banner

SOTO KERBAU SIMBOL TOLERANSI ANTAR UMAT BERAGAMA DI KABUPATEN KUDUS

Hai Kawan, siapa disini yang suka sama soto cungg hehee. Kira-kira olahan soto dari daerah mana aja nih yang udah kalian cobain ? Kalau kalian para pecinta kuliner dan yang hobby makan kayak aku, akan merasa terpuaskan bila mendapati keunikan dari cita rasa setiap makanan yang kalian cobain bener ga sih ? btw busway, nih ada satu makanan unik yang berasal dari kampung halamanku loh. Yap Soto Kudus. Bagi kalian yang pecinta kuliner utamanya olahan soto mungkin udah ga asing lagi bila mendengar jenis soto yang satu ini. Kuliner satu ini memang sudah sangat populer di seantero nusantara. Kepopuleran ini terbukti karena kelezatan dan kesegaran yang disuguhkan dari semangkuk soto ini memang bener-benar nyata. Duhh jadi laper kan. Tenang kini kalian dapat dengan mudah menemukanya tanpa harus pergi jauh-jauh ke Kudus tempat makanan ini berasal. Tapi pernah ga sih kalian menikmati makanan yang satu ini di kota asalnya ? Kalian akan menemukan hal unik yang berbeda. Bila kalian ada waktu cobalah untuk berkunjung ke Kabupaten Kudus dan nikmati semangkuk Soto Kudus disana. Perbedaannya bila kalian berkunjung ke Kudus kalian akan ditawari menu Soto Kudus dengan daging kerbau. Jangan kaget yah daging kerbau tetap halal dan dapat dimakan kok. Namun tak jarang terdengar aneh di telinga orang awam yang belum pernah merasakan kelezatannya. Hal ini ternyata punya alasan dan sejarah tersendiri yang sangat luar biasa.

Latar belakang sejarah penggunaan daging kerbau pada olahan Soto Kudus merupakan suatu warisan leluhur dan tradisi yang hingga kini masih dilestarikan oleh masyarakat Kudus. Soto Kudus terbentuk seiring dengan masuknya ajaran agama Islam ke Kabupaten Kudus. Tokoh yang berjasa membawa ajaran agama Islam di Kabupaten Kudus adalah Sunan Kudus yang bernama asli Ja’far Shodiq. Beliau merupakan salah satu walisongo (sembilan wali) yang berjasa menyebarkan ajaran agama Islam di tanah Jawa. 

Sebelum Islam masuk, Penduduk di Kabupaten Kudus mayoritas merupakan pemeluk agama Hindu. Ajaran agama Hindu pada zaman dahulu dibawa masuk melalui jalur perdagangan melalui sungai sebagai media transportasi utama. Begitupun juga dengan masuknya ajaran agama Islam ini. Ajaran agama mulai perkembang dan disebarluaskan pemukiman-pemukiman penduduk (umumnya pedagang yang singgah) di sepanjang Sungai Gelis. Pertama-tama dibangun mushola, masjid, dan pondok pesantren disekitar wilayah tersebut. Selanjutnya ajaran agama Islam mulai diajarkan dan disebarluaskan melalui pendekatan budaya sehingga mudah diterima oleh masyarakat pada kala itu. Tujuannya adalah agar masyarakat tidak memandang Islam sebagai sesuatu ajaran yang ekstrem atau hal yang amat berbeda dan bersimpangan dengan apa yang mereka percayai sebelumnya. Pada kepercayaan Hindu, Sapi merupakan hewan yang suci. Oleh karena itu, sebagai bentuk toleransi antara pemeluk agama Islam dengan pemeluk agama Hindu pada kala itu sepakat untuk tidak memakan dan menyembelih sapi dan menggantinya dengan kerbau. Hal itu juga yang melatar belakangi isian Soto Kudus yang kita cintai hingga saat ini. Selain pada olahan makanan, toleransi antar umat agama Islam dan Hindu tercermin melalui bangunan Masjid Menara Kudus. Bangunan tersebut merupakan bangunan pusat dari penyebaran agama Islam dan situs makam Sunan Kudus. Bangunan yang berdiri megah tersebut terdiri dari bangunan masjid dan pura yang dibangun saling berdampingan. Bangunan tersebut merupakan symbol kerukunan antar umat beragama di Kabupaten Kudus. 

 

  39 Views    Likes  

banner
GAGAL SNMPTN! Ini yang harus Kamu lakukan

previous post

Sejarah Rafflesia arnoldii, Bunga Raksasa dari Bengkulu
GAGAL SNMPTN! Ini yang harus Kamu lakukan

next post

GAGAL SNMPTN! Ini yang harus Kamu lakukan

related posts