banner

Setetes Embun Impian

     Terkadang kita perlu mundur beberapa langkah untuk mampu melesat lebih jauh, tergantung bagaimana kita memprioritaskan Allah dalam hidup kita. Allah dulu, Allah lagi, Allah terus, Allahu Akbar. Jika kau memberikan yang terbaik untukNya, percaya lah, Ia pun akan memberikan yang terbaik untukmu, bahkan seringkali ia memberikan  sesuatu yang  tidak pernah sedikit pun terbayang olehmu. Tidak ada kata rugi bagi hamba yang sangat mencintaiNya, untuk mengorbankan apapun yang ia mampu, sebagai bentuk bukti ke cintaannya pada Sang pemilik cinta.

     Pagi itu, fajar menitipkan embun yang menyimpan asa dan harapan seorang gadis desa yang tinggal di daerah pegunungan asri. Nama nya Haida Nurul Aisyah, seorang gadis yang berparas sangat cantik, pemalu, cerdas dan santun itu, biasa disapa Aisyah, kecantikan nya bukan hanya terpancar dari wajah nya . Namun, kecantikannya pun terpancar dari akhlaqnya yang dibalut iman dan taqwa kepada Allah.

      Aisyah  adalah gadis yang sangat santun,ramah, dan pemalu, sahabat dekatnya ialah Al qur’an, tak ada sebab lain ia menjadikan Al qur’an sebagai sahabat, kecuali karena kecintaanya pada Al qur’an , yang mana adalah salah satu perwujudan kecintaannya pada Allah subhanahu wata’ala. Sedari kecil, Aisyah di didik umminya untuk mencintai Al qur’an, Aisyah bercita cita untuk menjadi dokter sekaligus hafidzhah qur’an. Namun yang paling ia utamakan adalah menjadi penghafal Alqur’an, karena ia tahu, bahwa seorang hafidz qur’an kelak di hari kiamat akan memakai kan mahkota kepada kedua orang tuanya.

       Bukan Aisyah namanya, jika bibirnya kering tanpa bacaan ataupun hafalan hafalan qur’annya, saat lulus SMP, Aisyah di beri sebuah pilihan oleh umminya, tentang kemana Aisyah melanjutkan pendidikannya setelah ini, Aisyah lulus SMP dengan nilai UJIAN NASIONAL sempurna, betapa bangga umminya kepada Aisyah, ditambah lagi, banyak SMA yang menawarkan beasiswa full kepadanya, namun Aisyah lebih memilih untuk fokus menghafal Al qur’an,

        “ Aisyah sayang, ummi mau kamu ambil keputusan kamu sendiri nak, untuk menentukan kemana kamu melanjutkan pendidikan kamu” ujar ummi pada aisyah    “Aisyah mau lebih fokus menghafal, serta memperbaiki bacaan AL qur’an Aisyah mi” Jawab aiysah pada ummi nya “yaudah, kamu ummi masukan pondok saja ya, supaya kamu bisa fokus memperdalam ilmu Al qur’an”Jawab ummi pada aisyah dengan sarannya “iyaa ummi, makasih ummi, udah ngertiin Aisyah” jawab Aisyah sembari memeluk Umminya

         Ummi Aisyah menawarkan nya untuk melanjutkan ke sebuah pondok pesantren yang berada di Bogor. Namun, di pondok pesantren tersebut diharuskan untuk fokus menghafal Al qur’an tanpa ada kurikulum tambahan ataupun sekolah formal.

         “Aisyah apa kamu mau mengambil pilihan ummi nak?” ujar ummi pada Aisyah “hm... Aisyah masih bingung ummi, Aisyah sangat ingin berbakti pada ummi, ingin menjadi putri ummi yang hafal, faham, serta mengamalkan Al qur’an, namun Aisyah juga ingin menjadi seorang dokter agar mampu menolong sesama” jawab Aisyah bimbang “iya ummi serahkan sepenuhnya keputusan pada Aisyah, ummi hanya memberi pilihan saja nak” jawab ummi tersenyum “iyaa ummi, kasih waktu Aisyah untuk mengambil keputusan, Aisyah ingin meminta petunjuk pada Allah supaya diberikan yang terbaik untuk Aisyah.”  jawab Aisyah memohon “iya sayang” jawab umminya sembari mencium kening Aisyah.

           Aisyah menunaikan sholat istikharah untuk meminta petunjuk pada Allah atas kebimbangannya, Aisyah ingin menjadi dokter sekaligus penghafal Al qur’an, namun pilihan umminya membuat ia merasa harus kehilangan harapan dan cita citanya sebagai dokter. Untuk memantapkan pilihannya, Aisyah melaksanakan sholat istikharah 3 kali, setelah ke 3 kalinya Aisyah melaksanakan sholat istikharah, akhirnya  Allah memberinya petunjuk dengan memantapkan hati Aisyah untuk mengambil keputusannya. Aisyah menghampiri umminya untuk memberikan jawaban atas pilihannya, “Assalaamu’alaykum ummi” ujar Aisyah memberi salam, “wa’alaykumussalaam sayang, ada apa nak?” jawab ummi pada Aisyah, “ ummi, Aisyah mau kasih jawaban atas pilihan Aisyah” jawab Aisyah tersenyum, “iya bagaima sayang? Apa pilihanmu nak?” jawab ummi penasaran “Alhamdulillah, setelah Aisyah meminta petunjuk kepada Allah, akhirnya hati Aisyah sudah mantap ummi, Aisyah mau mengambil keputusan pilihan Ummi, Aisyah ingin membuktikan cinta Aisyah pada Allah dengan mengutamakanNya dari segala hal apapun itu” jawab Aisyah menyejukan hati              “Alhamdulillaah sayang, ummi bangga punya putri sepertimu, ummi berhasil mendidikmu menjadi putri ummi yang sholehah, dan berbakti kepada Ummi” jawab ummi bahagia.

          Aisyah tak perduli ia harus merelakan cita citanya, asalkan ia tetap menjadikan Allah yang paling utama, dan juga menjadi putri yang berbakti pada umminya, ia yakin Allah akan memberikan yang terbaik untuknya.

          Hari pertama Aisyah masuk pondok, Aisyah menangis meneteskan air mata sebab harus berpisah dengan umminya, Aisyah  memeluk erat umminya, ia tak ingin umminya meninggalkannya sendiri di pondok.

          “ummi, Aisyah tidak mau sendiri, Aisyah mau ummi tetap disini bersama Aisyah” ujar Aisyah memeluk umminya “sayang, sekarang kamu sudah besar dan harus belajar mandiri, ummi akan sering sering jenguk putri kesayangan ummi ini ko” jawab ummi berusaha menenangkannya. “tapi Aisyah takut sendiri ummi, Aisyah belum siap” jawab Aisyah menunjukan sifat manjanya “nanti kamu akan punya banyak teman Aisyah, ummi pulang dulu ya, waktu untuk wali santri menemani anaknya sudah habis, kamu baik baik disini ya sayang, jangan malas menghafal Al qur’annya” jawab umminya berpamitan “yasudah ummi, ummi juga baik baik dirumah ya, sering sering jenguk Aisyah kesini, Aisyah akan sangat rindu sama ummi” jawab Aisyah memeluk umminya sambil menangis, “iya sayang, Assalaamu’alaykum” .

           Bulan demi bulan sudah Aisyah lalui di pesantren, umminya pun sering menjenguk Aisyah untuk membawakan kebutuhan ataupun makanan kesukaan Aisyah ke pesantren, tak jarang hanya sekedar untuk melepas rindu. Alhamdulillah Aisyah betah di pesantren dan tak pernah mengeluh apapun selama ia di pesantren. Sebentar lagi ia menyelesaikan hafalan Al qur’annya.

            Tahun ke 2 Aisyah di pesantren, Aisyah mendapatkan sertifikat hafidz Al qur’an dari Universitas ummul quro’, Aisyah sangat ingin melanjutkan kuliah, maka dari itu, ia harus mampu mengikuti ujian Nasional untuk mendapatkan ijazah setingkat SMA sebagai persyaratan melanjutkan perguruan tinggi. Aisyah sempat berfikir bahwa mustahil ia mampu mengejar ketertinggalan pelajaran, sedangkan Ujian Nasional hanya tinggal 2 bulan lagi, namun Aisyah yakin, tidak ada yang tidak mungkin selama dia berusaha dan berdo’a kepada Allah, akhirnya selama 2 bulan, Aisyah belajar intensif untuk mempersiapkan Ujian Nasional.

            H-1 UN, Aisyah meminta do’a dan restu umminya. Setelah hari H, Aisyah berusaha tenang dan yakin serta berpasrah diri kepada Allah, Aisyah sudah belajar maksimal, apapun hasilnya, Aisyah harus menerima dengan lapang dada.

           Hasil Ujian Nasional di umumkan, Aisyah terkejut dengan hasilnya, ia mendapatkan peringkat 2 tertinggi nilai Ujian Nasional, ia sangat bersyukur atas hasil yang ia peroleh, walau hanya belajar selama 2 bulan, ia mampu bersaing dengan siswa yang belajar formal selama 3 tahun.

            Aisyah memiliki harapan untuk melanjutkan pendidikannya ke Universitas Islam Madinah, Aisyah mencoba mengikuti tes seleksi beasiswa ke Madinah, sembari menunggu hasilnya, Aisyah juga mengikuti tes seleksi beasiswa ke Jerman. Umminya memberi tahu Aisyah, bahwa teman umminya, menawarkan Aisyah untuk ikut seleksi beasiswa ke Mesir, kemudian, Aisyah pun menerima tawaran itu, dan mencoba mengikuti tes seleksi beasiswa tersebut.

           2 minggu kemudian, Aisyah menangis haru mendengar kabar bahwa ia lulus seleksi beasiswa ke Mesir, namun Aisyah masih menunggu kabar hasil dari Universitas madinah. 3 hari setelahnya, dia diberi tahu umminya bahwa ada surat yang ditujukan untuk Aisyah, ternyata itu adalah hasil seleksi beasiswanya ke Jerman dan Madinah. Dia menangis sejadi jadinya saat membuka surat itu, ternyata dari hasil seleksi beasiswa ke Jerman dan Madinah, Aisyah lulus dengan nilai terbaik. Ia sangat bersyukur kepada Allah, dan berterima kasih kepada umminya, telah membimbingnya menjadi wanita yang menjadikan Allah sebagai satu satunya tempat bergantung, memohon segalanya.

                      Aisyah menjadikan Allah yang utama di hatinya, maka bukan sebuah hal yang Aneh jika Allah menghadiahkannya sebuah                kebahagiaan yang sangat tak ternilai di hidupnya. Nikmat iman yang tak mungkin seorang pun mampu membelinya.

  0 Views    Likes  

banner
Kehidupannya selalu Di Fisika dan Fisika

previous post

Hentikan Bully Damai itu Indah
Kehidupannya selalu Di Fisika dan Fisika

next post

Kehidupannya selalu Di Fisika dan Fisika

related posts