banner

Pendidikan Indonesia Dalam Pusaran Covid-19

Dari sudut pandang pengamatan penulis setelah berdiskusi dengan seorang pengamat pendidikan Prof Djoko Saryono terkait dunia problematika pendidikan ada tiga hal yang perlu diperhatikan. Pertama, langkah dunia pendidikan menghadapi pandemi covid 19. Kedua, tantangan dunia pendidikan, dan ketiga antisipasi dunia pendidikan pasca pandemi covid-19.

Pengamatan pertama mengacu pada langkah pendidikan di Indonesia usai presiden Jokowi menyatakan bahwa Indonesia positif ada yang terkena covid-19. Semua sektor mulai waspada. Terlebih, saat suasana kian tidak kondusif, Menteri Pendidikan Indonesia Nadiem Anwar Makarim mengeluarkan Surat Edaran Mendikbud Nomor: 36962/MPK.A/HK/2020 tentang Pembelajaran secara Daring dan Bekerja dari Rumah dalam Rangka Pencegahan Penyebaran Corona Virus Disease (COVID-19). Langkah dunia pendidikan ini sebagai solusi yang pernah diterapkan oleh pemerintah dan elemen pendidikan.

Ini juga berkaitan dengan Kampus Merdeka dan Merdeka Belajar (MBKM), Prof Djoko Saryono dalam penyampaiannya bahwa konsep MBKM merupakan pekerjaan rumah yang harus diselesaikan secara bersama. Mengingat tensi dan kondisi politik di Indonesia selalu berubah setiap lima tahun, bukan tidak mungkin inkonsistensi pendidikan juga akan terjadi seiring naik turunnya tensi politik yang ada di Indonesia.

Kedua, Indonesia menghadapi tantangan dunia pendidikan selama pandemi covid-19. Misalnya, tantangan yang dialami pelajar atau mahasiswa dari wilayah 3 T akibat sulit sinyal sehingga mereka tidak dapat mengikuti pembelajaran. Dilansir dari situs katadata penetrasi pengakses internet di kota dan di Jawa dengan presentasi dari seluruh penduduk Indonesia sebanyak 143,3 juta orang per Maret 2019 dari sekitar 268 juta orang Indonesia per Juli 2019.

            Mengacu pada data di pulau Jawa yang notabene bukan wilayah 3 T tentu pembelajaran daring menjadi sebuah tantangan. Hal ini diakibatkan karena ketidakmerataan internet di Indonesia. Meskipun, Indonesia dapat mengklaim sebagai pengakses tertinggi internet urutan kelima seluruh dunia. Namun, perlu disadari bahwa penggunaan internet untuk belajar masih minim. Terkalahkan oleh penggunaan untuk kepentingan permainan daring, hiburan, maupun sosial media. Kira - kira bisa disamakan dengan budaya literasi yang masih digaungkan dengan susah payah.

Tantangan lainnya adalah ketidaksiapan pendidikan akan dunia teknologi. Tenaga pengajar seperti guru dan dosen merupakan generasi peralihan yang baru mengenal dunia teknologi. Tentu tidak dapat disamakan dengan generasi Z yang sudah melek teknologi, akibatnya tenaga pengajar masih cukup kebingungan untuk melakukan metamorfosis pembelajaran daring.

Sebagaimana dikutip dari bbc.com, bahwa Irvan seorang guru sekolah dasar menilai jika sistem pembelajaran daring dilangsungkan secara mendadak sehingga banyak menimbulkan, utamanya di kalangan pengajar sekolah dasar yang belum terbiasa dengan metode belajar daring. Hal ini juga dirasakan oleh seorang guru di Aceh bernama Hurata yang mengaku bahwa proses pembelajaran tidak efektif karena keterbatasan peralatan belajar daring yang ia miliki seperti laptop, handphone dan jaringan internet.

Ketiga, antisipasi yang perlu dilakukan dunia pendidikan pasca pandemi. Setelah pandemi berakhir, semua akan kembali pada pendidikan tatap muka. Namun, ini justru menjadi tantangan di samping pandemi covid-19 yang belum diketahui kapan berakhir. Tantang yang paling nampak dari segi penguasaan materi. Karena bagaimanapun efektivitas pembelajaran daring tidak semaksimal pembelajaran secara tatap muka. Sebab, dalam pembelajaran daring tidak terjadi keterlibatan emosi antara pendidik dan peserta didik.

Menurut Piaget (Trianto, 2010), perkembangan kognitif sebagian besar ditentukan oleh manipulasi dan interaksi anak dengan lingkungannya. Teori perkembangan Piaget ini berpandangan jika perkembangan kognitif merupakan proses dimana anak memahami realitas melalui pengalaman dan interaksi serta secara aktif membangun sistem makna. Oleh karena itu, peserta didik sedikit mengalami keterlambatan dari segi kognitif.

Guna optimalisasi pembelajaran daring dengan harapan beberapa ke depan dapat digunakan sebagai solusi untuk modernisasi pendidikan di Indonesia. Pembelajaran daring harus memperhatikan faktor yang menjadi point utama dari keberhasilan, yaitu guru sebagai fasilitator, peserta pendidikan (siswa), dan komponen pendidikan. Pembelajaran daring sebagai langkah fundamental pada konsep MBKM juga menjadi hal kompleks agar segenap kepentingan bangsa bisa berporos pada dunia pendidikan.

Jika konsep pendidikan MBKM berubah seiring tensi politik, maka pendidikan di Indonesia juga menjadi sia-sia. Segala konsepan yang telah dicetuskan oleh Nadiem Makarim menjadi seolah bangunan yang tidak selesai dibangun lalu rubuh kembali. Pembelajaran daring ini juga menjadi kesempatan besar, guna menerapkan MBKM sejak dari akar permasalahan yang ketidakadilan pendidikan yang ada di Indonesia. Tidak menjadi masalah asing lagi, bahwa perjenjangan pendidikan di Indonesia semakin tinggi semakin spesifik, hal ini yang membuat bertanya tanya kejamakan pembelajaran yang terjadi pada tingkat pendidikan terbawah.

Habituasi dan Pembiasaan

Cecilia A. Mercado (2008) dalam artikelnya membahas dari perspektif kesiapan dalam implementasi pembelajaran e-learning (readiness assessment tool for an e-learning environment implementation). Dua pemain utama yang disebutkan dapat mendorong kesuksesan pembelajaran daring, diantaranya peserta pendidikan dan pelatihan serta guru atau fasilitator. Indikatornya meliputi keterampilan teknologi yang dimiliki guru atau fasilitator dan peserta pendidikan dan pelatihan, kesiapan akses teknologi, sikap atau perilaku guru atau fasilitator  dan peserta pendidikan, pelatihan, serta kesiapan institusi.

Dari indikator keterampilan teknologi, bagi generasi milenial tentu saja tidak terlalu memiliki banyak hambatan. Generasi milenial sudah terbiasa dengan dengan penggunaan teknologi informasi dan komputer (TIK). Meskipun selama ini penggunaan TIK tidak berorientasi pada pembelajar daring, namun generasi milenial akan mudah beradaptasi. Adapun indikator lain yang perlu mendapatkan perhatian adalah kesiapan peserta pendidikan dan pelatihan menyangkut sikap dan perilaku seperti kebiasaan, kemampuan, motivasi dan manajemen waktu untuk mengikuti proses pembelajaran.

Ini tantangan yang sebenarnya harus dilakukan dengan niat dan latihan yang sungguh-sungguh. Pendapat penulis, keberhasilan utama dari pembelajaran daring meliputi komponen berikut, yaitu pengajar, peserta didik dan komponen pendidikan. Guru sebagai fasilitator harus memiliki konsep dan protokol agar tidak gagal paham terhadap konsep belajar daring. Konsep tersebut diantaranya

Pertama jajaran pendidik dalam hal ini dosen atau guru harus membuat jadwal untuk men-share materi atau tugas dalam sehari. Jika dalam satu waktu semua guru bersamaan memberi tugas, imbasnya pada siswa atau mahasiswa. Mengingat di tengah kondisi pandemi ini psikologis peserta didik perlu diperhatikan. Tugas yang terlalu menumpuk berakibat pada ketidakstabilan emosi peserta didik, akibatnya mereka tertekan dan justru semakin malas untuk belajar.

Kedua, materi dan tugas yang kontekstual. Maksudnya materi dan tugas yang diberikan sesuai dengan kehidupan sehari-hari para siswa atau mahasiswa. Harapannya, agar siswa dapat menerapkan pembelajaran di dunia nyata. Misalnya, pada kondisi pandemi covid-19, maka materi yang layak diberikan tentang cara memutus tali persebaran covid-19. Lebih dari itu menjadi luar biasa dengan penerapan pendidikan adaptif budaya. Bentuk keselarasan pendidikan dengan budaya yang ada di daerah setempat. Dalam proses pembelajaran daring tidak terjadi transfer emosional, sehingga penguatan moral peserta didik dapat dilakukan dengan adaptif pada budaya sekitar.

Ketiga, guru atau dosen perlu memperhatikan aspek kognitif dan psikomotorik. Tugas tak melulu menguras pikiran siswa atau mahasiswa, namun harus melatih keterampilannya dalam memahami sebuah materi yang dipelajari. Maksudnya, mahasiswa dan siswa didorong agar dapat kreatif dan inovatif selama di study from home. Tugas tidak hanya diberikan begitu saja, perlu tindakan responsif dari pendidik sehingga yang dididik dapat mengerjakan sesuai dengan tingkat kreatif individu dalam menyelesaikan tugasnya.

Keempat, guru atau dosen secara kontinyu melakukan evaluasi. Evaluasi ini menyakut kecepatan dalam memberikan tanggapan, memberikan keluasan ruang bagi peserta didik untuk berdiskusi, tanya jawab, dan inovasi pada bahan ajar. Kelima, guru atau dosen harus mempelajari platform yang tepat dan sesuai kemampuan siswa atau mahasiswa. Karena salah satu penyebab terhambatnya pembelajaran daring adalah sinyal, maka hal ini harus menjadi perhatian khusus.

Dari peserta didik yang rerata merupakan generasi milenial hal yang perlu dilakukan adalah manajemen waktu dan pembiasaan. Manajemen waktu disamakan dengan kebiasaan sebelum pembelajaran daring. Guna optimalisasi peserta didik dapat membuat jadwal harian. Sudah seharusnya peserta didik sadar, untuk tidak bermalas-malasan di rumah. Satu hal yang perlu ditanamkan bahwa tidak ke tempat kuliah sebagai, bukan berarti berhenti belajar

 

  37 Views    Likes  

banner
TIPS AND TRIK LOLOS BEASISWA OSC S1!

previous post

Pelajar Jangan Down dari Pandemi
TIPS AND TRIK LOLOS BEASISWA OSC S1!

next post

TIPS AND TRIK LOLOS BEASISWA OSC S1!

related posts