ULIN, SI KAYU BESI DARI KALIMANTAN

Ulin (Eusideroxylon zwageri T &B) yang juga dikenal dengan nama belian dan kayu besi borneo (Borneo iron wood), termasuk salah satu jenis pohon asli pulau Kalimantan. Saat ini baik luas, potensi maupun penyebarannya menurun secara signifikan terutama sejak tiga dekade belakangan ini. Tegakan alam ulin umumnya hanya dapat ditemui di taman nasional, hutan lindung, kawasan hutan dengan tujuan khusus (KHDTK), hutan penelitian dan hutan produksi terbatas yang berada di daerah hulu yang sulit dijangkau.

Ulin mempunyai banyak keunggulan diantaranya kayunya sangat kuat dan sangat awet, digolongkan Kelas Kuat 1 dan Kelas Awet 1, memiliki kemampuan bertunas (coppice) yang sangat baik, di mana meskipun pohon sudah tua bila ditebang atau roboh akan bertunas kembali sepanjang akarnya tidak rusak, mempunyai umur yang sangat panjang mencapai ratusan tahun karena pertumbuhannya yang lambat, bijinya dapat menghasilkan lebih dari satu bibit bila dilakukan pemotongan biji, pohon ulin yang telah dewasa tahan terhadap kebakaran karena kerapatan kayu yang tinggi, mempunyai kulit yang tebal dengan lapisan corkyang berlapis-lapis dan  relatif mudah dalam pengadaan bibit yaitu dari biji, cabutan, putaran dan stek pucuk.

Pemanfaatan kayu ulin telah dilakukan ratusan tahun yang lalu oleh suku Dayak di pedalaman Kalimantan. Atap dari kayu ulin disebut sirap dipakai untuk atap rumah adat seperti Betang di Kalimantan Tengah, selama ratusan tahun. Begitu pula tiang, kusen, lantai dan dinding rumah pada masa lampau menggunakan kayu ulin. Kayu ulin yang sangat kuat dan sangat awet juga banyak digunakan untuk jembatan terutama di pedalaman, bangunan untuk pelabuhan/dermaga di pinggir sungai dan pantai, sebagai tiang listrik, tiang telepon, sebagai turap yang dipakai di tepi sungai, untuk pagar kebun dan pekarangan rumah. Kayu ulin juga digunakan untuk ukiran, patung, ornament yang diletakkan didepan rumah adat atau bangunan kantor.

Hutan alam ulin umumnya tersebar di Sumatera dan Kalimantan. Namun belakangan ini baik luas maupun potensi hutan ulin menurun secara drastis. Lokasi yang dulunya terkenal sebagai penghasil kayu ulin antara lain di Kintap (Kalimantan Selatan) dan Sebulu (Kalimantan Timur) kini hanya tinggal kenangan. Bahkan tunggul dan batang ulin yang tertinggal di hutan belakangan ini diambil oleh masyarakat untuk dijadikan balok atau papan dengan panjang satu meter yang nantinya digunakan untuk berbagai keperluan antara lain kusen jendela.

Sumber :

Effendi, R. (2009). Kayu Ulin Di Kalimantan : Potensi, Manfaat, Permasalahan Dan Kebijakan Yang Diperlukan Untuk Kelestariannya. Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan, VI(3), 161-168.

 

  7 Views    Likes  

Bingung Pilih Bahasa Pemograman Apa? Yuk Simak 6 Pilihan Terbaik Di 2021(Part 2)

previous post

Bingung pilih Bahasa Pemograman apa? Yuk simak 6 pilihan terbaik di 2021(part 1)
Bingung Pilih Bahasa Pemograman Apa? Yuk Simak 6 Pilihan Terbaik Di 2021(Part 2)

next post

Bingung Pilih Bahasa Pemograman Apa? Yuk Simak 6 Pilihan Terbaik Di 2021(Part 2)

related posts