Perubahan Paradigma Pendidikan: Transformasi Peran Guru di Indonesia

 

Karakter dan etika anak bangsa menjadi sorotan hangat belakangan ini, pasalnya fenomena atau kejadian yang merusak citra dan integritas bangsa semakin marak terjadi. Indonesia yang dikenal sebagai negara yang berketuhanan dan negara paling dermawan di dunia menurut data CFA World Giving Indeks 2023, pada kenyatannya menunjukkan praktek yang bertolak belakang dengan karakteristik bangsa. Berita tentang kriminalitas, kekerasan seksual, pembunuhan, dan penyimpangan berat lainnya sudah menjadi tontonan publik sehari-hari. Perilaku problematik semakin umum ditemui pada anak-anak dan remaja masa kini. Data dari Ditjen PAS, kementerian hukum dan HAM menunjukkan bahwa  sejak tahun 2020 hingga 2023 tercatat hampir 2000 anak berkonflik dengan hukum, sebagian besar berstatus sebagai tahanan dan sisanya sedang menjalani hukuman sebagai narapidana. Kasus kekerasan yang melibatkan anak-anak dan remaja sebagai pelaku terus meningkat tajam dari tahun ke tahun, termasuk penganiayaan, pengeroyokan, dan kekerasan seksual. Berbagai bentuk pelanggaran moral lainnya menjadi bukti nyata bahwa nilai-nilai luhur yang telah lama dijunjung tinggi oleh bangsa ini semakin luntur. Dengan nilai dan karakter baik yang kian melemah, mereka yang diharapkan menjadi pemimpin masa depan bangsa menjadi sorotan yang memprihatinkan.

 Namun, yang lebih mengejutkan adalah ketika pemimpin dan aparat pemerintahan, yang seharusnya menjadi panutan integritas justru turut menunjukkan lemahnya karakter bangsa kita. Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) sepanjang tahun 2022 menemukan 662 kasus kekerasan melibatkan anggota kepolisian termasuk pembunuhan diluar hukum alias extrajudicial killings. Situasi ini bersanding dengan tindakan korupsi yang telah mengakar dalam praktik pemerintahan di Indonesia, mencerminkan sebuah ironi antara tingkat pendidikan yang tinggi dan rendahnya integritas moral. Selain itu Indonesia juga tercatat sebagai pemasok dalam perdagangan perempuan dan anak, dengan tujuan eksploitasi seksual ke berbagai negara seperti Hongkong, Singapura, Thailand, Malaysia, Brunai dan negara lainnya, ini semakin menunjukkan hilangnya nilai-nilai kemanusiaan dan merosotnya karakteristik bangsa kita. Berbagai bentuk anomali sosial semakin berkembang subur seperti rumput liar di ladang yang tidak terawat, merambat dengan cepat dan merusak tatanan sosial yang ada. Dalam kondisi yang semakin mengkhawatirkan ini, penting bagi sistem pendidikan untuk merespon, dengan tindakan serius dan berkelanjutan. Langkah-langkah konkret perlu diambil untuk memperkuat pendidikan karakter ditengah arus informasi digital yang begitu cepat dan luas.

Meskipun pendidikan agama, moral, kewarganegaraan, dan pancasila sudah lama terintegrasi dalam kurikulum sekolah di Indonesia, namun tampaknya belum mampu menghasilkan kemajuan yang signifikan dalam aspek spritual dan moral. Kondisi ini mengindikasikan adanya kekurangan dalam pelaksanaan pendidikan secara menyeluruh, terutama terkait efektivitas peran guru dalam mengimplementasikan pendidikan karakter, perlu dilakukan introspeksi mendalam untuk memastikan bahwa nilai-nilai tersebut tidak hanya sekedar diajarkan, tetapi juga di internalisasi oleh siswa. Pembentukan karakter anak tidak hanya tergantung pada guru, tetapi juga orang tua dan lingkungan sekitar. Namun dalam konteks pendidikan formal, guru memiliki peran kunci sebagai arsitek masa depan dalam mengembangkan intelektual dan karakter siswa. Karena esensi bagi sistem pendidikan untuk menanamkan pendidikan karakter sebagai fondasi, guna mencetak generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, namun juga berintegritas tinggi. Hal ini sejalan dengan pemikiran Martin Luther King Jr yang menyatakan bahwa “Tujuan pendidikan yang sesungguhnya  adalah menggabungkan kecerdasan dengan karakter”. Oleh karena itu suatu gagasan paradigma baru harus segera dilakukan untuk menanggapi kondisi darurat dan perubahan yang mendasar, salah satunya dengan mendongkrak kualitas tenaga pendidik. 

Perubahan paradigma pendidikan di Indonesia harus dimulai dengan transformasi fundamental pada peran guru. Selama ini guru seringkali dipandang sebagai mentor pawang yang mengendalikan dan mengarahkan secara otoriter, serta dianggap sebagai sumber kebenaran utama.  Namun paradigma ini harus bergeser menuju pendekatan yang lebih kolaboratif dan inspiratif. Guru harus menjadi fasilitator dan katalisator yang mendorong siswa untuk berfikirir kritis, bertanya, dan mengeksplorasi, bukan hanya penerima pasif dari pengetahuan dan didikan. Dalam konteks pendidikan yang baru, guru harus berperan sebagai pemandu yang menstimulasi inisiatif dan kreativitas siswa, mendorong siswa untuk mengembangkan pertanyaan mereka sendiri, kemudian mancari jawaban melalui penelitian dan eksperimen, serta mengkritisi informasi yang diperoleh. Sesuai dengan pandangan Ki Hajar Dewantara, bahwa pendidikan harus memfasilitasi kemandirian peserta didik. Untuk mencapai hal ini, pertama-tama guru harus memiliki kompetensi keguruan yang mencakup pengetahuan, keahlian, perilaku serta, memiliki kepedulian tulus terhadap pembentukan karakter bangsa. Proses seleksi guru harus diperbaiki untuk menarik guru-guru yang profesional dan berkualitas, bukan mereka yang memilih fakultas keguruan sebagai alternatif setelah gagal dalam seleksi jurusan lain. Oleh karena itu sangat penting bagi pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan guru, sehingga mereka dapat menjalankan tugas dan tanggung jawab mereka tanpa sibuk bekerja diluar profesi untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dengan demikian, profesi guru akan menjadi lebih terhormat dan dihargai.

Kita dihadapkan pada tugas transformasi peran guru yang tidak mudah, namun esensial untuk memastikan generasi yang akan datang berkembang menjadi individu yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga kuat secara moral dan etika. Pendidikan karakter yang efektif menjadi kunci utama untuk menciptakan masyarakat yang beradab dan harmonis. Jika guru hanya terampil dalam mentransfer materi pelajaran, maka pada akhirnya peran guru dapat digantikan oleh media teknologi modern. Maka perlu diingat bahwa guru bukan hanya pengajar, melainkan juga pendidik. Melalui proses pendidikan seorang guru harus mampu membentuk individu yang utuh (holistik) baik itu konsep berfikir, sikap jiwa, dan menyentuh afeksi yang dalam dari inti kemanusiaan peserta didik. Kita harus mengakui bahwa tantangan yang dihadapi oleh sistem pendidikan kita saat ini  sangat kompleks dan multidimensi. Oleh karena itu, dukungan dari setiap elemen masyarakat, mulai dari pemerintah hingga keluarga, adalah vital dalam upaya ini. Kerja sama yang erat antara semua pihak akan membawa harapan bagi lahirnya generasi penerus bangsa yang kompetitif secara global dan membawa kejayaan bagi Indonesia sebagai bangsa yang berintegritas dan bermartabat. Mari kita bersatu padu membangun fondasi pendidikan yang kokoh di Indonesia, demi masa depan yang lebih cerah dan bermakna bagi kita semua.

 

  41 Views    Likes  

Dark Empath, Kepribadian Ganda “Si muka dua”

previous post

Peran Teknologi dalam Transformasi Pendidikan di Era Digital
Dark Empath, Kepribadian Ganda “Si muka dua”

next post

Dark Empath, Kepribadian Ganda “Si muka dua”

related posts