MAKSIMALISASI PENDIDIKAN DENGAN TRANFORMASI DIGITAL

Tak dapat dipungkiri, masuknya era digital ke dalam dunia pendidikan telah mengubah cara pandang kita. Jika dahulu pendidikan sebatas kegiatan belajar mengajar dan perlu pergi ke sekolah, namun kini pendidikan menjadi jauh lebih fleksibel, tidak terkendala waktu dan tempat.

Fenomena tranformasi pendidikan di era digital sudah kita rasakan dalam beberapa tahun terakhir, terlebih lagi didorong oleh adanya momentum Covid-19 yang seolah menjadi pencetus percepatan digitalisasi ini. Ada beberapa aspek dalam tranformasi pendidikan di era digital, diantaranya,

Aspek Kemudahan

Sekolah tak lagi menjadi satu-satunya tempat belajar. Kita bisa belajar dari manapun. Perangkat sekitar yang kita miliki dapat menjadi perantaranya, seperti ponsel ataupun laptop. Kelas hybrid atau sistem PJJ (Pendidikan Jarak Jauh) yang awalnya menjadi solusi pada masa pandemi Covid-19, kini menjadi sebuah kebiasaan lazim bahkan saat pandemi sudah dinyatakan berakhir. Selain dari segi sistem pembelajaran, kemudahan dirasakan dalam bentuk materi belajar seperti buku. Buku tidak lagi harus dibeli dalam bentuk hardcopy, namun dapat diakses secara digital yang disebut ebook. Buku yang berat, tebal ataupun mahal tak lagi menjadi hambatan dalam belajar.

Aspek Kreativitas

Pembelajaran secara hibrid mendorong para tenaga pengajar untuk lebih kreatif dalam memaparkan materi. Sehingga meskipun kegiatan belajar hanya sebatas layar laptop atau ponsel, para muris tetap fokus dan bersemangat untuk mendapatkan ilmu. Tak hanya itu, hal-hal yang bersifat interaktif pun perlu dilakukan agar murid tidak menjadi bosan. Seperti kegiatan tanya jawab antara murid dan guru atau adanya alat-alat peraga yang digunakan dalam menyampaikan materi. Atau keadaannya dibalik dimana para murid yang akan melakukan presentasi menyampaikan materi dan guru akan menambahkan penjelasan di akhir presentasi. Fitur yang disediakan mensin pencari popular, Google, juga layak untuk dimanfaatkan sebagai media pembelajaran, salah satunya papan tulis interaktif Jamboard.

Aspek Emosi

Lemahnya interaksi yang mungkin terjadi saat belajar daring jika dibandingkan dengan pembelajaran tatap muka dapat memunculkan rasa bosan pada anak. Hasil survey yang dilakukan Media Survey Nasional (Median) pada bulan Agustus 2021 terhadap 1000 responden  memaparkan hasil 23,9% responden merasan bosan dan 17,5% responden merasa sangat bosan. Rasa bosan tersebut bisa terjadi karena kurangnya sosialisasi antar anak-anak yang harusnya dilakukan di sekolah namun menjadi interaksi sebatas layar laptop atau ponsel saja. Untuk itu aktivitas yang interaktif sangat diperlukan guna mendorong peningkatan niat belajar dan mengurangi rasa bosan. Kata-kata motivasi pun kadangkala perlu dilontarkan tak hanya sebagai guyon semata, namun mentranformasikan rasa bosan menjadi rasa senang, lucu, terhibur dan antusias.

Aspek Moral

Aspek moral yang akan dibahas disini adalah menyontek saat ujian atau ulangan daring atau bahkan saat mengerjakan tugas. Pernahkah kamu melakukannya? Pernahkan kamu berpikir bahwa guru mungkin tak akan tahu kamu menyontek, toh pengawasan guru hanya sebatas layar kamera rapat daring? Bukankan bisa saja layar kamera di nonaktifkan sehingga guru tak bisa mengawasi?

Semua pertanyaan tersebut pasti pernah muncul di benak setiap murid dengan ketidakhadiran guru sebagai pengawas langsung tugas ataupun ujian yang diberikan. Namun hal tersebut dapat diantisipasi dengan kehadiran orang tua dan mendampingi kegiatan belajar siswa. Selain itu dari sisi teknologi, G Suites Enterprise for Education menyediakan beberapa fitur seperti fitur jajak pendapat dan perekaman sementara dan kemampuan mendeteksi duplikasi atas hasil pekerjaan para siswa. Google juga menghadirkan Classroom yang memungkinkan pengajar mengecek keaslian tugas siswa dan memudahkan para pengajar dalam memberi nilai.

 

Selain berbagai fitur dan aspek kemudahan serta manfaat yang dipaparkan diatas, penerapan transformasi digital pada dunia pendidikan bukanlah hal yang mulus tanpa kerikil rintangan. Ada beberapa tantangan yang dihadapi, diantaranya,

Akses Internet dan Kesiapan SDM

Tidak meratanya akses internet di seluruh Indonesia dapat menjadi penghalang tranformasi digital pendidikan. Survei yang dilakukan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia memaparkan rasio penduduk yang terkoneksi internet adalah 79,5% dari total populasi nasional. Masih ada 20,5% yang belum bisa mengakses internet. Angka tersebut dapat memengaruhi bagaimana seorang tenaga pengajar mengoperasikan perangkat untuk belajar daring. Survei yng dilakukan Service Delivery Indicator (SDI) pada tahun 20202 menunjukkan ada 67% guru yang kesulitan. Dalam hal ini, perlu adanya ikut campur pemerintah diantaranya pembangunan akses internet dan base transceiver station (BTS) 4G terutam bagia daerah 3T sehingga harapan per tahun 2025 seluruh wilayah Indonesia mencapai konektivitas digital.  Selain itu, pihak Kemedikbusristek pun merilis program Guru Berbagi guna meningkatkan kualitas guru yang unggul dan berkualitas agar semakin mahir dalam menggunakan berbagai perangkat digital dalam mendidik para murid. BUMN pun didorong untuk ikut campur mengatasi kelemahan akses internet di Indonesia, salah satunya PT Telkomsel, yang memberi bantuan berupa bantuan kuota internet gratis bagia guru, mahasiswa, siswa dan dosen. Harapannya, interaksi kontak tidak terputus dan dapat meningkatan kemudahan proses belajar mengajar.

  15 Views    Likes  

Dark Empath, Kepribadian Ganda “Si muka dua”

previous post

Peran Teknologi dalam Transformasi Pendidikan di Era Digital
Dark Empath, Kepribadian Ganda “Si muka dua”

next post

Dark Empath, Kepribadian Ganda “Si muka dua”

related posts