banner

Dibalik Kisah Fast Fashion

Fast Fashion, Beberapa Diantara Kita Sudah Familiar Tentang Istilah Ini, Bahkan Kita Pun Sangat Mengenal Brand Ternama Seperti H&M, Zara, Topshop, Fashion Nova Dan Brand Lainnya Yang Kerap Kali Kita Jumpai Di Pusat Perbelanjaan Perkotaan, Atau Tak Jarang Melihat Tren Mode Hilir Mudik Di Linimasa Media Sosial. Istilah Fast Fashion Mudah Kita Tebak Layaknya Istilah Fast Food. Jika Fast Food Di Tafsirkan Sebagai Makanan Cepat Saji Dengan Kandungan Kalori Yang Super Besar Yang Bisa Berdampak Pada Kesehatan Tubuh, Lalu Bagaimana Dengan Fast Fashion? Secara Harfiah, Fast Fashion Merupakan Sebuah Tren Industri Yang Mengacu Pada Produksi Pakaian Siap Pakai. Berbagai Model Pakaian Diproduksi Dengan Kurun Waktu Yang Cepat Dan Banyak Serta Didistribusikan Secara Serentak Kepada Ribuan Cabang Toko Brand Fesyen Tersebut. Didukung Oleh Globalisasi, Percepatan Perolehan Informasi, Pasar Bebas Dan Demokrasi Membuat Tren Industri Ini Berkembang Dengan Pesat, Semua Orang Mengikuti Tren Pakaian Yang Bersifat Temporer, Permintaan Pasar Meningkat, Produksi Pakaian Semakin Ditekan.

Dalam Era Kemudahan Dan Percepatan Teknologi, Kita Semua Dapat Dengan Mudah Memperoleh Barang-Barang Termasuk Pakaian-Pakaian Yang Kita Inginkan, Melalui E-Commerce Misalnya. Memakai Barang-Barang Tersebut Dirasa Sangat Mudah Dan Menyenangkan, Tapi Apa Pernah Kita Berpikir Bagaimana Proses Pembuatan Pakaiannya? Siapa Yang Menjahit Dan Membuat Pakaian Kita? Dalam Sejarah Fesyen Dunia, Pakaian-Pakaian Yang Dipentaskan Pada Peragaan Busana Adalah Pakaian Yang Bersifat Eksklusif, Pakaian Tersebut Hanya Dapat Diraih Oleh Para Kalangan Atas. Harganya Pun Tidak Main-Main Mahalnya, Sebab Dalam Proses Pembuatannya Memakan Banyak Waktu, Bahan Yang Digunakan Pun Tidak Sembarangan, Seperti: Di Jahit Dengan Tangan Atau Pada Tahun 1880-An, Orang-Orang Memelihara Domba Untuk Memproduksi Wol Yang Nantinya Akan Ditenun Menjadi Pakaian. Hasilnya Pun Terbatas.

Sekitar Abad 17-18, Munculah Revolusi Industri Yang Awalnya Diprakarsai Oleh Britania Raya, Lalu Menyebar Ke Daerah Eropa Barat, Amerika Utara, Jepang Dan Seluruh Dunia. Revolusi Industri Sendiri Memiliki Artian Adanya Perubahan Secara Massal Dalam Cara Memproduksi Barang-Barang. Yang Pada Awalnya Hanya Memanfaatkan Tenaga Hewan Dan Manusia, Semuanya Dipermudah Dengan Penemuan-Penemuan Teknologi Seperti Mesin Uap, Mesin Tekstil Dan Lain-Lain. Perubahan Industri Gelombang Pertama Terjadi Pada Industri Tekstil, Hal Ini Membuat Percepatan Siklus Industri Fesyen, Dengan Adanya Mesin-Mesin Tekstil Yang Dapat Memproduksi Pakaian Secara Cepat Dalam Jumlah Yang Banyak Dengan Berbagai Ukuran. Mesin Jahit Pun Menjadi Kontributor Terbesar Dalam Membuat Harga Pakaian Menjadi Lebih Murah Dan Mudah Dijangkau Bahkan Untuk Wanita-Wanita Kelas Menengah / Wanita Dengan Pendapatan Yang Lebih Rendah, Membuat Manufaktur Pakaian Meroket Dengan Cakupan Skala Yang Lebih Besar. Seiring Berkembangnya Zaman, Industri Fesyen Terus Menerus Mengalami Perubahan, Setelah Perang Dunia Ke II, Antara Abad Ke 19-20 Para Retailer Mulai Mengekspansi Wilayah Pasarnya Hingga Antar Benua. Didukung Dengan Permintaan Pasar Yang Semakin Tinggi (Didominasi Anak Muda) Dengan Perubahan Tren Yang Begitu Cepat Membuat Para Retailer Gencar Memproduksi Trend, Memantau Arus Tren Baik Tren Pada Runway Atau Fesyen Para Influencer/Artis-Artis Ternama (Umumnya Pada Peragaan Busana) Melakukan Knockin’ Off (Meniru) Desain Busana Tersebut Lalu Memproduksinya Serta Memasarkan Pakaian Dengan Harga Yang Terjangkau. Lalu Seperti Apa Keadaan Dibalik Fast Fashion Saat Ini? Banyak Dari Kita Mungkin Belum Tahu, Atau Setelah Disuguhkan Narasi Diatas Masih Belum Paham Bagaimana Krusialnya Arus Industri Fesyen Di Dunia. Perlu Diketahui Bahwa Setiap Tahunnya, Diperkirakan Orang-Orang Di Amerika Serikat Membeli 68 Pasang Baju Baru Per Tahunnya. Melihat Pasar Yang Begitu Berpotensi, Para Retailer Dengan Model Bisnis Chain Berniat Untuk Memproduksi Pakaian Mewah Dengan Cepat, Murah Dan Sekali Pakai. Salah Satu Retail Ternama Di Dunia Menjadi Pioneer Model Bisnis Industri Fast Fashion Dengan Memangkas Kurun Waktu Produksi Dari 21 Bulan (Kurang Lebih Hampir 2 Tahun) Menjadi 4 Bulan Lamanya Dan Menciptakan Seasons / Musim Tren Pakaian Hampir Tiap Minggu Serta Memproduksi Pakaian Sesuai Tren Tersebut Dalam Skala Besar Untuk Didistribusikan Hampir Ke 7500 Toko Retail Di Dunia. Hal Ini Disebut Dengan Dynamic Assortment. Menjual Hal Baru Setiap Harinya. Dengan Total Keseluruhan Tren Pakaian Yang Diciptakan Dalam Setahun Rata-Rata Mencapai 52 Tren. Inditex Annual Report 2018 Melaporkan Terdapat 1.597.260.493 Pabrik Garmen Yang Menjadi Distributor Untuk 7500 Toko Pakaian. Dibalik Harga Yang Terjangkau, Desain Yang Variatif, Mewah, Trendi Dan Tentu Kemudahan Transaksi Fast Fashion. Dibaliknya Terdapat Harga Mahal Yang Harus Dibayar Pada Industri Ini. Industri Fast Fashion Memotong Masa Produksi & Biaya Produksi Pakaian. Agar Biaya Produksi Murah, Industri Ini Mengandalkan Para Pekerja Dunia Ketiga Atau Negara-Negara Berkembang Seperti India, Bahkan Indonesia. Semua Orang Sudah Tahu Bagaimana Parahnya Kondisi Bekerja Di Pabrik, Buruh Yang Bekerja Hingga 14 Jam, Upah Yang Tidak Mencapai Minimum, Eksploitasi Pada Kaum Perempuan Hingga Pada Anak-Anak Dibawah Umur, Tidak Mendapatkan Perlindungan Pekerjaan Atau Semacam Asuransi Kesehatan. Tak Hanya Berhenti Disana, Bahkan Mungkin Diantara Kita Tidak Tahu Sama Sekali Dampak Yang Diberikan Oleh Fast Fashion Kepada Bumi, Khususnya Lingkungan Sekitar Kita. Pada Tahun 2015, Tercatat Bahwa Produksi Tekstil Menghasilkan Banyak Produksi Gas Efek Rumah Kaca Melebihi Produksi Gas Yang Dihasilkan Penerbangan Internasional/Pengiriman Jalur Maritim (The Guardian, 29 Desember 2018) Lalu, Industri Tekstil Termasuk Ke 10 Besar Industri Yang Menggunakan Air Dan Mencemari Air Dalam Jumlah Yang Besar. Dalam Produksi Kain Seperti Halnya Kain Katun, Membutuhkan 10.330liter Air Yang Mana Jumlah Ini Sama Dengan Pasokan Air Minum Untuk 1 Orang Selama 24 Tahun (BBC Three, Stacey Dooley Investigate 3 Oktober 2018) Untuk Produksi Kain Sintetis Seperti Polyester, Nylon, Spandex Menggunakan Hampir 342 Juta Barel Minyak/Tahunnya (A New Textiles Economy Ellen Macarthur Foundation 2017) Yang Lebih Parahnya Lagi, Kain Fast Fashion Yang Bernama ‘Viscose’ Sebesar 33% Terbuat Dari Fossil Atau Threatened Forest Dan Menghasilkan Banyak Sampah (Dilansir Dari Canopy). Dalam Prosesnya, Pohon-Pohon Yang Telah Diolah 70% Hasilnya Dibuang Dan Hanya 30% Yang Diproses Menjadi Viscose Dan Didistribusikan Ke Pabrik Untuk Diolah Menjadi Pakaian. Lebih Parahnya Lagi, Limbah Hasil Proses Kimia Pabrik Dibuang Ke Sungai, Seperti Kasus Yang Ada Di Sungai Citarum, Indonesia. Dimana Jutaan Masyarakat Kehidupannya Bergantung Pada Sungai Citarum Namun Sungai Tersebut Telah Tercemari Hingga Meracuni Para Masyarakat, Menimbulkan Banyak Isu Kesehatan Bagi Masyarakat Yang Bermukim Di Sekitarnya. (Al Jazeera, 101 East 2018) Kembali Lagi Kepada Para Konsumen, Setiap Tahunnya Rata-Rata Masyarakat Membuang 80lbs Pakaian/ Kurang-Lebihnya 36 Kg Pakaian. (On This Week 9 Sept 2016). Tak Banyak Baju Bekas Tersalurkan Sebagaimana Ekspektasi Kita, Salah Satu Panti Asuhan Di Amerika Serikat Bisa Membuang Pakaian Sumbangan Yang Tidak Layak Pakai/Tak Digunakan Sebesar 18 Ton Per Tiga Hari. Lembaga-Lembaga Amal Banyaknya Tidak Mampu Menampung Banyak Baju, Bahkan Setelah Diadakan Penjualan Amal Mereka Masih Mendapatkan Banyak Sisa Baju Sumbangan, Dan Semuanya Berakhir Di Tempat Sampah/Dibakar, Rata-Rata Sisa-Sisa Baju Ini Dibuang Ke Daerah Kenya/Afrika. Seperti Dilansir Oleh A New Textiles Economy Ellen Macarthur Foundation 2017: “…..87% Its End Up In Incinerated/ Landfill…”

Revolusi Industri Tentu Memberikan Dampak Yang Sangat Besar Bagi Kehidupan Kita, Mulai Dari Pekerjaan, Pendapatan Hingga Gaya Hidup. Namun, Terlepas Dari Sana Terdapat Juga Hal-Hal Yang Dirasa Tidak Seimbang Dan Merugikan, Meski Hakikatnya Industri Memang Bertujuan Untuk Mencapai Keuntungan Sebanyak-Banyaknya, Berkarya Dan Meraih Pasar Seluas-Luasnya Dengan Ide-Ide Beragam, Tapi Setidaknya Industri-Industri Harusnya Tetap Memperhatikan Sebab-Akibat Yang Akan Terjadi Kepada Kehidupan Bumi, Serta Kesejahteraan Masyarakat Banyak, Paling Tidak Mengenai Kesejahteraan Pekerjanya. Dan, Sebagai Konsumen, Sudah Saatnya Kita Sadar Dan Peduli Lingkungan, Sandang Memang Menjadi Kebutuhan Pokok Semua Orang, Tapi Setidaknya Kita Bisa Menggunakan/Menyimpan Pakaian Kita Lebih Lama, Mengurangi Pembelian Pakaian Dalam Jumlah Banyak Dan Hanya Memakai Pakaian Seperlunya. Seperti Yang Dilansir Patriot Act With Hasan Minhaj Jika Kita Menggunakan Pakaian Kita Minimalnya Selama 9 Bulan, Kita Telah Turut Membantu Mengurangi Carbon Footprint Atau Emisi/Karbon Dioksida Ekuivalen Untuk Garmen Sebesar 30%. Atau Setidaknya Beli 1 Baju Secondhand Ketimbang Membeli 1 Pakaian Baru Per Tahunnya Membantu Untuk Mengurangi Emisi Karbondioksida Sebesar ±3 Kg. Hal Kecil Seperti Ini Dapat Membantu Banyak Hal, Khususnya Dalam Mengurangi Dampak Dari Perubahan Iklim, Jika Hal Kecil Ini Disadari Dan Dilakukan Bersama-Sama Oleh Orang Banyak, Tentu Ini Akan Memberikan Dampak Positif Yang Lebih Besar Lagi Bagi Bumi. Written By Meira Fenderissa 2020© Medium.Com/@Meirafa
  56 Views    Likes  

banner
Cara Menjadi Pendengar yang Baik

previous post

Cara Mudah dan Cepat Menghafal 16 Tenses Bahasa Inggris
Cara Menjadi Pendengar yang Baik

next post

Cara Menjadi Pendengar yang Baik

related posts