Ketika Kamu Harus Menunda Kuliah (Gap Year)

   Apakah diantara sobat OSC ada yang pernah mendengar kata gap year?. Mungkin beberapa dari kalian sudah tidak asing dengan kata ini, atau mungkin ada juga yang sedang dalam fase menjalaninya. Gap year sendiri dapat diartikan sebagai tahun jeda atau tahun istirahat, dimana dalam fase ini, seorang pelajar memilih untuk berhenti dan beristirahat sejenak untuk beberapa tahun dari pendidikan formalnya, sebelum akhirnya melanjutkan kembali di tahun berikutnya. Gap year bisa terjadi kepada siapa saja dalam semua jenjang pendidikan. Namun biasanya kasus gap year sendiri lebih sering ditemui di anak-anak SMA sederajat yang memutuskan untuk rehat sejenak dari pendidikan formal sebelum akhirnya melanjutkan pendidikan perkuliahan ke jenjang sarjana. Tidak sedikit pelajar Indonesia yang memilih opsi gap year setelah lulus SMA, termasuk aku salah satunya.

   Banyak orang yang kemudian mengasosiasikan gap year kepada pelajar yang tidak lulus di seleksi masuk PTN (baik jalur SNMPTN,SBMPTN maupun jalur mandiri). Yang padahal tidak semuanya beralasan seperti itu. Ada yang memang dari awal sudah merencanakan untuk beristirahat sejenak dari pendidikan formalnya, ada yang karena faktor finansial, ataupun karena alasan-alasan lainnya.

   Aku sendiri memutuskan untuk menjadi bagian dari "anak gap year" setelah menimbang-nimbang untuk menunda kuliahku selama 1 tahun ketika aku lulus SMK di tahun 2021 lalu. Selama gap year, aku benar-benar belajar banyak hal yang mungkin tidak bisa aku dapatkan di pendidikan formal. Selain itu, aku juga merasa lebih siap untuk masuk ke jenjang perguruan tinggi karena sudah prepare 1 tahun selama masa gap year-ku.  mungkin ada sebagin orang yang beranggapan bahwa gap year adalah aib.  Dan menurutku ini adalah anggapan yang keliru. Justru dengan gap year, itu berarti aku memberikan ruang lebih besar kepada diriku untuk beristirahat, bertumbuh dan berkembang, serta melakukan refleksi diri supaya bisa bangkit kembali dalam keadaan yang lebih baik.

   Saat menjalani gap year, tidak dapat dipungkiri bahwa aku merasakan gejala FOMO (Fear of Missing Out) atau takut ketinggalan dari orang lain. Tentu ada perasaan insecure saat teman-teman mulai menceritakan kisah perkuliahannya di waktu reuni SMA, dan kita hanya bisa diam mendengarkan tanpa tau harus merespon apa. Perasaan takut tertinggal dan insecurity ini adalah hal yang wajar. Tapi percayalah bahwa setiap orang ada masanya, dan di setiap masa ada orangnya. Percayalah bahwa kamu tidak berjalan sendiri, ada banyak pelajar lain yang juga mengambil jalan sama sepertimu. Jangan takut untuk merasa terlalu tua jika harus kuliah setelah gap year, toh banyak orang diluar sana yang juga baru memulai kuliahnya di usia yang tak lagi muda. Lagipula, hanya terpaut 1 atau 2 tahun dari temanmu tidak akan membuat wajahmu lebih keriput dibandingkan teman angkatanmu nanti.

   Gap year adalah sesuatu yang membutuhkan perencanaan sebelumnya, sehingga kita tahu apa saja hal yang akan kita lakukan selama berada di masa-masa itu. Beberapa kegiatan yang bisa dilakukan saat gap year seperti ikut bergabung menjadi relawan di komunitas sosial kemanusiaan, mempelajari skill baru, memulai bisnis kecil-kecilan, serta berbagai kegiatan bermanfaat lainnya.  Dengan perencanaan yang baik, pilihan gap year akan jadi lebih produktif dan membawa dampak positif bagi diri kita sendiri.

   Di tahun ini, masa gap year-ku hampir selesai dan aku sendiri akan memulai pendidikan formal dan menjadi maba (mahasiswa baru) di akhir bulan agustus nanti. Dengan apa yang telah aku lalui, aku bersyukur telah sampai di titik ini dan melewati masa gap year-ku dengan  cukup baik (setidaknya menurutku). Terima kasih sebesar-besarnya aku ucapkan kepada Media Group, Medcom dan seluruh jajaran penyelenggara beasiswa OSC yang telah memberikanku kesempatan untuk kembali mengenyam pendidikan hingga ke perguruan tinggi. Terakhir, aku ingin mengutip ucapan David Epstein dalam bukunya The Range:

"Falling behind can get you ahead (Tertinggal di belakang bisa membuatmu jadi lebih maju)".

 

Bila ada pertanyaan atau keperluan apapun, teman-teman dapat menghubungiku di instagram @eginugraha.id. Terima kasih telah berkenan membaca, salam semangat dan sampai jumpa kembali di tulisan berikutnya.

Sumber Referensi: 

Epstein,D. (2019). Range: Why Generalists Triumph in a Specialized World. United States; Riverheads Books.

Aplikasi Desain Poster: canva.com

 

 

 

 

 

  85 Views    Likes  

Maba Harus Tahu 6 Skill Penting Sebelum Masuk Kuliah!

previous post

Mengenal Kampus Almamater Para Idol Kpop, Dari Anggota BTS hingga Seventeen.
Maba Harus Tahu 6 Skill Penting Sebelum Masuk Kuliah!

next post

Maba Harus Tahu 6 Skill Penting Sebelum Masuk Kuliah!

related posts