Membentuk Jati Diri Melalui Pendidikan Karakter dan Kepemimpinan Moral

Pendidikan adalah cara paling jitu untuk mengajarkan moralitas dan pembentukan karakter. Pendidikan yang dimaksud bukan hanya pendidikan formal yang dilakukan oleh lembaga pendidikan, tapi juga pendidikan yang mulai ditanamkan kepada seseorang sejak lahir dan hal tersebut berasal dari unit terkecil dalam masyarakat, yaitu keluarga. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa lembaga pendidikan juga mempunyai tugas yang sangat penting terkait dengan pendidikan moral dan karakter yang dapat membangun karakter seseorang menjadi lebih baik.

 

Belum banyak yang tahu bahwa moral dan karakter adalah dua hal yang berbeda baik dari segi konsep maupun hakikatnya. Moral adalah pengetahuan seseorang terhadap hal baik atau buruk, sedangkan karakter adalah tabiat seseorang yang langsung ditentukan oleh otak. Lantas bagaimana caranya agar membentuk karakter seseorang menjadi baik? Jelas jawabannya adalah dengan memberikan pendidikan moral yang baik dan menyeluruh terlebih dahulu.

 

Pernahkan kalian mendengar kalimat "Air yang dikeluarkan dari sebuah teko tergantung bagaimana kondisi air di dalam toko tersebut". Kalimat tersebut dapat dijadikan sebagai analogi bahwa jika ingin membentuk karakter yang baik maka pengetahuan, wawasan, dan ilmu tentang baik buruknya suatu hal juga harus disampaikan secara baik dan menyeluruh. Seperti di sekolah pada jenjang yang paling rendah, yaitu Taman Kanak-Kanak (TK) para siswa dan siswi lebih difokuskan dalam pembentukan dan pengembangan karakter mereka melalui pendidikan moralitas, ketimbang mengutamakan kepintaran IQ semata. Karena perkembangan otak di masa kecil jauh lebih mudah dibentuk dibandingkan di usia remaja maupun menuju dewasa. Hal inilah yang membuat sekolah-sekolah TK upgrade dalam memberikan pembelajaran moral kepada siswa-siswinya. Sebagai contoh, anak-anak TK di Jepang belum diajarkan cara membaca, menulis dan berhitung. Di usia dini anak-anak dibekali agar menjadi pribadi yang berani, disiplin, mandiri dan bertanggung jawab. Pelajaran diberikan sambil bermain. Dengan sistem demikian, pendidikan Jepang masuk dalam liga elit bersama negara-negara maju.

 

Jika sekolah sudah berhasil menanamkan dan mengajarkan pendidikan moral yang baik dan menyeluruh kepada para siswanya, maka selanjutnya tinggal bagaimana siswa tersebut berpikir, menalar, dan mencerna segala ilmu moralitas yang sudah diajarkan sebelumnya sehingga nanti akan membentuk karakter mereka di masa depan. Salah satunya pembentukan karakter kepemimpinan dalam diri. Proses pembentukan karakter ini biasanya dimulai ketika seseorang berada pada fase remaja, tepatnya di jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP). Pada masa tersebut siswa sudah mulai diajarkan untuk memiliki sikap kepemimpinan dan bertanggung jawab atas dirinya sendiri, seperti mulai mengerjakan tugas tanpa bantuan orang tua, sekolah tidak perlu lagi ditunggu oleh orang tua, mulai berani untuk naik transportasi umum sendiri dan masih banyak lainnya. Dari hal-hal kecil tersebut sudah menjadi satu langkah lebih maju dalam pembentukan karakter kepemimpinan siswa dan sebagai bentuk aksi nyata dari ilmu moralitas yang ada pada diri mereka, sehingga dapat membantu dalam pembentukan jati diri siswa. Dengan demikian, pendidikan karakter dan kepemimpinan moral di sekolah bagaikan sayur dan garam, jika salah satu komponen hilang, maka rasanya seperti tidak lengkap dan sulit untuk membangun serta membentuk jati diri seseorang.

 

Kehadiran pendidikan moral yang baik sangatlah penting sebagaimana yang dikatakan oleh Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara yang mengungkapkan bahwa "Internalisasi nilai-nilai moral dalam sikap dan perilaku anak dididik agar memiliki sikap, perilaku dan budi pekerti yang luhur (akhlaqul karimah)." Untuk itu marilah kita menyadari akan betapa pentingnya pendidikan pendidikan karakter dan kepemimpinan moral dalam proses pembentukan jati diri seseorang, khususnya para siswa di sekolah.

  29 Views    Likes  

Dark Empath, Kepribadian Ganda “Si muka dua”

previous post

Peran Teknologi dalam Transformasi Pendidikan di Era Digital
Dark Empath, Kepribadian Ganda “Si muka dua”

next post

Dark Empath, Kepribadian Ganda “Si muka dua”

related posts