banner

pride and prejudice (2005)

Dari beberapa film-film yang diangkat dari novel karya Jane Austen seperti:

Sense and Sensibility (1995)

Emma (1996)

Mansfield Park (1999)

Pride and Prejudice (1995)

Becoming Jane (2007)

Dan beberapa versi drama televisi lainnya yang juga tak kalah menakjubkannya. Dan saya memang menyukai film-film adaptasi karya Jane Austen, yang juga menjadi alasan awal saya menyukai film-film bertema klasik lainnya.

Dari beberapa judul yang saya sebutkan di atas, saya paling menyukai Pride and Prejudice, dan saya berpendapat film Pride dan Prejudice (2005) ini sebagai adaptasi yang bagus dari Novel Jane Austen. Dari Pride and Prejudice saya menangkap gambaran kehidupan abad ke-19 yang menawan, dan bagaimana kaum menengah hidup di antara kaum bangsawan yang memang kental perbedaan sisi kehidupannya yang mana status sosial masih menjadi jurang pemisah antara si kaya dan si miskin, serta peraturan-peraturan aneh antara anak laki-laki dan anak perempuan. Jane Austen berhasil menciptakan karakter-karakter memukau dengan narasi dan jalan cerita yang tidak hanya memanjakan mata ketika menontonnya tapi juga ketika membaca bukunya.

Menonton Pride and Prejudice kita disuguhkan jalan cerita yang menarik dari dua karakter sebut saja Elisabeth Bennet dan Mr. Darcy, yang mana dipertemuan pertama mereka seperti sudah menumbuhkan ketidaksukaan satu sama lain. Mr. Darcy yang angkuh dan terkesan sombong telah melukai perasaan Lizzy a.k.a Elisabeth dengan komentarnya, ditambah lagi sifatnya yang kaku dan datar masih harus diperparah dengan kemampuan berkomunikasi dan bersosialisasi yang buruk (yang sebenarnya merupakan sifat menarik dari si Mr. Darcy ini) sedangkan Lizzy sendiri langsung menganggap Mr. Darcy sebagai pria angkuh yang tidak akan pernah mendapat kesempatan lainnya untuk mengenal dirinya (Lizzy sudah tersinggung diawalnya) ditambah lagi Lizzy terlalu mudah menilai seseorang dari kesan sekilas. 

Mr. Darcy sendiri mulai menggagumi Lizzy seiring berjalannya waktu. Karena si Elisabeth disini merupakan sosok yang feminis dan cenderung berterus terang dalam berkomentar termasuk saat mengkritik perangai Mr. Darcy yang menurutnya tidak hanya angkuh dan sombong namun juga menyebalkan serta memiliki tatapan yang merendahkan (menurut aku sih Lizzy terlalu dibutakan oleh prasangka buruknya pada Mr. Darcy. Poor Mr. Darcy wkwk). Tidak mudah bagi Mr. Darcy untuk mengembalikan kepercayaan Lizzy padanya, terlebih ada saat dimana ternyata Mr. Darcy penyebab Mr. Bingley meninggalkan kakaknya Jane (hal ini berkaitan kesenjangan sosial dimana para wanita dari kalangan biasa cenderung mencari suami kaya raya untuk menhidupi mereka). Dan ketika akhirnya Lizzy berhasil mengeluarkan kekecewaannya pada Mr. Darcy tak berselang lama Lizzy yang dibuat kecewa karena akhirnya dia menyadari kebenaran dari alasan Mr. Darcy memisahkan Mr. Bingley dan Jane. Seiring berjalannya waktu, Lizzy harus mengakui bahwa Mr. Darcy tidaklah seperti yang dipikirkannya, Mr. Darcy melakukan segala sesuatu berdasarkan fakta dan kenyataan dan tentusaja memiliki alasan yang masuk akal. Terlebih kebaikan Mr. Darcy yang tidak terlihat membuat Lizzy mulai menyadari seperti apa sosok Mr. Darcy sebenarnya.

Dari awal kita akan dibuat greget oleh konflik-konflik ringan yang tidak terlalu membuat emosi namun memancing rasa penasaran yang besar, juga ada karakter-karakter pendukung yang membuat jalan cerita semakin menarik dan menarik setiap menitnya. Seperti sosok Mr. Collins yang kebelet mencari istri dan melamar Lizzy tapi langsung ditolak mentah-mentah. Lalu ada saudara-sudara Lizzy yang masih muda yang perannya justru membuat film ini tampak menarik, termasuk Jane yang disini menurut aku terlalu pasrah. Aku paling suka sosok Mr. Bennet yang menurutku merupakan sosok Ayah pengertian, dan Mrs. Bennet yang terlalu ambisius. Mr. Wickham yang tampan dan Mr. Bingley yang cute abis. Dan tentu saja Lady Catherine de Bourgh yang pada awalnya menyebalkan karena berani menghina Lizzy meski pada akhirnya aku mulai menyukainya karena berkat Lady Catherine-lah Mr. Darcy dan Lizzy bisa bersama. 

Pada Pride and Prejudice (2005) kita disuguhkan Sinematografi menawan, serta acting dari setiap aktor dan aktrisnya yang keren dengan chemistry yang bagus. Film ini rekommended bangett bagi yang belum pernah menontonnya.

  0 Views    Likes  

banner
10 Langkah Membangkitkan Kegeniusan Mengelola Uang ala Robert Kiyosaki

previous post

Gaya Hidup Sehat di tengah pandemi covid-19
10 Langkah Membangkitkan Kegeniusan Mengelola Uang ala Robert Kiyosaki

next post

10 Langkah Membangkitkan Kegeniusan Mengelola Uang ala Robert Kiyosaki

related posts