari Bali dan garis keturunan agama Hindu dari sejak kakek dan nenek moyang. Jadi, sedikit lebihnya aku familiar dengan kasta ini. Aku pernah mendapat pertanyaan yang agak random tentang kasta, "Semua orang di Bali pakai kasta atau yang beragama Hindu saja?" Sebelum lebih jauh, mungkin yang sebaiknya diluruskan adalah apa itu kasta dan bagaimana penerapan kasta dalam umat beragama Hindu di Bali, karena untuk umat beragama Hindu di luar Bali, aku belum mengetahuinya secara pasti.

Sebenarnya, kasta adalah istilah yang digunakan pada zaman dahulu ketika Indonesia masih berada pada kepemimpinan kerajaan. Istilah tersebut ialah Catur Kasta yang berarti empat jenis golongan masyarakat berdasarkan garis keturunannya yang mana memiliki fungsi dan kedudukannya masing-masing. Apa saja bagian-bagiannya?

Brahmana, golongan ini merupakan golongan yang berada pada urutan tertinggi dan biasanya berfungsi sebagai pendeta atau pemimpin dalam upacara keagamaan. Contoh nama pada golongan ini adalah Ida Ayu (perempuan) dan Ida Bagus (laki-laki). Mereka tinggal di suatu kompleks hunian yang disebut griya, diwariskan berdasarkan garis keturunan leluhur mereka pada masa lalu. Ksatria, golongan ini merupakan golongan pada urutan setelah Brahmana, biasanya golongan ini merupakan keturunan raja, bangsawan yang memimpin kerajaan. Contoh nama pada golongan ini adalah Anak Agung, Cokorda, Gusti, Dewa Agung (laki-laki) dan Dewa Ayu (perempuan). Mereka umumnya keturunan raja dan tinggal di puri atau sekitar puri, yaitu kediaman leluhur mereka (bangsawan Bali) yang memerintah atau mengabdi pada masa lalu. Bagaimanapun, ada sebagian golongan kesatria yang tinggal di luar puri. Umumnya mereka adalah keturunan pejabat puri pada masa lalu. Waisya, golongan ini merupakan golongan pada urutan selanjutnya, biasanya golongan ini merupakan pengusaha maupun pedangang kerajaan. Contoh nama pada golongan ini adalah Dewa Ngakan (laki-laki) dan Desak (perempuan), Kompyang, Sang, dan Si. sebagian keturunan waisya tidak lagi menggunakan nama depannya, terkait banyaknya asimilasi kelompok ini dengan kaum sudra pada masa lalu.  Sudra, golongan ini merupakan golongan yang berada pada urutan terbawah dan biasanya berprofesi sebagai pelayan, pekerja, atau buruh. Nama pada golongan ini tidak ada gelar khusus seperti golongan lainnya, biasanya langsung mengacu dan diawali oleh Wayan, Made, Komang atau Ketut, dan sebagainya.

Hampir lupa disebutkan, lumrahnya nama I dan Ni yang sering di gunakan juga memiliki maknanya, yang mana I untuk laki-laki dan Ni untuk perempuan. Selanjutnya muncul lagi pertanyaan, apa itu Wayan, Made, Komang, Ketut? Nama tersebut merupakan nama yang menandai urutan kelahiran umat beragama Hindu di Bali dengan rincian sebagai berikut:

Anak pertama: Putu, Wayan, Gede, Luh (perempuan) Anak kedua: Kade, Kadek, Made, Nengah Anak ketiga: Nyoman, Komang Anak keempat: Ketut Anak kelima (disebut Putu balik) dan seterusnya kembali ke Putu

Pada Catur Kasta, tidak ada celah bagi golongan bawah untuk naik ke atas dan menekuni profesi yang bukan dari golongan asalnya.

Nah, setelah teman-teman memahami tentang unsur Catur Kasta, saatnya kita membahas soal Varna/Warna. Pada masa yang sudah modern, Kasta di Bali bukan lagi menjadi suatu acuan untuk profesi seseorang, tetapi hanya digunakan untuk menandai nama sebagai garis atau silsilah keturunan keluarga. Saat ini, Bali menggunakan istilah Catur Warna.

Catur Warna sendiri berarti empat golongan yang diperoleh Ketika seseorang menekuni suatu keahlian tertentu, berbeda dengan Catur Kasta, yang apabila lahir pada golongan Sudra maka secara otomatis ia tidak dapat melakukan pekerjaan selain menjadi pelayan atau pesuruh. Namun, pada Catur Warna, meskipun terlahir dari garis keturunan Sudra, ia dapat menjadi seorang Gubernur atau Walikota (golongan kerajaan/pemerintahan) apabila memang layak dan mumpuni sebagai seorang pemimpin.

Dari penjelasan sederhananya, dapat dilihat bahwa perbedaan antara Catur Kasta dan Catur Warna terlihat mencolok. Kasta sendiri diperoleh sejak kelahiran yang berasal dari keluarga. Sementara warna merupakan golongan bagi orang-orang yang menekuni sebuah bidang pekerjaan dan memperolehnya berdasarkan kemampuan sendiri. Orang Bali mengenal sistem kasta yang diwariskan dari leluhur mereka, yang mengindikasikan keistimewaan peran seseorang dalam masyarakat pada zaman dahulu. Meskipun tidak lagi diterapkan secara kaku sebagaimana pada masa lampau, dalam beberapa hal, keistimewaan tersebut masih dipertahankan, misalnya dalam upacara dan perkawinan adat Bali, masih dikenal pembedaan berdasarkan garis keturunan leluhur. Sistem kasta itu pun masih dipertahankan dalam tradisi penamaan orang Bali yang mengindikasikan kasta keluarga mereka, dan gelar ini diwariskan turun temurun sekadar pengingat keistimewaan leluhur, meskipun tidak lagi menjabat profesi sesuai kasta mereka dalam masyarakat pada zaman dahulu. Orang Bali yang juga menggunakan tata cara penamaan yang mencirikan urutan kelahiran anak menjadi ciri khas kebudayaan suku Bali yang tak dikenal di tempat lainnya.

Penamaan ini tentunya tidak bersifat mutlak ya sobat OSC, akan ada juga kalanya kalian mendengar nama orang Bali yang beragama Hindu namun tidak mengandung unsur nama yang sebelumnya dijelaskan, terlebih lagi untuk orang Sudra, aku pernah memiliki beberapa teman yang namanya tidak mengandung unsur-unsur tersebut. Tetapi, untuk yang kastanya Brahmana, Ksatria, Waisya aku belum pernah menderngar mereka tidak menggunakan unsur penamaan dari leluhur tersebut.

Mungkin secara ringkasnya demikian, jika ada kesempatan aku akan berbagi mengenai beberapa kebudayaan di Bali yang menarik dan sering menjadi perhatian orang banyak. Semoga bermanfaat dan menambah wawasan kalian! Sampai jumpa.

Referensi : 1. ^Ketut Wiana; Raka Santeri, Kasta dalam Hindu: Kesalahpahaman Selama Berabad-abad, Yayasan Dharma Naradha, ISBN 979-8357-03-5 2.^ Zajonc, R. B. 2001. The family dynamics of intellectual development. American Psychologist 56: 490–496, p. 490. 3. ^ Budi Pasupati, Nama Orang Bali, diakses tanggal 8 Agustus 2015

  3 Views    Likes  

Tips Menjaga Kesehatan selama Nge-Kost

previous post

REVIEW FILM SRI ASIH LANJUTAN DARI GUNDALA
Tips Menjaga Kesehatan selama Nge-Kost

next post

Tips Menjaga Kesehatan selama Nge-Kost

related posts