banner

Zona Merah Pendidikan di Indonesia

Rendahnya mutu pendidikan di indonesia sudah bukan rahasia lagi. Semua orang merasakan bagaimana rendahnya pendidikan di negara tercinta kita ini. Ada banyak sumber yang menjelaskan tentang kondisi pendidikan di Indonesia. Salah satunya adalah pernyataan yang dirilis oleh Human Development Reports pada tahun 2017, berdasarkan Education Index indonesia berada di posisi ke-7 di ASEAN dengan skor 0,622. Lalu posisi pertama diraih oleh Singapura dengan skor 0,832. Angka tersebut dihitung menggunakan Mean Years of Schooling dan Expected Year of Schooling. Rata-rata pendidikan di Indonesia nyatanya hanya 8 tahun, di posisi pertama diisi oleh Singapura dengan rata-rata pendidikan selama 11,5 tahun. Hal ini menunjukkan bagaimana korelasi antara lama sekolah yang di tempuh penduduk dan kualitas talenta sumber daya negara tersebut. Rendahnya rata-rata pendidikan di Indonesia untungnya tidak diam di tempat. Pada tahun 2018, rerata pendidikan di Indonesia meningkat menjadi 8,58 tahun yang setara dengan kelas 2 SMP/sederajat. Ini termasuk peningkatan yang kurang memuaskan, dimana target Renstra KEMENDIKBUD pada tahun itu sebesar 8,7 tahun. Di dalam negeri, bila diurutkan dari 34 provinsi di Indonesia, DKI Jakarta menempati peringkat tertinggi rata-rata lama sekolah yaitu selama 11,06 tahun, disusul Kepulauan Riau(10,01 tahun), dan Maluku(9,78 tahun) pada peringkat ketiga. Sementara rata-rata peringkat lama sekolah terendah diisi oleh PAPUA(6,66 tahun). Disusul oleh Kalimantan Barat(7,65 tahun di posisi kedua terendah, dan NTB(7,69) di posisi ketiga terendah. Hal ini tentunya menjadi pertanyaan besar. Apa sebenarnya yang mendasari rendahnya rata-rata lama sekolah di Indonesia, yang tentunya sangat mempengaruhi kualitas penduduk Indonesia di mata dunia. Salah satu alasan rendahnya pendidikan di indonesia adalah pendidikan yang tidak merata. Baik itu fasilitas maupun kurikulum yang ditetapkan pemerintah. Bisa dilihat dari ketimpangan pendidikan di desa dan di kota. Rata-rata lama sekolah penduduk berumur 15 tahun ke atas di perkotaan lebih tinggi daripada di perdesaan. Penduduk perkotaan rata-rata sudah menyelesaikan pendidikan dasar 9 tahun, sementara penduduk desa hanya menyelesaikan pendidikan hingga 7 tahun yaitu hingga kelas 1 SMP/sederajat. Pemerintah tentunya sudah melakukan berbagai cara untuk terus meningkatkan mutu pendidikan. Namun hingga saat ini tetap saja lama sekolah masih rendah. Salah satu alasan mengapa masih maraknya pelajar yang tidak melanjutkan pendidikan adalah kurangnya kesadaran orang tua akan pentingnya pendidikan. Lalu beberapa orang tua beralasan dengan membawa masalah ekonomi yang kurang. Pada tahun 2020 sekarang ini, sudah banyak tersedia sekolah yang disediakan pemerintah tanpa iuran atau pembayaran, lalu pemerintah juga sudah mengeluarkan Kartu Indonesia Pintar yang dimana diperuntukkan untuk anak usia sekolah (6-21 tahun) dari keluarga kurang mampu. Masalah ekonomi tidak bisa dibenarkan sebagai alasan tidak melanjutkannya pelajar untuk menuntut ilmu. Undang-UndangNomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menegaskan pada Pasal 9 dua hal pokok yaitu; a) Setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalamrangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuaidengan minat dan bakatnya. b) Selain hak anak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), khusus bagianak yang menyandang cacat juga berhak memperoleh pendidikanluar biasa, sedangkan bagi anak yang memiliki keunggulan jugaberhak mendapatkan pendidikan khusus. Jauhnya letak lembaga pendidikan juga menjadi alasan mengapa pelajar tidak melanjutkan pendidikan. Ini juga merupakan dampat tidak meratanya pendidikan di indonesia. Solusi yang bisa dilakukan di zaman modern ini, dimana internet sudah meneyebar adalah menginfokan kepada lembaga pemerintah untuk menyediakan sekolah di tempat-tempat yang belum terjangkau untuk mendapat fasilitas pendidikan. Selain faktor diatas, anak atau pelajar itu sendiri juga turut andil menjadi alasan banyaknya pelajar yang tidak melanjutkan pendidikan di Indonesia. Salah satunya adalah kesadaran dan juga minat yang rendah terhadap pendidikan. Bila ditilik di masa sekarang, beberapa siswa memang sudah tidak terlalu perduli terhadap ilmu yang ia tuntut. Globalisasi juga menjadi alasan mengapa masyarakat tak lagi sibuk mengurusi masalah pendidikan. Ini merupakan tantangan tersendiri untuk lembaga pengajar menarik minat siswanya sendiri. Sistem pendidikan yang dianut Indonesia juga perlu diperhatikan. Sekolah-sekolah negeri menuntuk siswanya untuk mengerti dan mengikuti semua mata pelajaran di sekolah. Albert Instein pernah mengatakan "Setiap orang itu jenius tapi jika kalian menilai seekor Ikan dengan kemampuannya memanjat pohon. Si ikan akan hidup dengan sepanjang hidupnya mempercayai bahwa dirinya bodoh”. Kutipan tersebut merefleksikan perasaan para siswa. Keberagaman sudah melekat pada Indonesia dan semua masyarakat mengormatinya, toleransi. Lalu mengapa perbedaan di sekolah tidak diterapkan. Siswa pun memiliki bakat juga kemampuan yang berbeda-beda itulah mengapa tak semua siswa dalam satu lingkup kelas pintar. Itulah juga mengapa tak semua anak betah mengikuti pendidikan di sekolah yang monoton. Faktor budaya juga yang menjadikan rata-rata sekolah di Indonesia rendah. Keluarga ataupun masyarakat tempat tinggal kurang menyadari pentingnya pendidikan. Perilaku masyarakat di pedesaan juga di pengaruhi lingkungan. Anggapan mereka ialah anak-anak yang tidak bersekolah akan sama hidup dengan layak seperti anak-anak yang bersekolah. Ini pula yang menjadikan wilayah rata-rata lama sekolah di pedesaan sangat rendah. Daripada bersekolah, masyarakat pedesaan cenderung mengarahkan anak-anak mereka untuk membantu orang tua dengan bekerja. Masyarakat di pedesaan tidak sadar bahwasanya pendidikan yang tinggi nantinya dapat membawa kesejahteraan hidup lebih meningkat. Sebab mendapat pekerjaan yang lebih layak. Kondisi pendidikan di indonesia akan berkembang juga meningkat apabila setiap unsur di dalamnya turut bergerak. Pemerintah tidak bisa sendirian membangun mutu pendidikan apabila tidak ada kesadaran sedini mungkin akan pentingnya pendidikaan kelak di kemudian hari. Indonesia akan tumbuh menjadi negara yang lebih besar lagi apabila pendidikan sudah berkembang lebih dulu. Anak-anak merupakan calon pembangun bangsa di masa depan, maka sedini mungkin ia sudah dikenalkan dengan pendidikan yang bermutu.

  0 Views    Likes  

banner
10 Langkah Membangkitkan Kegeniusan Mengelola Uang ala Robert Kiyosaki

previous post

Gaya Hidup Sehat di tengah pandemi covid-19
10 Langkah Membangkitkan Kegeniusan Mengelola Uang ala Robert Kiyosaki

next post

10 Langkah Membangkitkan Kegeniusan Mengelola Uang ala Robert Kiyosaki

related posts