Solusi Kultur Negatif Pada Remaja Urban

Remaja urban adalah seseorang yang berusia antara 13—20 tahun dan tinggal di daerah perkotaan atau kota besar. Hasil penelitian dari salah satu Jurnal Kultur Demokrasi menyatakan bahwa remaja kota terhadap dampak kultur negatif di RT/003 RW/002 Kelurahan Gedong Meneng, Kecamatan Raja Basa, Bandar Lampung dilihat dari gaya hidup, pengetahuan dan tanggapan adalah adanya pergeseran kebiasaan tingkah laku, pola fikir dan pemahaman tentang gaya hidup remaja yang telah jauh dari norma-norma ketimuran yang bercermin pada tata karma yang sopan, tingkah laku yang santun dan kebiasaan-kebiasaan adat istiadat dari masing-masing daerah. Dari data tersebut, kebanyakan dari mereka memiliki kultur negatif yang menekankan status materi karena kesalahan pola pikir, menjunjung tinggi budaya asing, dan umumnya tata krama dan tingkah laku buruk karena kurang mendapatkan bimbingan tegas dari orang tua, sehingga berdampak pada perilaku, sikap, dan etika remaja tersebut. Solusi efektif untuk mengatasinya adalah dengan menerapkan beberapa penyelesaian yang tepat, tentunya juga membutuhkan proses panjang dan dukungan dari berbagai pihak. Pertama, penting untuk memberikan bimbingan etika dan nilai-nilai yang kuat dari orang tua. Di samping itu, para remaja perlu membangun kesadaran diri dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitar melalui pembelajaran yang diberikan oleh orang tua atau guru. Selain itu, memberikan ilmu pengetahuan yang relevan dan fasilitas memadai juga membantu remaja melengkapi diri untuk menghadapi dunia yang beragam dan menuntut.

Orang tua memainkan peran penting dalam membimbing etika dan nilai-nilai pada anaknya, terutama saat di masa remaja. Orang tua memberikan bimbingan etika yang membantu remaja memahami nilai-nilai seperti integritas, yang berarti konsistensi dan kejujuran dalam tindakan atau kata-kata. Bimbingan etika juga membantu remaja memiliki sopan santun, rasa tanggung jawab, dan empati. Selain itu, bimbingan etika juga membantu remaja mengenali perbedaan antara perilaku positif dan negatif serta memperkuat pemahaman tentang konsekuensi atau dampak dari tindakan mereka.

Selain bimbingan dari orang tua, remaja perkotaan juga perlu membangun kesadaran dalam dirinya. Kesadaran diri bisa didapat dari pengalaman sehari-hari dan interaksi dengan orang lain, yang dapat membantu remaja berhati-hati dalam setiap tindakaknnya. Selain itu, kesadaran diri juga bisa diperoleh melalui proses pembelajaran yang menjurus ke moral seperti komunikasi terbuka dan refleksi dari bimbingan guru maupun orang tua.

Untuk membangun nilai dan kesadaran diri, remaja juga memerlukan ilmu pengetahuan yang relevan dan fasilitas memadai dari guru atau lembaga pendidikan. Ilmu pengetahuan yang relevan dari guru menjadikan remaja bisa memahami dunia yang kompleks dan menuntut. Hal ini juga membantu remaja mengembangkan keterampilan kritis menemukan solusi yang diperlukan untuk menghadapi berbagai hambatan. Di samping itu, lembaga pendidikan berperan penting dalam mendukung pendidikan dengan menyediakan lingkungan di mana remaja dapat belajar, tumbuh, dan berkembang dengan baik.

Mengatasi permasalahan kultur negatif pada remaja perkotaan membutuhkan solusi yang tepat, prosesnya panjang, serta dukungan dari berbagai faktor seperti orang tua, guru, dan lembaga pendidikan. Dalam mengatasi permasalahan kultur negatif pada remaja perkotaan, Peran orang tua serta guru dibutuhkan dalam memabangun etika, kesadaran diri, dan pendidikan. Etika membantu remaja memahami nilai-nilai seperti integritas, sopan santun, rasa tanggung jawab, dan empati. Kesadaran diri yang dibangun melalui pembelajaran dan refleksi membantu remaja membuat keputusan yang bijak. Selain itu, ilmu pengetahuan yang relevan dan fasilitas memadai juga akan meningkatkan  kualitas masa depan para remaja perkotaan. Orang tua, guru, dan lembaga pendidikan saling berkontribusi satu sama lain pada pembentukan karakter remaja perkotaan dalam menghadapi berbagai tekanan budaya dan sosial, sehingga menghasilkan generasi baru yang cemerlang.

 

Referensi:

Adibratha, T. D., Hasyim, A., & Adha, M. M. (2014). PERSEPSI REMAJA KOTA TERHADAP DAMPAK NEGATIF GAYA HIDUP BEBAS DI BANDAR LAMPUNG. Jurnal kultur Demokrasi, 4 (2), 11.

  14 Views    Likes  

Pendaftaran Program Kampus Mengajar Angkatan 8 sudah Dibuka!

previous post

Moralitas dan Etika Profesional dalam Menyongsong Generasi Pemimpin Masa Depan
Pendaftaran Program Kampus Mengajar Angkatan 8 sudah Dibuka!

next post

Pendaftaran Program Kampus Mengajar Angkatan 8 sudah Dibuka!

related posts